Elara menemukan bagian itu di satu malam yang sebenarnya tidak dia rencanakan untuk membaca apa pun.
Tubuhnya sudah kelelahan sejak sore, tepat setelah kru Life Unfiltered mengemas peralatan mereka dan atmosfer riuh dari segmen puzzle siang tadi perlahan surut menjadi rasa letih yang membekas. Sesuai rencana awal, dia hanya ingin mematikan lampu tidur lebih awal dan membiarkan otaknya beristirahat. Namun, saat tubuhnya sudah berbaring telentang di bawah selimut, tangannya bergerak sendiri ke arah laci nakas—sebuah gerakan refleks tanpa konsultasi pikiran yang menuntun jemarinya kembali menyentuh jilid tebal bersampul novel itu.
Elara menyalakan kembali lampu tidur kecil di sudut ranjang. Dia membuka lembar kertas yang sudah menguning di ujungnya, meneruskan baris kalimat yang sempat tertunda.
Hari ini adikku lahir.
Laki-laki, beratnya tiga kilo lebih. Aku bisa mendengar suara tangis Mama tiri yang pecah dari dalam ruang bersalin. Begitu dokter memberikan izin masuk, Papa langsung melangkah terburu-buru, melupakan eksistensiku yang duduk membeku di atas kursi plastik koridor rumah sakit selama hampir dua jam. Aku menunggu seseorang keluar untuk memanggilku, memberi tahu bahwa aku juga boleh melihat adik baruku.
Tapi tidak ada yang keluar. Bukan karena mereka jahat dan sengaja menyingkirkanku, melainkan karena mereka benar-benar lupa. Dan entah kenapa, dilupakan karena orang lain terlalu bahagia terasa jauh lebih menyakitkan ketimbang sengaja diabaikan. Akhirnya aku memberanikan diri masuk, mengetuk pintu pelan, lalu mengucapkan selamat melihat Papa tersenyum lebar sembari mendekap bayi merah itu. Senyumnya sudah penuh, tidak tersisa ruang untukku.
Aku berdiri di sana sebentar, lalu pamit pulang. Di dalam taksi menuju rumah, aku tidak menangis. Aku hanya menatap jalanan yang bergerak di balik jendela dan berpikir: jadi, begini rasanya tidak kebagian kursi di tengah keluargamu sendiri. Semuanya terjadi begitu efisien, tanpa drama besar, membuatmu sadar secara mandiri bahwa kamu tidak lagi masuk dalam hitungan prioritas mereka.
Elara menghentikan bacaannya, mendekapkan buku itu di atas dadanya sembari menatap langit-langit kamar yang temaram. Tidak ada kursi yang tersisa untukmu. Kalimat itu bergaung hebat di kepalanya. Dia tahu persis rasa hampa yang digambarkan Hillaeri. Rasa sunyi saat berada di tengah ruangan yang ramai, di mana semua orang menganggapmu baik-baik saja hanya karena kamu tidak berteriak meminta perhatian.
Dia mengembuskan napas berat, lalu kembali membalik halaman.