Before the Silence

Renja Permana
Chapter #17

Chapter 17

Waktu serasa melambat. Udara terasa pengap. Kujejakkan kaki ini di lantai kusam penuh torehan memori yang tak ingin kuingat. Namun mereka menolak dilupakan. Aku melihat dengan jelas setiap sudut kamar masa kecilku. Dindingnya seolah bergetar menahan pantulan peristiwa masa laluku, terserap dan meninggalkan jejak kusam seperti pola-pola jamur dan lumut hitam.

Aku melangkahkan kakiku di lantai yang penuh retakan—menuju pintu kayu tua yang ada dihadapanku. Pintu itu bukan pintu biasa. Terdapat banyak coretan dengan spidol hitam yang tumpang tindih.

Aku menatap pintu itu dan seketika merasa takut. Seperti ada belenggu dingin yang tiba-tiba mencengkram jantungku. Coretan itu berupa tulisan yang ditulis terbalik.

ɈᴎIΛΛ...

...ɘʜɘᴙ ɘuʎ ɿᴉɿɘb ᴙɘlq

Aku mencoba membaca tapi huruf-hurufnya serasa semakin bertautan—berpilin seperti akar yang menjalar pelan.

Lalu pintu itu terbuka.

Aku melangkah mundur. Ketakutan semakin menyelimutiku—mencengkram hingga kedua kakiku dan membuatku terdiam ditempat. Tidak berani melangkah dari ambang pintu.

Aku melihat ruang tamu yang tak asing dalam ingatanku. Dinding dengan cat yang terkelupas dan bau yang sangat aku ingat.

Aku menoleh ke sumber bau tersebut. Aku melihat ayah dan ibu tiriku duduk di sofa tua di ujung ruangan. Mereka tidak melihat kearahku. Mata mereka tampak kosong menatap langit-langit. Asap putih muncul dari mulut mereka.

Asap itu membumbung perlahan dan berubah bentuk menjadi sepasang mata besar yang memelototiku, lalu mulut yang membuka lebar dan tertawa terbahak. Tawa itu menggetarkanku dari dalam.

Mata itu menatapku seperti tahu aku sedang melihatnya.

Aku mundur pelan-pelan.

Pintu menutup kembali.

Dan saat aku berbalik—aku membeku. Ada seseorang di lantai kamarku. Tiduran dalam diam, berselimut kain putih yang diikat di atas kepala dan di bawah kaki.

Pocong.

Tubuhku gemetar.

Wajahnya menghadapku.

Wajah itu…aku mengenalnya.

Ibu kandungku.

Matanya terpejam. Wajahnya penuh tanah merah dan retakan seperti retakan tanah yang kering. Ada sisa akar yang melilit di lehernya.

Wajah itu diam. Tapi terasa…memanggilku.

Ada yang memelukku dari belakang. Lenganku tertahan. Nafasku tercekik.

Suara nafas berat di leherku.

“Aku di sini, Bayu…”

 Aku kenal suara itu.

 Paman.

 Aku menjerit namun tak ada suara yang keluar.

 

Aku terbangun dengan nafas memburu, keringat dingin membasahi punggung dan pelipisku. Tubuhku gemetar, mencoba melepas sisa genggaman mimpi yang tadi aku alami. Aku merasakan jejak itu di lenganku.

Ada sesuatu di lenganku.

Rasanya…masih ada. Pelukan itu.

Seolah tubuhku belum sadar bahwa aku telah bangun.

Aku bangkit tergesa. Tidak sempat menyalakan lampu. Tidak sempat mengatur nafas. Kakiku nyaris tersandung selimut yang terjatuh di lantai.

Aku melesat ke kamar mandi dan langsung masuk ke bawah shower dengan pakaian lengkap. Aku diburu waktu, aku tak sempat membuka pakaianku. Kaosku basah. Celanaku berat oleh air. Tapi aku tidak peduli.

Aku harus menghapus rasa ini.

Rasa menjijikan yang masih tertinggal di lenganku.

Tanganku gemetar saat meraih spons mandi di rak. Kupulas sabun dengan kasar tanpa arah lalu mulai menggosok lengan kiriku.

Kencang. Lebih keras.

Aku menggosok tanpa ritme sampai kulitku memerah dan mengelupas di beberapa titik. Tapi rasa itu masih ada. Bayangan tangannya. Suara nafasnya.

Aku mengerang pelan lalu mengganti sisi spons yang lebih kasar. Kali ini aku gosok lengan kananku. Aku perlakukan sama seperti sebelumnya hanya saja dengan dorongan yang lebih kuat. Perihnya menyengat, tapi…inilah yang aku cari.

Setiap gesekan seperti menanggalkan lapisan dari masa lalu.

Setiap luka seperti tanda bahwa aku berhasil menghapusnya.

Aku melempar spons itu dengan keras ke dinding dan jatuh terlupakan bagaikan senjata yang habis pelurunya. Aku memejamkan mata dan membiarkan air panas dari shower menyiram wajahku, kepalaku, tubuhku. Tapi tubuhku tetap terasa asing.

Kotor.

Lihat selengkapnya