Becoming a Mother to Myself

aether.writes
Chapter #18

17. Variety Show Episode Ketiga: Momen yang Tidak Terduga

Elara sama sekali tidak berencana untuk membicarakan hal itu. Sama sekali tidak.

Pagi itu, jadwal syuting terasa sangat sederhana. Tidak ada agenda khusus di dalam rundown, tidak ada segmen menuntut yang mengharuskan mereka memeras emosi secara berlebihan. Tim produksi bahkan sempat berbisik saat briefing singkat sebelum kamera mulai rolling, meminta Elara untuk membiarkan semuanya mengalir santai. Penonton sudah telanjur jatuh cinta pada ritme kasual mereka, jadi tidak ada yang perlu dipaksakan.

Namun, Elara lupa memperhitungkan satu hal: rasa ingin tahu Ara yang tak tertebak.

Siaran langsung dimulai tepat pukul delapan lewat dua puluh menit. Rutinitas pagi berlangsung manis; dimulai dengan adegan sarapan bersama, lalu Ara meminta izin dengan gaya misterius yang menggemaskan untuk menelepon Kian lewat ponsel Elara. Sambil memegangi gagang telepon, Ara berbisik keras—jenis bisikan anak kecil yang justru terdengar ke seluruh penjuru ruangan—meminta Kian untuk membawakan bunga dan cokelat sebagai hadiah kejutan untuk Mamanya. Di sudut ruangan, kru kamera hanya bisa menahan senyum demi menjaga profesionalisme.

Memasuki waktu siang, setelah aroma sup hangat memenuhi dapur dan makan siang mereka selesai, Ara menyeret sebuah kotak mainan baru ke tengah ruang tengah. Sebuah puzzle besar bergambar pemandangan hutan luas yang baru dibeli minggu lalu.

"Ini susah banget, Mama," keluh Ara setelah lima menit mencoba mencocokkan dua kepingan yang salah. Potongan-potongan itu didominasi warna hijau daun yang hampir serupa satu sama lain.

"Memang susah," sahut Elara sembari ikut duduk bersila di atas karpet bulu, memilah potongan pembatas.

"Kenapa kita belinya yang susah?" Ara cemberut, menatap tumpukan kepingan kayu kecil di hadapannya dengan frustrasi.

"Supaya Ara bisa belajar sabar," jawab Elara lembut.

Ara terdiam, menimbang kepingan di tangannya lekat-lekat sebelum mendongak menatap Elara. "Mama juga lagi belajar sabar?"

"Iya, Mama juga sedang belajar," Elara tersenyum tipis.

Keheningan yang nyaman kemudian merayap di antara mereka. Jenis keheningan yang hanya bisa tercipta di antara dua orang yang sudah saling terikat, di mana jeda tidak perlu buru-buru diisi oleh suara. Ara mencoba sepotong kepingan, gagal, meletakkannya kembali, lalu mengambil yang lain. Elara menemaninya dengan telaten.

Lihat selengkapnya