Elara tidak pernah membayangkan bahwa tempat yang disebut "lokasi syuting" akan sepanas dan seramai ini.
Bukan ramai dalam arti banyak orang berbicara keras — justru sebaliknya. Semua orang bergerak dengan tujuan masing-masing, dengan kecepatan yang membuat Elara merasa seperti satu-satunya orang di ruangan itu yang tidak tahu harus ke mana. Kru berlalu-lalang membawa kabel dan lampu. Seseorang berteriak meminta properti yang belum datang. Seseorang lain membalas dengan nada yang sama tingginya dari arah yang berlawanan. Dan di tengah semua itu, Elara berdiri di dekat pintu masuk dengan tas di tangan, mencoba terlihat seperti orang yang sudah sering ke sini.
Sepertinya tidak berhasil.
"Aeri!"
Seseorang melambai dari ujung koridor. Perempuan dengan rambut pendek sebahu, senyumnya lebar dan tulus — tapi matanya, dari jarak sejauh itu, sudah menyelidik. Elara mengenalinya dari riset singkatnya semalam. Mina. Aktris senior yang sudah berkecimpung di industri ini sejak sebelum Hillaeri debut. Salah satu dari sedikit orang yang benar-benar dekat dengan Hillaeri asli.
Elara menarik napas pelan. Lalu tersenyum, melangkah ke arahnya.
"Sudah lama," kata Mina begitu Elara sampai di hadapannya. Dia memeluk Elara dengan cara yang natural — cara dua orang yang sudah lama tidak bertemu tapi tidak kehilangan kenyamanan satu sama lain. Elara membalas pelukannya. Mencoba mengukur seberapa erat. Tidak terlalu kaku, tidak terlalu berlebihan.
"Sudah lama," Elara mengulang.
Mina melepas pelukan itu dan menatapnya — tidak lama, tapi cukup. Matanya membaca sesuatu yang tidak diucapkan. "Kamu baik-baik saja?"
"Baik."
"Kamu terlihat berbeda."
Elara menahan diri untuk tidak menelan ludah terlalu kentara. "Istirahat panjang mengubah orang."
Mina tertawa kecil. Menerima jawaban itu — untuk sementara. "Ayo, sutradara sudah menunggu."
Mereka berjalan menelusuri koridor yang sempit. Mina berbicara tentang jadwal syuting, tentang lawan main utama yang katanya sangat profesional tapi sedikit dingin di luar set, tentang tim kostum yang menurut Mina terlalu perfeksionis dalam arti yang baik. Elara mendengarkan sambil memperhatikan sekelilingnya — mencatat, mengingat, mencoba memahami geografi tempat ini secepat mungkin.
Set utama ada di ruangan besar di ujung koridor. Ketika mereka masuk, Elara berhenti sebentar di ambang pintu.
Ruangan itu sudah ditata menjadi interior sebuah rumah — ruang tamu dengan furnitur yang dipilih dengan sangat spesifik, pencahayaan yang hangat tapi tetap terasa artifisial jika dilihat dari sudut yang salah. Beberapa kru sedang mengatur posisi kamera. Seorang perempuan dari tim kostum berjalan cepat melintas sambil membawa setumpuk baju di tangannya.
Dan di kursi sutradara, seorang laki-laki paruh baya dengan kacamata tebal sedang membaca naskah — tidak menoleh ketika mereka masuk.
"Pak Sutradara," Mina menyapa. "Aeri sudah datang."
Laki-laki itu menoleh. Menatap Elara dari atas kacamatanya. Tidak tersenyum, tidak juga tidak tersenyum — hanya membaca. Elara mengerti tipe orang seperti ini. Dia tidak peduli pada nama atau reputasi. Dia hanya peduli pada apa yang bisa dilakukan seseorang di dalam frame kameranya.
"Naskah sudah dibaca?"
"Sudah," jawab Elara. Yang itu tidak bohong — semalam dia membacanya tiga kali sampai kepalanya berat.
"Hari ini kita mulai dari adegan tiga." Dia mengangguk ke arah meja di sudut ruangan. "Briefing dulu dengan tim. Dua jam lagi kita mulai."
Elara mengangguk. Lalu mengikuti Mina ke meja itu.