Selama enam tahun menjalin hubungan dengan Rayi-tiga tahun masa pacaran dan tiga tahun menikah-belum pernah Handoko merasa semarah ini. Kesabaran dan kedewasaan adalah salah satu senjata ampuh untuk menakhlukkan hati perempuan yang lebih muda enam tahun darinya dan telah membuatnya merasakan getaran cinta untuk pertama kali.
Ia mengenalnya sejak masih kecil karena rumah orangtua mereka bertetangga. Rumah orangtua Rayi terletak lima rumah di sebelah kiri rumah orangtuanya. Rayi juga teman sepermainan sekaligus teman sekolah dari TK sampai SMA dengan Handayani, adik bungsu Handoko. Bisa dibilang ia sudah menaruh hati sejak Rayi masih duduk di bangku SMP dan ia baru berani mengungkapkan perasaannya saat Rayi duduk di kelas satu SMA. Itu pun awalnya ia minta izin lebih dulu pada orangtua Rayi dan diizinkan dengan senang hati sekaligus diberi restu dan dititipi untuk menjaganya. Handoko langsung menikahinya begitu lulus SMA. Walaupun awalnya tidak ingin buru-buru menikah, tetapi ada satu alasan kuat yang mendorongnya untuk mengambil keputusan menikahi Rayi secepatnya. Toh, ia sudah punya pekerjaan tetap menjadi sopir di toko bangunan KOKOH. Toko yang cukup besar dan satu-satunya toko bangunan yang ada di Desa Loh Jinawi. Seringkali ia juga mendapat tambahan penghasilan yang cukup lumayan saat disewa menjadi sopir carteran ke luar kota.
Handoko anak sulung dari tiga bersaudara. Sebelum menikah, penghasilannya sebagai sopir selepas lulus SMK, sebagian digunakan untuk membantu menyekolahkan dua adiknya, dan sebagian lagi bisa disisihkan untuk tabungan sebagai bekal berumahtangga. Tugasnya untuk membantu meringankan beban orangtua sudah selesai begitu adik bungsunya yang seangkatan dengan Rayi, langsung bekerja di sebuah pabrik kertas di Surabaya begitu lulus SMA.
Seingatnya, selama ia mulai menjalin hubungan dengan Rayi tidak pernah sekali pun terjadi pertengkaran yang sampai menyulut emosi. Bisa dibilang hubungan mereka selama ini relatif lancar, aman, nyaman, dan bahagia.
Adem-ayem.
Kalaupun ada perselisihan, itu hanya masalah remeh-temeh dan selalu bisa diselesaikan dengan tenang dalam tempo sesingkat-singkatnya. Mungkin karena kombinasi anak sulung berjodoh dengan anak bungsu; meskipun Rayi anak tunggal dan bisa dibilang sebagai anak sulung sekaligus anak bungsu dan dari karakternya, Rayi lebih cocok jadi anak bungsu. Orang Jawa bilang, tumbu entuk tutup. Pasangan yang saling melengkapi. Klop. Cocok. Anak sulung yang biasa menjaga adik-adiknya, berpasangan dengan anak bungsu yang biasa bermanja-manja pada orangtua dan kakak-kakaknya. Handoko selalu bisa mengalah menghadapi sikap dan tingkah laku Rayi yang biasa dimanjakan sebagai anak tunggal.
Akhir-akhir ini, saat sedang sendiri, Handoko sering merenung memikirkan pertengkaran-pertengkaran dengan Rayi. Apa mungkin keributan rumah tangganya karena kena imbas panasnya suasana Desa Loh Jinawi menjelang pemilihan kepala desa? Suasana desa jadi terasa tidak nyaman; banyak hubungan pertemanan, persaudaraan, per-tetanggaan yang dipertaruhkan demi memilih kepala desa yang baru nanti. Kondisi yang tidak pernah terbayangkan sama sekali di kepala Handoko: Rayi yang selama ini selalu bersikap manis, manja, tidak neko-neko, dan selalu ikut apa kata suaminya dalam mengambil keputusan penting, jadi berani menentang dan teguh dengan pendiriannya. Tentu saja Handoko jadi terkaget-kaget dengan perubahan karakter istrinya.
Sebenarnya, semua ketegangan ini berawal dari perbedaan dukungan pada calon kepala desa. Seperti warga desa yang lain, Handoko dan Rayi sering saling menggunggulkan pilihan masing-masing dan memicu perdebatan demi perdebatan tiada henti dan puncaknya terjadi pada sore ini. Rayi yang terbakar emosi memutuskan minggat dari rumah dan Handoko yang dikuasai amarah membiarkannya dan tidak ingin menahannya.
Laki-laki pendiam yang terbiasa mengalah itu hanya diam menatap Rayi yang dengan gerakan serabutan mengambil pakaian dari lemari dan menjejal-jejalkannya ke dalam koper sambil mengomel, “Salahnya di mana, sih… aku cuma masang poster Mas Abi… ya wajar, toh? Aku memang mendukung Mas Abi!”
Salahnya… karena itu poster Abi! Handoko ingin melontarkan kata-kata itu. Tidak, ia ingin meneriakkannya. Tetapi yang kata-kata yang keluar dari bibirnya berbeda, “Nggak harus dipasang di kamar tidur, kan, Yi?”
Rayi langsung menoleh dan bertanya, “Nggak boleh masang poster di kamar?”
“Itu poster laki-laki!”
“Hah?” Rayi menelengkan kepala memandang Handoko dengan kening berlipat. “Poster laki-laki? Lah, memangnya ada calon kepala desa perempuan?”