Beda Suara

Netty Amidjojo
Chapter #3

Koper Eliminasi

Matur nuwun ya, Le…” 

Setelah mengucapkan terima kasih dan melambaikan tangan pada Rehan yang telah berbaik hati memberi tumpangan, Rayi bergegas melintasi halaman. Ia menaiki dua undakan menuju teras dan langkahnya terhenti di depan pintu. Biasanya, setiap pulang ke rumah masa kecilnya ini, ia akan langsung membuka pintu dan masuk ke rumah sambil berteriak mencari Mak Tun. Tetapi sore ini berbeda. Entah mengapa, ia hanya berdiri kaku di depan pintu dengan tangan kirinya menggenggam erat pegangan koper. Perlahan tangan kanan terangkat sampai di dekat telinga dan jemarinya mengepal siap mengetuk pintu dan tiba-tiba terhenti.

Bimbang. 

Tangannya mulai gemetar karena tanpa sadar ia mengeratkan kepalannya erat-erat dan sebentar kemudian tangan yang mengepal erat itu jatuh lunglai di samping tubuhnya. 

Mendadak Rayi berbalik dan mulai melangkah. Baru berjalan dua langkah, ia berhenti dan berdiri kaku sambil memejamkan mata dan menggeleng-geleng. Tak berapa lama ia memutuskan balik badan dan kembali berjalan menuju pintu.

Rasa bimbang terus menggelayuti hatinya dan memunculkan dua pilihan. Pilihan pertama, ia akan mengetuk pintu dan bersikap seperti biasa kalau datang untuk menengok Mak Tun dan bilang kalau mau menginap entah sampai kapan. Pilihan kedua, ia harus segera balik badan sebelum ketahuan dan secepatnya kembali ke rumah kontrakan. Masalahnya, dua pilihan itu sama-sama terasa berat. Kalau memilih pilihan pertama, Rayi bingung bagaimana memberikan alasan kenapa tiba-tiba pulang tanpa diantar Handoko. Karena setelah menikah, setiap pulang ke rumah ini mereka selalu berdua. Apalagi Rayi tidak bisa memikirkan alibi yang tepat karena Mak Tun seolah punya kemampuan khusus untuk mendeteksi kalau anak perempuannya berbohong. Rayi tidak pandai atau bahkan tidak bisa berbohong di depan emaknya. Sedangkan pilihan kedua, kalau harus putar balik kembali ke rumah kontrakan, ia masih kesal dan marah dan tidak ingin bertemu Handoko.

Rayi terus terpaku menatap pintu yang warna cokelatnya terlihat kusam dan ada bekas coretan-coretan pensil yang dibuatnya saat masih belajar menulis. Ia sudah meminta Mak Tun untuk mengecat ulang pintu depan ini supaya terlihat lebih bersih. Bahkan Handoko pernah berniat untuk membelikan pintu baru, tetapi selalu ditolak. Mak Tun selalu beralasan kalau coretan-coretan itu untuk kenang-kenangan sekaligus obat kangen karena Rayi meninggalkan rumah setelah menikah. Rayi sendiri sempat ngeyel kalau masalah kangen, bukankah rumah kontrakannya hanya berjarak sekitar tiga kilometer dari sini. Apalagi ia dan suaminya masih sering menengok Mak Tun minimal seminggu sekali meskipun memang jarang menginap. Tapi yang namanya orangtua, kalau sudah punya kemauan memang sulit untuk dilunakkan dan diberi pengertian. 

Setelah mengembuskan napas panjang, tangan kanannya kembali terangkat, tetapi berhenti lagi saat hampir menyentuh pintu. Dengan cepat ia menarik kembali tangannya dan perlahan menurunkannya di samping badan. Matanya terpejam dengan kedua ujung alis menyatu di atas puncak hidung. Rayi berusaha keras mengumpulkan keberanian supaya bisa segera mengambil keputusan: mengetuk pintu atau balik badan. 

Ketika matanya terbuka, tangan kanannya bergerak cepat, terangkat, dan meskipun sudah bertekat sekuat tenaga untuk segera mengetuk pintu, tangannya kembali terhenti di samping kepala. Seperti ada kekuatan besar yang menahan tangannya tetap dalam posisinya saat ini. Rayi memindahkan berat badan bergantian dari kaki kiri ke kaki kanan. Ia baru saja menarik napas panjang dan memejamkan mata ketika tiba-tiba pintu dibuka dari dalam.

Sambil terlonjak kaget, mata Rayi langsung terbuka dan tanpa sadar mengacungkan genggaman tangan ke atas dan satu kata meluncur begitu saja dari bibirnya dengan suara keras, “Merdeka!”

Tak kalah kagetnya, Mak Tun terlonjak dan membalas dengan teriakan yang sama, “Merdeka!”

Mak Tun masih memegang kenop pintu dengan mata terbelalak. Ia terus menatap anak semata wayangnya yang mengenakan daster batik berdiri seperti patung dengan tangan kiri memegang koper dan tangan kanan terangkat di samping kepala. Perempuan berumur lima puluh lima tahun itu mengambil napas panjang sambil mengusap-usap dada. “Jabang bayiii… ngagetin aja!”

Tatapan Mak Tun segera tertuju pada koper troli kuning. Seraya menelengkan kepala dengan kening berkerut, Mak Tun menatap anak perempuannya dan bertanya, “Kamu dieliminasi, Yi?”

Bibir Rayi langsung mengerucut.

Lihat selengkapnya