Elara sudah di rumah sejak setengah jam lalu tapi pikirannya masih tertinggal di set.
Bukan karena sutradara, bukan karena Mina, bukan karena foto yang sekarang sudah menyebar ke mana-mana dengan kecepatan yang membuat Elara sedikit pusing setiap kali membuka handphone. Tapi karena adegan tiga — khususnya take keempat — masih memutar ulang dirinya sendiri di dalam kepalanya tanpa izin.
Dia tidak akting.
Itu yang membuatnya tidak tenang.
Seorang aktris yang tidak akting di depan kamera adalah seorang aktris yang sedang dalam masalah — atau sedang melakukan sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari akting biasa. Elara tidak yakin masuk kategori yang mana. Yang dia tahu hanyalah ketika Mina membuka kalimat pertamanya dan semua orang menunggu, yang keluar dari mulut Elara bukan respons karakter yang ada di naskah.
Yang keluar adalah dirinya sendiri.
Dan sutradara bilang bagus.
Elara tidak tahu harus merasa lega atau khawatir dengan itu.
Dia sedang duduk di sofa dengan handphone yang sudah dibalik menghadap bantal — supaya notifikasi tidak menggodanya — ketika suara pintu terbuka dan langkah kaki kecil yang sangat dia kenal masuk ke dalam rumah.
"Mama!"
Ara berlari masuk dengan tas sekolah yang talinya miring ke satu sisi dan sepatu yang sudah agak kotor di bagian ujungnya. Wajahnya memerah seperti habis berlari — atau habis melakukan sesuatu yang membutuhkan energi besar. Di belakangnya, Hector masuk dengan langkah yang lebih pelan, melepas jaket, mengangguk sekilas ke arah Elara dengan ekspresi yang tidak banyak bicara tapi cukup untuk dibaca sebagai hari yang panjang.
Elara membuka tangannya.
Ara langsung menabrakkan diri ke dalam pelukan itu dengan kecepatan yang hampir membuat Elara terjatuh dari sofa. Baunya seperti matahari dan debu — aroma anak kecil yang baru pulang dari tempat yang ramai.
"Pelan-pelan," kata Elara sambil menahan tubuh Ara yang masih bergerak-gerak tidak bisa diam. "Kamu habis lari?"
"Tidak." Ara melepas pelukan dan duduk di sebelah Elara dengan posisi yang tidak bisa disebut duduk — lebih ke setengah berbaring setengah bersandar dengan kaki yang menggantung di pinggir sofa. "Tapi tadi aku capek."
"Capek kenapa?"
Ara terdiam sebentar. Itu tidak biasa — biasanya gadis ini berbicara sebelum berpikir, bukan sebaliknya. Elara menunggu.
"Tadi di sekolah," Ara mulai, masih dengan nada yang lebih pelan dari biasanya, "ada yang jahat sama Dito."
"Dito temanmu?"
"Yang suka bawa bekal telur dadar itu." Ara mengangguk. "Dia didorong sama Raka. Raka bilang bekalnya bau."
Elara menahan diri untuk tidak langsung berkomentar. Dia menunggu.
"Aku marah," kata Ara. Kalimat itu keluar sederhana tapi ada sesuatu di dalam cara Ara mengucapkannya yang terasa lebih berat dari kalimat biasa anak lima tahun. "Aku bilang ke Raka untuk berhenti. Dengan keras."
"Dengan keras bagaimana?"
Ara menunjukkan dengan memperagakan — berdiri tegak di atas sofa, satu tangan di pinggang, suaranya turun satu oktaf yang terasa sangat lucu dari tubuh sekecil itu. "Hei. Berhenti. Itu tidak baik."