Because, I Love You

Shavrilla
Chapter #32

Bab 32 — Rumah yang Dipilih

Waktu tidak menghapus apa pun.

Ia hanya mengajarkan cara hidup berdampingan dengan kenangan—tanpa lagi merasa ditarik ke belakang.

Pagi itu, Adel berdiri di depan jendela studio kerjanya yang luas. Cahaya matahari masuk lembut, memantul di kain-kain yang tergantung rapi di rak. Sutra, katun, linen—semuanya tertata seperti cerita yang akhirnya menemukan bentuknya.

Di meja kerjanya, sketsa gaun-gaun terbaru terhampar. Garisnya tegas, siluetnya berani, tapi tetap lembut. Ciri khas Adel.

Label ADELLE kini bukan lagi mimpi kecil di kamar kos atau proyek kampus yang dikerjakan sambil begadang. Namanya mulai dikenal. Koleksinya dipakai di peragaan nasional, lalu perlahan menembus pasar internasional.

Tapi yang paling ia banggakan bukan pencapaian itu.

Melainkan ketenangan yang menyertainya.

Leon mengetuk pintu studio dua kali sebelum masuk.

“Kamu belum sarapan,” katanya sambil membawa dua cangkir kopi.

Adel menoleh dan tersenyum. “Kamu juga.”

Leon mendekat dan menyerahkan satu cangkir. Ia berdiri di belakang Adel, lalu memeluknya dari belakang—gerakan yang kini terasa alami, seperti napas.

“Koleksi baru?” tanya Leon sambil menunduk, dagunya menyentuh bahu Adel.

“Iya,” jawab Adel. “Terinspirasi dari perjalanan.”

Leon tersenyum kecil. “Perjalanan yang panjang.”

Adel menyandarkan kepalanya ke dada Leon. “Tapi akhirnya sampai.”

Leon mencium pelipis Adel singkat. Tidak terburu-buru. Tidak berisik.

Mereka tidak lagi merayakan kebahagiaan dengan ledakan emosi.

Mereka menjalaninya dengan tenang.

Leon juga menemukan jalannya sendiri.

Di perusahaannya, ia tidak lagi sekadar pewaris nama besar. Ia memimpin divisi dengan caranya—tegas, manusiawi, dan jujur. Keputusan-keputusannya tidak selalu mudah, tapi selalu ia ambil dengan kesadaran penuh.

Ia belajar satu hal penting dari masa lalu:

Kebenaran memang menyakitkan.

Tapi kebohongan jauh lebih mahal.

Dan Leon memilih hidup yang tidak menagih harga di belakang.

Undangan pernikahan mereka sederhana.

Tanpa kata-kata besar. Tanpa janji berlebihan.


Diana menerima undangan itu di ruang dokter tempat ia bekerja.

Ia membaca nama Adel dan Leon, lalu tersenyum kecil.

Bukan senyum pahit.

Bukan juga senyum nostalgia.

Senang.

Lihat selengkapnya