Becoming a Mother to Myself

aether.writes
Chapter #1

prolog

Jika kamu diberi kesempatan untuk mengubah masa lalu, hal apa yang ingin kamu rubah? Kalau aku, sepertinya tidak ada. Karena yang kuinginkan adalah terlahir kembali menjadi seseorang yang lain. Kembali ke masa lalu? Aku tidak berpikir ada hal yang bisa kurubah sehingga apa yang kualami sekarang bisa menjadi lebih baik.

Saat tiga tahun lalu Papa tidak bisa hadir di acara penganugerahan wisuda sekolah menengahku karena sibuk, aku awalnya kecewa. Tapi kemudian, Bella yang orang tuanya datang tapi terlihat menyedihkan karena mereka membuat keributan memalukan, aku pikir posisiku masih lebih baik. Dua tahun kemudian, saat aku tidak berhasil mengikuti seleksi penyaringan siswa teladan sekolah, aku juga sangat sedih sebab sudah berjuang lama untuk mendapatkannya namun sia-sia. Tapi jika dibandingkan dengan siswa lain yang bahkan untuk mendapatkan kesempatan mengikuti seleksi saja tidak ada, aku merasa diriku lebih baik lagi.

Ini juga berlaku untuk rasa sedihku karena tidak punya sosok ibu. Mamaku meninggal saat usiaku 5 tahun. Jangan tanyakan tentang kenangan apa yang teringat, bahkan ketika aku menatap wajahnya di foto aku sedikit merasa asing. Mungkin sekilas kita mirip, jadi hal ini yang membuatku menemukan keakraban di balik sedikit kata asing itu. Hal yang kadang juga membuatku rindu mama ketika bercermin menatap wajahku sendiri. Tapi ketika di luar sana ada yang bahkan tidak memiliki kedua orang tua, aku setidaknya bisa bersyukur.

Aku kadang berpikir, apa hidupku akan terus seperti ini? Membandingkan diri sendiri dengan seseorang yang lebih buruk daripada kita untuk merasa lebih baik. Tapi, aku tidak bisa bertahan tanpa itu.

Beberapa hari yang lalu, saat aku gagal masuk universitas yang aku inginkan, aku benar-benar tidak bisa menemukan perbandingan yang baik untuk membuatku tetap bersyukur ada di posisi ini. Hanya gagal masuk universitas? Masih banyak peluang yang bisa dicapai tanpa universitas. Tapi apa kau tau rasanya berada di titikku sekarang?

Aku benar-benar tidak tahu harus mulai dari mana. Rasa sakit dan kecewa yang kurasakan ini begitu mendalam, seperti luka yang tak kunjung sembuh. Sejak kecil, aku selalu bermimpi untuk bisa masuk ke universitas ternama untuk membuat papa bangga. Aku berjuang keras, belajar siang dan malam, mengikuti berbagai kursus tambahan, dan bahkan mengorbankan waktu bersama teman-teman demi satu tujuan: diterima di universitas impian.

Setiap pagi aku bangun dengan semangat dan harapan baru. Aku menghadapi setiap ujian dengan penuh keyakinan bahwa usaha keras ini akan terbayar. Aku membayangkan diriku berjalan di kampus yang megah, bertemu dengan dosen-dosen yang hebat, dan membangun jaringan dengan teman-teman baru. Aku juga membayangkan bagaimana Papa akan bangga padaku, menyebut namaku di sekitar teman dan bawahan kantornya, dan mungkin mulai memerhatikan keberadaanku.

Namun,

kenyataan ternyata tidak seindah yang aku bayangkan.

Semua usahaku terasa sia-sia.

Penerimaan pertama yang kuterima adalah penolakan. Hatiku hancur, tapi aku masih memiliki harapan karena ada beberapa universitas lain yang belum memberikan hasil. Aku terus berdoa, berharap, dan berusaha mengalihkan pikiranku dari ketakutan terbesar: gagal total. Tapi satu per satu, surat penolakan datang, menghancurkan harapan yang tersisa.

Lihat selengkapnya