Ada perubahan kecil setelah malam itu.
Bukan perubahan besar yang langsung terasa oleh dunia luar, tapi perubahan yang cukup untuk menggeser cara mereka berdiri satu sama lain.
Lebih dekat.
Lebih tenang.
Dan tidak lagi penuh pertanyaan.
Pagi itu Adel bangun lebih awal dari biasanya. Ia turun ke dapur dengan rambut masih setengah basah. Leon sudah di sana, berdiri menghadap kompor, mengaduk sesuatu di wajan.
“Kamu masak?” tanya Adel, sedikit heran.
Leon menoleh. “Nyoba.”
Adel tertawa kecil. “Nyoba atau eksperimen?”
Leon ikut tertawa. “Dua-duanya.”
Adel mendekat, berdiri di samping Leon. Tanpa sadar, tangan Leon berpindah ke tangan Adel—menyentuh, lalu menggenggam pelan.
Tidak ada yang kaget.
Tidak ada yang menarik diri.
Adel menoleh sebentar, lalu membalas genggaman itu.
“Harusnya pakai api kecil,” kata Adel sambil menunjuk wajan.
Leon mengangguk. “Iya, Chef.”
Adel menggeleng sambil tersenyum.
Mereka sarapan bersama di meja makan kecil. Duduk berhadapan, tapi kaki mereka saling bersentuhan di bawah meja.
Leon menyadarinya. Adel juga.
Tidak ada yang memindahkan kaki.
Setelah sarapan, Adel bersiap ke kampus. Leon mengambil kunci mobil.
“Aku anter,” katanya.
Adel menoleh. “Kamu yakin nggak telat?”
Leon mengangkat bahu. “Aku bisa atur.”
Di mobil, Leon menyetir dengan satu tangan. Tangan lainnya diletakkan di konsol tengah. Adel menatapnya sebentar, lalu meletakkan tangannya di atas tangan Leon.
Leon menoleh, tersenyum kecil, lalu menggenggam jari Adel.
Lampu merah menyala.