Before the Silence

Renja Permana
Chapter #15

Chapter 15

Mungkin…kalau aku bangun, aku akan berada di tempat lain. Tempat yang hangat. Yang tidak menusukku dengan demam dan cahaya yang terlalu terang

Atau mungkin, aku akan melihat api neraka berdansa menyambutku—bukan sebagai hukuman, tapi sebagai akhir yang sah. Sebuah panggung tempat tubuhku akhirnya boleh padam.

Tapi tidak.

Aku bangun di kamar ini dengan tubuh yang remuk dan otak yang seperti baru dipasang ulang.

Demamku turun. Tidak sepenuhnya, tapi cukup untuk membuatku sadar bahwa aku belum terhempas habis.

Entah kenapa, rasanya tubuh ini—atau mungkin semesta—memilih untuk tidak membiarkanku hilang begitu saja. Seolah masih ada sisa bab yang harus aku tuntaskan. Atau…masih ada hantaman lain yang menungguku di tikungan waktu.

Aku bangun perlahan, dan dunia tidak lagi terbalik, tapi juga tidak sepenuhnya tegak. Aku melihat jam. Sudah lewat jam sembilan. Aku terlambat kerja, tapi aku tetap berdiri.

Kaki ini bergerak seperti mesin rusak. Aku mandi seadanya, memilih pakaian tanpa peduli padanan warna. Sarapan tidak sempat terlintas, bahkan lupa menyisir rambut.

Perjalanan ke kantor seperti di set ulang dari hari-hari biasa, tapi dengan latar yang muram. Seperti film dengan filter greyscale. Segalanya berjalan normal, tapi tanpa rasa.

Aku masuk ke dalam lift dan langsung disambut dengan aroma logam dan pewangi ruangan yang menyengat. Aku berdiri di sana bersama dua orang dari divisi lainnya. Mereka menatapku sebentar, lalu pura-pura sibuk dengan ponselnya. Aku tak menyapa mereka. Tak bisa.

Ketika pintu lift terbuka, langkahku membawaku ke ruangan seperti biasa. Tapi saat aku masuk, aku bisa merasakan tatapan itu. Tatapan yang tidak biasa.

Beberapa rekan kerja yang duduk di meja mereka menoleh—sebentar, diam-diam, lalu kembali menatap layar monitor. Tapi tidak cukup cepat untuk menutupi keterkejutannya.

Lalu ada Cania.

Dia berjalan cepat ke arahku begitu melihatku muncul di ambang pintu. Ekspresinya seperti campuran lega, jengkel, dan bingung. Tapi yang paling kentara adalah ketidakpercayaan.

“Kamu kemana aja, Bay?” tanyanya pelan tapi tegas. Matanya mendelik. Seperti sedang mencoba memastikan bahwa aku benar-benar berdiri di hadapannya.

Aku mengerjap pelan. Tenggorokanku kering. Suaraku seperti baru saja dipinjamkan kembali oleh tubuhku.

“Sakit…” jawabku singkat. “Aku…demam tinggi.”

Cania masih menatapku dengan ekspresi tak percaya dan agak kesal—meminta penjelasan. “Tiga hari, Bay. Kamu gak ngasih kabar. Gak ada yang bisa ngehubungin kamu. Aku bahkan udah mau lapor HR.”

Tiga hari?

Pikiranku mundur. Tiga hari? Tidak mungkin. Rasanya…baru semalam aku terbangun dengan keringat dingin. Baru tadi pagi aku menelan paracetamol terakhirku.

“Aku pikir…baru absen kemarin,” kataku pelan. Bahkan aku sendiri tidak yakin dengan kalimat itu.

“Enggak,” Cania menggeleng cepat. “Ini hari kamis. Kamu terakhir login senin pagi. Setelah itu—hilang.”

Aku diam. Menunduk. Telingaku berdenging lagi, tapi hanya sesaat.

“Proyek Greefizz ngestop total karena file final ads-nya ada di kamu. Mereka nungguin approval buat ditayangin jumat ini. Kliennya udah mulai ngegas nanyain kabar.” Suara Cania melembut tapi serius, “Kita semua nutupin semampunya. Tapi…”

“Aku nggak tahu,” potongku. Suaraku pelan, nyaris seperti bisikan. “Aku benar-benar…gak sadar kalau udah selama itu.”

Cania menarik nafas panjang, “Kalau kamu sakit ya bilang, Bay. Kita bisa atur semuanya. Aku ngerti kamu orangnya tertutup. Tapi kami ini…kerja tim.”

Aku mengangguk pelan. Tapi dalam hatiku, aku masih mencoba menyusun ulang fragmen waktu yang hilang. Rasanya seperti mencocokan puzzle yang sudah terbakar, lalu disuruh mengingat bentuk aslinya.

Aku duduk di mejaku. Kubuka laptopku dimana aku langsung disambut dengan cahaya terang dari layar. Aku mengerjap dan mengusap-usap mataku. Dengan sekuat tenaga aku turunkan kecerahan layar hingga mendekati minimal.

Folder kerja kubuka satu-satu. Jemariku bergerak seperti robot yang kehilangan presisi. Setiap klik terdengar lebih nyaring dari yang seharusnya. Dokumen-dokumen yang seharusnya familiar kini terasa asing. Bahkan nama file-nya seakan tak bisa kuterjemahkan.

Aku membuka folder Greenfizz. Preview gambar iklan menyambutku. Ilustrasi kaleng hijau segar dengan slogan yang entah kenapa terasa sarkastik hari ini,

A taste of life in every drop.

Aku nyaris tertawa.

Tapi belum sempat memproses apapun, dua sosok meghampiri mejaku.

“Bayu.”

Suara tajam milik Andra, desiner motion grafis. Di sebelahnya, Sela, copywriter yang juga ada di tim kampanye Greenfizz. Wajah mereka tidak menyembunyikan apapun.

“Kamu ngilang kemana, Bay?” Andra menyilangkan tangan, nadanya tidak main-main. “Kamu tahu gak? Karena file kamu, kita semua dimarahin sama klien. Aku sampai harus bikini back up rush render tengah malam. Tapi tetep gak bisa dipake karena file utama ada di kamu.”

Aku menoleh perlahan. Tidak ada tenaga untuk membela diri. Tidak ada suara yang bisa aku keluarkan.

Sela menimpali dengan suara tinggi yang jelas menahan emosi. “Kamu gak ada kabar tiga hari, Bay. Tiga hari. Kita semua jadi tumbal buat nutupin. Klien nanyain, account nanyain, bahkan bos minta email klarifikasi.”

Aku hanya diam. Tatapanku kosong menatap layar. Kalimat di monitor berbaur menjadi garis-garis tipis. Dunia serasa diselimuti kabut tebal.

“Sakit…” ucapku pelan. “Aku…sakit.”

“Sakit tapi gak ngabarin siapa pun? Hape mati? Email gk dibales?” Andra menggeleng dengan senyum kecut. “Kamu kira kita bisa baca pikiran?”

Suasana di sekitarku mulai terasa berat. Beberapa rekan kerja mencuri dengar sambil pura-pura mengetik. Di kepalaku suara Andra dan Sela seperti gema yang menghantam dinding batin yang sudah retak.

Aku mau bilang sesuatu. Tapi aku tidak tahu apa. Semua kata seperti tak berfungsi.

Lalu suara Cania memotong situasi, “Udah stop dulu.”

Entah sejak kapan Cania berdiri disampingku. Tatapannya kepada Andre dan Sela, namun tidak memihak. Cania melanjutkan, “Bayu sakit parah. Demam tinggi. Mungkin dia gak sanggup bangun, apalagi ngabarin.”

Andra mengangkat alis, “Tapi tetap saja, Can. Kita semua kena imbasnya.”

“Aku tahu tapi sekarang dia udah balik, dan file-nya udah bisa di akses, kan? Fokus dulu selesain revisi. Kita kejar tayang sebelum jumat. Marah-marah nggak akan bantu.”

Sela terlihat masih ingin membalas, tapi menahan diri.

Andra menghela nafas keras dan mengangkat tangan menyerah. “Fine. Tapi jangan sampe kejadian kayak gini terulang lagi.”

Merekapun pergi.

Aku masih diam. Tidak menoleh ke Cania. Tidak ke layar. Tidak ke siapa-siapa.

Kepalaku rasanya seperti diganjal batu. Tapi bukan karena demam. Bukan juga karena rasa bersalah. Lebih dalam dari itu.

Cania mendekatiku. Ia menatapku lama lalu berkata, “Bay, kamu beneran gak sadar udah tiga hari ngilang?”

Aku mengangguk pelan, “Aku pikir baru kemarin.”

Cania tidak langsung menjawab. Tapi ada ketakutan kecil yang mengendap di matanya. Bukan takut kepadaku. Tapi pada sesuatu yang mungkin terjadi kepadaku.

“Kalau sakit lagi, janji kabarin aku. Atau Reza. Atau siapa saja. Jangan begini lagi ya,” lanjutnya.

Aku menatap meja. Jemariku bermain di tepi mousepad yang sudah terkelupas, “Kadang aku juga gak tahu harus ngabarin siapa.” Kalimat itu keluar begitu saja. Datar.

Cania tidak membalas. Tapi aku tahu dia mendengarnya.

Lihat selengkapnya