Hari itu berjalan terlalu tenang untuk ukuran hidup yang belum selesai.
Adel dan Leon berangkat bersama seperti biasa. Tidak ada janji, tidak ada rencana besar. Hanya rutinitas yang terasa nyaman—pegangan tangan di mobil, senyum kecil di lampu merah, dan obrolan ringan yang tidak perlu dipanjangkan.
Terlalu nyaman.
Di rumah sakit, Adel datang lebih awal. Ia duduk di ruang tunggu sambil membuka ponsel, menunggu Leon yang parkir.
Seorang perawat menghampiri.
“Mbak Adel?” panggilnya.
“Iya.”
“Ada dokumen lama yang perlu ditandatangani keluarga. Tadi Pak Radian minta dititipkan ke Mbak.”
Adel menerima map tipis berwarna abu-abu. “Dokumen apa?”
“Catatan administrasi lama. Terkait perpindahan penanganan pasien,” jawab perawat itu singkat.
Adel mengangguk. “Terima kasih.”
Ia tidak membukanya saat itu.
Leon datang beberapa menit kemudian. Adel berdiri dan tersenyum.
“Kamu lama,” katanya.
“Parkiran penuh,” jawab Leon. Ia meraih tangan Adel otomatis, seperti sudah jadi kebiasaan.
Mereka masuk ke ruang rawat Mama Reyta. Kondisinya stabil. Tidak ada perubahan besar.
Leon duduk di sisi Adel, satu lengannya melingkar di bahu Adel. Adel bersandar, tenang.
“Capek?” tanya Leon pelan.
“Sedikit,” jawab Adel.
Leon mengecup rambut Adel singkat. Adel tidak menolak. Ia tersenyum kecil.
Setelah keluar ruangan, Adel teringat map abu-abu itu.
“Leon,” katanya. “Aku dikasih dokumen sama perawat. Katanya titipan Kakek.”
Leon menoleh. “Dokumen apa?”
“Nggak tahu. Katanya administrasi lama.”
Leon mengangguk. “Nanti aja dibaca di rumah.”
Adel mengangguk.
Malamnya, hujan turun deras. Rumah terasa hangat. Adel duduk di meja makan dengan map abu-abu terbuka, sekadar ingin memastikan isinya sebelum lupa.
Leon di dapur, menyiapkan minum.
“Leon,” panggil Adel pelan.
“Hm?” Leon menoleh sambil membawa dua gelas.