Undangan makan siang itu datang melalui pesan singkat, tepat tiga hari setelah hari pertama syuting berakhir.
Aeri, besok ada waktu? Aku traktir. Tempat biasa.
Elara membaca baris teks itu hingga dua kali, menatap layar ponselnya dengan debaran janggal yang mendadak muncul di dada. Tempat biasa. Dua kata yang terdengar begitu kasual bagi Mina, tetapi berubah menjadi rintangan berbahaya bagi Elara. Dia tidak tahu di mana tempat itu, menu apa yang sering mereka pesan, atau sedalam apa kedekatan yang biasanya melandasi percakapan mereka.
Sambil menahan kegugupan, jemarinya mengetik balasan datar.
Bisa. Jam berapa?
Singkat dan aman. Elara sengaja tidak mengajukan pertanyaan tambahan agar tidak memicu kecurigaan.
Balasan Mina datang semenit kemudian: Jam 12. Aku jemput.
Elara meletakkan ponselnya ke atas kasur, lalu menatap langit-langit kamar dengan pikiran yang mulai berputar. Menolak tentu bukan pilihan. Iseng, dia membuka kembali ponselnya, mengetikkan nama 'Hillaeri dan Mina' di mesin pencari, berharap ada rekam jejak digital yang bisa membantunya.
Hasilnya nihil. Hanya ada beberapa foto buram dari akun penggemar lama yang menampilkan mereka berdua di depan berbagai kedai makanan. Elara tidak menyerah; dia memperbesar foto-foto itu satu per satu, mengamati detail papan nama atau refleksi kaca di latar belakang.
Hingga matanya tertangkap pada satu foto sederhana. Hillaeri dan Mina tampak tertawa lepas di depan sebuah kedai kayu kecil yang bersahaja. Di sudut kaca kedai itu, ada potongan huruf yang sebagian tertutup oleh lengan Mina: ..MI SO...
Masakan Jepang, kemungkinan. Setidaknya, Elara punya satu petunjuk modal untuk berjaga-jaga.
Keesokan harinya, tepat pukul dua belas kurang sepuluh menit, sebuah mobil sedan hitam yang tidak mencolok berhenti di depan gerbang. Mina turun dengan kacamata hitam dan senyum yang langsung mengembang begitu Elara membuka pintu rumah.
Di ruang tamu, Ara sedang tenggelam dengan dunia krayonnya di lantai. Melihat kedatangan Mina, anak itu langsung mendongak kegirangan dan memamerkan kertas gambarnya tanpa ragu.
"Ini gambar apa, Ara?" tanya Mina ramah sembari berjongkok di sebelah Ara.
"Naga!" sahut Ara bangga.
Mina mengamati guratan krayon itu dengan saksama. "Kenapa naganya warna biru?"
"Soalnya naga yang ini baik. Kalau naga yang jahat itu warnanya merah," jawab Ara dengan logika polosnya.
Mina tertawa kecil, mengangguk setuju. "Logis sekali."
Ara tampak puas, menganggap anggukan Mina sebagai validasi tertinggi bahwa teori warnanya sudah benar. Dari ambang pintu, Elara menyaksikan interaksi itu dengan perasaan hangat yang bercampur cemas. Mina adalah aktris senior yang mengenal Hillaeri luar-dalam. Meski wanita itu sedang menanggapi Ara, Elara bisa merasakan sepasang mata tajam di balik kacamata hitam itu sesekali bergerak ke arahnya—membaca, mencatat, dan menilai setiap gerak-geriknya.
"Yuk," cetus Mina sambil berdiri kembali. "Aku sudah pesan tempat."
'Tempat biasa' yang dimaksud Mina rupanya tersembunyi di sebuah gang sepi yang jauh dari pusat keramaian kota. Sebuah kedai kecil berbahan kayu usang yang hangat, dengan menu yang ditulis tangan menggunakan kapur di papan hitam dindingnya. Tidak ada plang nama yang mencolok di luar, hanya guratan huruf kanji kecil di sudut kaca: Yoshida.
Bukan kedai bernama 'Miso', tetapi aroma kuah miso yang gurih langsung menyambut mereka begitu pintu digeser.
Mina melangkah mantap menuju meja sudut—spot yang tampaknya sudah menjadi hak paten mereka sejak lama karena Mina langsung duduk tanpa perlu memilah opsi lain. Tak berselang lama, seorang pelayan paruh baya datang tanpa membawa buku menu.
"Seperti biasa?" tanya si pelayan akrab.
Mina mengangguk cepat, lalu pandangannya beralih pada Elara.
"Seperti biasa juga, Nona Aeri?" pelayan itu berganti bertanya padanya.