Adel tidak langsung tidur malam itu.
Setelah Leon keluar dari kamarnya, ia tetap duduk di ranjang dengan punggung bersandar ke dinding. Lampu masih redup, suasana masih sama, tapi rasanya berbeda. Kepalanya tidak lagi penuh suara. Justru sunyi.
Sunyi yang berat.
Ia memejamkan mata, mengingat pelukan Leon tadi. Bukan pelukan orang yang meminta. Tapi pelukan orang yang runtuh dan memilih jujur.
Itu yang membuatnya tidak mendorong.
Adel bangun pagi dengan mata sedikit sembab. Ia mandi lebih lama dari biasanya, lalu turun ke dapur. Kopi sudah diseduh.
Leon berdiri di dekat meja, masih memakai kaus rumah. Wajahnya terlihat lelah, tapi tenang.
“Kamu bangun,” kata Leon pelan.
“Iya,” jawab Adel.
Mereka berdiri canggung beberapa detik, lalu Adel duduk. Leon menuangkan kopi ke cangkir dan mendorongnya ke arah Adel.
“Pahit,” katanya. “Aku lupa gula.”
“Gapapa,” jawab Adel. “Aku lagi suka pahit.”
Leon tersenyum kecil. Tipis.
Mereka sarapan tanpa banyak bicara. Tapi tidak kaku. Hanya… pelan.
Leon beberapa kali melirik Adel, lalu kembali ke piringnya. Seperti ingin bicara, tapi memilih diam.
“Aku mau ke rumah sakit nanti siang,” kata Adel akhirnya.
Leon mengangguk. “Aku ikut.”
Adel menatapnya sebentar. “Kalau kamu mau.”
Leon mengangguk lagi. “Aku mau.”
Tidak ada embel-embel. Tidak ada alasan.
Di mobil, hujan turun rintik. Jalanan basah memantulkan cahaya lampu.
“Kamu nggak harus ngerasa bertanggung jawab ke aku,” ucap Adel tiba-tiba, matanya tetap ke depan.
Leon mengemudi dengan tenang. “Aku tahu.”
“Aku juga nggak mau jadi alasan kamu ngerasa bersalah,” lanjut Adel.
Leon menghela napas. “Aku nggak di sini karena itu.”
Adel menoleh. “Terus kenapa?”
Leon berpikir sebentar.