Becoming a Mother to Myself

aether.writes
Chapter #16

15. Variety Show Episode Kedua

Suara deru mobil tim produksi yang berjarak di depan rumah sudah terdengar sejak pukul tujuh pagi. Kedatangan mereka yang lebih awal dari jadwal sukses membuat dapur menjadi zona sibuk dadakan. Elara harus bergerak cepat memastikan Ara sudah mandi dan menyelesaikan sarapannya sebelum lensa kamera mulai membidik setiap sudut ruangan.

Membangunkan anak berusia lima tahun di pagi buta jelas bukan perkara mudah, terutama karena energi Ara di pagi hari bergerak berbanding terbalik dengan keaktifannya di siang hari.

"Ara, bangun, Sayang," bisik Elara pelan sambil mengguncang bahu mungil itu.

"Hmm... masih ngantuk, Mama," gumam Ara dengan mata yang masih terpejam rapat.

Elara tersenyum kecil, lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Ara. "Kru kameranya sudah datang di depan, lho."

Ajaib. Hanya butuh satu detik keheningan sebelum Ara langsung duduk tegak di ranjangnya. Matanya masih setengah terpejam dan rambutnya mencuat ke segala arah, tetapi tubuhnya sudah berada dalam mode siaga. Elara menahan tawa dalam hati. Ternyata kata 'kamera' jauh lebih efektif ketimbang alarm merek mana pun.

Proses mandi dan berpakaian berlangsung kilat. Ara bahkan sama sekali tidak melayangkan protes saat Elara memilihkan kaus polos sederhana untuk dipakainya hari ini—padahal biasanya, urusan memilih baju bisa berujung pada negosiasi panjang yang melelahkan tentang motif kuda poni favoritnya.

"Kamu mau kelihatan kayak gimana hari ini di depan kamera?" tanya Elara sambil mengancingkan bagian depan baju Ara.

"Mau kelihatan cantik," jawab Ara dengan wajah serius yang menggemaskan.

"Untuk siapa?"

Ara terdiam sejenak, menimbang jawabannya dengan sungguh-sungguh. "Untuk semua orang yang nonton!"

Elara terkekeh sambil menepuk pelan puncak kepala anaknya. "Kalau begitu, sarapan dulu baru bisa cantik."

"Bisa kok cantik sambil sarapan," sahut Ara cepat, tak mau kalah.

Tepat pukul delapan lewat sedikit, siaran langsung episode kedua resmi dimulai. Angka penonton yang tertera di layar monitor kru langsung melonjak tajam sejak menit-menit pertama—sebuah efek domino dari foto behind-the-scene yang sempat viral di internet tadi malam. Banyak orang datang karena penasaran, ingin membuktikan sendiri apakah pesona "Aeri versi baru" ini memang senyata yang dibicarakan di media sosial.

Namun, Elara memilih mengabaikan eksistensi angka-angka digital itu. Fokusnya sepenuhnya terbagi antara merapikan meja dapur dan mengawasi Ara yang sedang menyantap sarapannya dengan ritme yang luar biasa santai.

Ara makan sambil terus mengoceh tanpa henti. Mulai dari mimpinya semalam tentang seekor naga biru yang baik hati, temannya di sekolah yang membawa permen rasa durian yang aneh, hingga sepatu barunya yang sedikit kebesaran tetapi tetap ingin dia pakai karena warnanya yang mencolok. Elara mendengarkan semuanya dengan sabar, sesekali menyahut sembari mengingatkan agar Ara mengunyah nasinya, bukan cuma mengaduk-ngaduk piringnya.

Sekitar jam sepuluh siang, setelah mangkuk sarapannya bersih, energi Ara kembali terisi penuh. Anak itu mulai berlari ke sana kemari, memindahkan mainan dari ruang tengah ke kamarnya, lalu kembali lagi membawa benda lain.

"Mama, aku mau main apa?" tanya Ara sambil berdiri di depan sofa.

"Kamu yang pilih sendiri, dong," sahut Elara.

"Tapi aku bingung."

Lihat selengkapnya