Naskah drama pendek di tangan Elara terasa seperti tumpukan kertas tanpa arti malam ini. Sudah hampir satu jam dia duduk bersandar di kepala ranjang, membolak-balik halaman yang sama, tetapi matanya menolak bekerja sama. Pikirannya macet. Gema ingatan tentang syuting pertamanya, tentang bagaimana mata Mina mendadak berubah di tengah-tengah take keempat, masih berputar-putar di kepalanya tanpa izin.
“Kamu terlihat berbeda,” kalimat Mina siang tadi kembali berbisik.
Elara menghela napas panjang. Dia meletakkan naskah itu ke atas nakas dengan agak kasar, lalu melirik handphone-nya yang senggang. Tidak ada notifikasi baru, sengaja dia matikan suaranya agar tidak tergoda membaca analisis panjang netizen yang bermunculan di internet sejak variety show episode terbaru tayang.
Alih-alih meraih ponsel, tangan Elara justru bergerak ke arah laci nakas yang paling bawah. Ada sesuatu di sana yang sejak kemarin memanggilnya dengan cara yang sunyi—buku bersampul tebal menyerupai novel yang sebenarnya adalah diari tulisan tangan ibunya.
Dia menarik buku itu keluar, meraba sampulnya yang halus. Dengan hati-hati, Elara membuka halaman demi halaman, mencari bagian di mana terakhir kali dia berhenti membaca. Aroma kertas lama yang khas langsung menyeruak, membawa tulisan tangan Hillaeri yang rapi dan tegas kembali hidup di bawah temaram lampu kamar.
Hari ini Hector mengantar aku pulang lewat pintu belakang lagi.
Bukan karena aku yang minta. Dia yang usul—katanya kalau lewat depan, Mama pasti sudah menunggu dengan rentetan omelan, dan dia tidak mau aku harus langsung masuk ke dalam suasana rumah yang seberat itu begitu sampai. Jadi, kami memutar jauh. Melewati gang belakang yang salah satu lampu jalannya sudah mati, yang baunya selalu berubah menjadi aroma tanah basah sehabis hujan.
Aku tidak protes. Kami berjalan pelan-pelan. Hampir tidak ada obrolan berarti. Tapi entah kenapa, gang gelap yang bau tanah itu justru menjadi bagian terbaik dari hariku.
Elara menghentikan jarinya di atas permukaan kertas. Matanya terpaku pada satu nama: Hector.
Papanya. Laki-laki yang sepanjang ingatan Elara selalu menjadi sosok yang kaku, dingin, dan lebih sering memperlihatkan punggungnya yang bergerak menjauh setiap pagi sebelum Elara terbangun. Laki-laki yang jarang bertanya tentang harinya, yang hanya tahu cara bekerja dan bekerja demi apa yang selalu dia sebut sebagai "masa depan".