Leon tidak bisa tidur malam itu.
Kata janji terus berputar di kepalanya sejak Mama Reyta setengah sadar. Cara Pak Radian menatapnya. Cara semua orang berhenti bicara di titik yang sama.
Ada sesuatu yang disembunyikan.
Dan untuk pertama kalinya, Leon ingin tahu.
Ruang kerja Pak Radian sepi malam itu. Lampu meja menyala redup. Lemari arsip berdiri rapi, terlalu rapi untuk menyimpan hal yang bersih.
Leon membuka laci demi laci.
Dokumen lama. Laporan keuangan. Surat perjanjian.
Tangannya berhenti di satu map cokelat.
Perjanjian Internal — Rahasia
Jantung Leon berdetak lebih cepat.
Ia membukanya.
Tulisan formal. Bahasa hukum. Tanggal lama.
'Pihak Pertama: Radian Pihak Kedua: Reyta Dengan ini disepakati bahwa anak yang dilahirkan oleh Pihak Kedua akan menjadi tanggung jawab keluarga Narendra, tanpa pengakuan status biologis kepada publik. Sebagai gantinya, Pihak Kedua akan tetap bekerja di lingkungan perusahaan untuk memastikan keberadaan dan keselamatan anak tersebut.'
Leon membaca ulang.
Sekali.
Dua kali.
Tangannya mulai gemetar.
Halaman berikutnya.
'Pihak Kedua menyatakan bersedia tidak mengungkapkan status ibu kandung kepada siapa pun, termasuk kepada anak tersebut, demi keberlangsungan hidup dan masa depan anak.'
Leon menutup map itu pelan.
Dadanya sesak.
Anak itu… aku.
Ia duduk di kursi, napasnya tidak teratur.
Potongan-potongan kecil yang dulu terasa aneh… sekarang menyatu.
Kenapa Mama Reyta selalu ada, tapi selalu menjaga jarak.
Kenapa ia tidak pernah dipanggil “Mama”.