Minggat.
Satu kata yang tidak pernah terlintas di pikiran maupun benak Rayi; satu kata yang bahkan belum pernah terucap dari bibirnya; satu kata yang muncul tiba-tiba serupa kilat yang menyambar dalam gemuruh amarah yang menyesakkan batinnya. Satu kata yang membuat Rayi mengambil keputusan tanpa perlu berpikir dan hanya mengikuti kehendak emosi.
Rayi berjalan tergesa melewati halaman sembari menyeret koper dan keluar lewat celah selebar dua meter di antara pagar tanaman daun beluntas. Baru sekitar lima langkah menyusuri jalan beraspal, ia mendongak menatap semburat warna oranye di ufuk barat.
Mendadak ia mengerem langkah.
Langit tampak serupa kanvas besar yang ketumpahan cat warna oranye yang tanpa sengaja tersenggol sang pelukis. Senja yang disinari bercak-bercak oranye mencerahkan langit yang biasanya sudah redup menjelang petang. Gunung Lawu berdiri kokoh dan megah sebagai latar belakang menyempurnakan lukisan alam menjadi satu keindahan yang mengantarkan matahari kembali ke peraduan.
Indah.
Juga mistis.
“Candik ala,” gumam Rayi mengeratkan genggamannya pada pegangan koper.
Perasaan ngeri perlahan merayapi hatinya. Candikala yang di lidah orang Jawa sering disebut candik ala telah menjadi semacam cerita misteri turun-temurun yang membuat para orangtua di Desa Loh Jinawi yang terletak di kaki Gunung Lawu selalu melarang anak-anak berada di luar rumah. Sebagian orangtua bahkan segera menutup pintu dan jendela rapat-rapat begitu candik ala muncul menjelang petang. Mungkin khawatir kalau rasa penasaran dan ingin tahu yang biasanya menguasai jiwa bocah-bocah mendorong mereka nekat memberontak dengan menyelinap diam-diam untuk keluar rumah. Tentu saja Rayi tidak termasuk anak-anak yang merasa penasaran dan nekat melawan perintah orangtua. Mak Tun, ibunya, sudah ratusan kali mengulang cerita tentang bahaya yang mengancam di luar rumah saat candik ala: saat yang diyakini sebagai waktu para setan, jin, iblis, hantu, demit, dan makhluk-makhluk tak kasat mata mulai keluar dan berkeliaran dari tempat tinggalnya yang entah di mana.
Rayi masih mencengkeram erat pegangan koper dan menoleh ke kiri, kemudian kepalanya bergerak perlahan menoleh ke kanan dengan rasa ngeri campur waswas yang merambati dadanya. Cerita Mak Tun terus menggema di telinganya dan bayangan-banyangan mengerikan makhluk-makhluk yang beterbangan sambil menyeringai dan tertawa memperlihatkaan gigi taring seolah berseliweran di sekelilingnya. Rayi langsung memutar badan dan melangkah, tapi baru satu ayunan kaki kanan, mendadak kaki kirinya terasa berat untuk digerakkan. Rasa takut mendorongnya untuk segera berlari kembali ke rumah. Namun, emosi yang masih menggelegak di hati mengirimkan sinyal untuk tetap diam di tempat.
Ia menghela napas panjang.
Sesaat, terbayang kembali pertengkaran demi pertengkaran selama sebulan terakhir dalam rumah tangganya. Handoko, suami yang selama ini selalu menuruti apa pun kemauannya, berubah menjadi sosok yang berbeda dan terus mendebatnya. Sore ini adalah puncak dari semua keributan mereka berdua dan Rayi memutuskan untuk angkat kaki dari rumah kontrakan dan pulang ke rumah orangtuanya.