Before the Silence

Renja Permana
Chapter #14

Chapter 14

Langit berwarna ungu gelap kemerahan bagaikan kilatan petir yang keluar dari awan badai. Aku duduk di Café Kawisari yang tidak seperti yang aku ingat. Gedung-gedung disekitarnya tampak melengkung seperti tertarik oleh garis waktu. Tak ada aroma kopi, tak ada suara musik, tak ada pegawai yang sibuk. Meja dan kursi tersusun—seperti panggung yang disiapkan, bukan untuk hidup, tapi untuk pertunjukan.        

Cahaya di dalam temaram, bergoyang-goyang seperti pantulan air.

Lalu aku melihatnya.

Dila.

Tapi…bukan. Bukan Dila yang aku kenal.

Dia berdiri mematung di sisi meja. Rambutnya tergerai, wajahnya pucat seperti porselen, dan matanya…kosong. Tatapannya seperti menembusku. Gerakannya patah-patah—seolah dia digerakan oleh benang yang tak kasat mata.

Langkahnya terhuyung, seperti boneka rusak yang dipaksa menari.

“Dila?” tanyaku pelan. Suaraku aneh. Seperti bukan keluar dari mulutku, tapi dari luar kepalaku.

Dila menoleh—pelan, tidak wajar, dengan leher yang berputar seperti engsel pintu tua. Bibirnya bergerak, tapi tak selaras dengan suara yang terdengar.

“Menjadi nyata itu menyakitkan…” ucapnya datar dan lambat.

“Apa…maksudmu?”

Ia melangkah mendapat. Langkahnya tanpa bunyi. Melewati kursi dan meja seolah tubuhnya bisa menembus dunia ini.

"Kita hanya mainan dari ingatan yang saling menyakiti,” katanya lagi. “Lebih baik menghilang saja. Kita bisa membangun dunia baru. Dunia yang tidak menyakitimu. Di dalam kepalamu.”

Tangannya terangkat. Jemarinya menyentuh dadaku—dan masuk. Menembus. Tanpa rasa.

Aku mematung. Mataku membelalak saat melihatnya menarik sesuatu dari tubuhku.

Jantungku.

Berdenyut pelan. Tapi alih-alih darah…cairan hitam mengalir darinya. Kental. Seperti tinta yang tumpah. Mengotori tangan Dila.

“Kamu gak butuh ini,” katanya. “Kamu cuma ilusi.”

Aku mundur selangkah, mulutku terbuka—ingin bicara, ingin memprotes, tapi tidak ada suara.

Dila tersenyum. Bibirnya merekah aneh. Terlalu lebar, seperti bukan manusia.

Dan kemudian…suaranya berubah.

Dila berbicara dengan suara yang dibalik. Terbalik. Seperti kaset rusak yang diputar mundur. Seperti kutukan terucap yang tak bisa dimengerti.

Kepalaku berdenging. Pandanganku kabur. Café itu berputar. Langit berubah menjadi kolam tinta.

Dila melayang—atau aku yang tenggelam.

Tanah dibawahku retak di beberapa tempat.

Lalu dari retakan itu muncul kepala-kepala.

Ayahku, Ibuku, Ibu tiriku dan pamanku.

Mata mereka nanar dan mulut mereka menyeringai lebar. Mereka kompak mengeluarkan suara terbalik yang tumpang tindih bagikan jeritan dari dunia bawah.

“ƎЯ∀W ᴚOԀ Ǝ⅄∀W ᴚ∀ʞU… ɈᴎIΛΛ”

Aku terbangun dengan tarikan nafas pendek dan kasar. Keringat dingin membasahi tubuhku. Bajuku lepek, kulitku merinding—seperti fragmen mimpi yang masih menempel dan mencuri sisa kehangatan dari tubuhku.

Mimpi itu masih membekas di dalam kepalaku. Tangan Dila yang menembus dadaku terasa nyata. Aku memegang dadaku dan memastikan bahwa jantungku masih ada.

Berdetak.

Hidup.

Aku nyata kan?

Aku menoleh—melihat sekeliling ruanganku.

Atau…ini bukan ruanganku?

Hordeng tertutup. Lampu kamar mati. Tapi semuanya terlihat asing.

Tubuhku berat. Setiap sendi seperti berkarat. Dan di balik kulitku, ada sesuatu yang terasa panas. Seperti bara yang merayap di dalam.

Aku menyentuh dahiku. Basah. Dan panas.

Lihat selengkapnya