Aku duduk di meja panjang yang tidak ada ujungnya. Di depanku, piring-piring menumpuk, penuh cumi hitam, udang yang masih bergerak dan ikan yang matanya menatapku. Bau amis-nya menyesakkan dada, seperti kabut tebal yang menutup jalan nafas.
Tanganku terikat di sandaran kursi, dan sendok-sendok melayang di udara, menjejalkan makanan ke mulutku. Aku tak kuasa menahan itu, mulutku seolah punya nyawa sendiri—terbuka sukarela untuk menerima tiap suapan maut itu. Nasi lengket, saus merah pedas, daging kenyal yang tak hancur walau kugigit berkali-kali.
Aku mencoba memuntahkannya tapi mulutku terkunci rapat. Setiap kunyahan—yang tidak aku inginkan ini—meneteskan cairan asin di lidahku dimana semakin membuatku mual.
Di seberang meja, Reza dan Cania tertawa. Tawa mereka bergema, panjang, seperti di putar dari speaker yang rusak. Mereka bilang, “Ayo makan, Bayu. Kamu harus makan. Kalau tidak, kami akan suapi kamu selamanya.” Seketika tangan mereka menjulur panjang, lebih panjang dari tubuh mereka, menjejalkan sendok demi sendok ke dalam tenggorokanku.
Aku menangis tanpa suara. Aku ingin muntah tapi seolah lambungku menutup jalannya. Makanan menjijikan ini hanya bisa berputar-putar dalam ususku dan memberontak namun mulutku tak kunjung terbuka.
Tawa Reza dan Cania semakin kencang, “Habiskan! Jangan sisakan!”
Isi perutku bergolak, cairan asam memanjat naik ke tenggorokan.
Pedih dan panas.
Aku tak bisa berteriak.
Tercekik oleh muntahanku sendiri.
Aku terbangun dengan mulut yang penuh dengan bayangan nasi yang memberontak, rasa asing yang tersangkut di tenggorokan. Seperti ada kerikil yang dipaksa menjadi makanan, tak bisa kutelan, tak bisa kukeluarkan. Tanpa pikir panjang, aku meloncat dari tempat tidur dan menyerbu dapur. Aku ambil gelas yang ada di wastafel—entah itu bersih atau tidak karena hanya itu yang sempat aku temukan—kutuang air dingin dari kulkas dan kutelan air itu seolah sudah berhari-hari tidak minum. Tujuanku hanya satu: menghapus rasa menjijikan di tenggorokan yang masih tertinggal dari mimpi buruk.
Setelah bayangan nasi dan keringnya tenggorokan perlahan menghilang, aku menghela nafas untuk menenangkan diri. Aku keluar dari dapur dan menatap ruang tengah, bersiap menghadapi entah terjadi apa lagi nanti.
Di sudut ruangan, kardus-kardus balas menatapku. Bentuknya segi empat tapi rasanya seperti mata-mata yang menunggu keputusan akhir. Surabaya atau cut off. Dua kata itu berputar seperti koin yang dilempar ke udara—dan aku menunggu sisi mana yang akan jatuh.
Aku bilang pada diriku sendiri: pindah lebih baik daripada mati. Karena kalau cut off, aku seperti tali layang-layang yang dibakar di udara, terbang tanpa arah lalu hilang ditelan angin. Setidaknya di Surabaya aku masih bisa menggambar—melanjutkan tanganku yang gatal akan emosi visual dalam design.
Jika aku berakhir terpuruk di Jakarta, kertas-kertas kosong dan pensil yang berserakan di lantai ini akan mengejekku. Aku sudah lama tidak menyentuh mereka. Aku menutup Instagram, mengunci rapat seperti kotak beracun. Setiap kali hendak membukanya, ada duri yang menusuk di balik tulang dada. Duri tanpa wajah, hanya banyangan nama: Dila. Aku bahkan lupa wajahnya, tapi tak bisa melupakan durinya.
Maka aku menyiapkan kardus itu. Meletakkan baju, buku, sketsa, seolah dengan menata barang-barang aku bisa menata takdir. Aku bilang pada diriku: ini bukan persiapan pindah, ini mantra kecil. Law of attraction. Kalau aku berpura-pura siap, mungkin semesta akan percaya.
Semoga.
Cania dan Reza berdiri di depan mejaku dengan mulut terkunci namun tatapan mata mereka berbisik, seperti mereka ikut menunggu dengan harap cemas atas keputusan final HRD yang akan keluar hari ini. Akupun hanya terduduk tanpa suara di mejaku dengan mataku yang menyambut kekhawatiran mereka. Aku tak bisa menyembunyikan perasaanku, mereka pasti paham apa yang aku rasakan namun mereka bingung apa yang harus dikatakan.
Tak lama setelah itu terdengar langkah sepatu dari salah satu staff HRD menghampiri mejaku.
“Mas Bayu, bisa ke ruang HRD? Bu Sari mau bicara,” katanya.
Terlihat ketegangan terpancar di wajah Cania dan Reza. Aku membalas dengan tatapan mataku yang mengatakan: Hei, aku akan baik-baik saja.
Tapi itu serasa seperti membohongi diriku sendiri.
Aku melangkah ke ruang HRD seperti melangkah menuju ruang sidang terakhir dalam hidupku. Setiap hentakan langkahku terdengar berat, seperti memantul dari dinding koridor dan kembali menikam dadaku.
Bu Sari sudah menunggu di balik meja, wajahnya datar, senyumnya formal yang tak membawa arti apa-apa.
“Mas Bayu,” ia memulai dengan suara yang terlalu tenang. “Setelah pertimbangan manajemen, kami tidak bisa memutasi mas Bayu ke Surabaya. Perusahaan memutuskan untuk menghentikan kontrak kerja per hari ini.”
Kata-kata itu jatuh, pecah, lalu menancap di telingaku.
Aku terdiam.
Aku tidak bertanya.
Tidak ada ruang untuk negosiasi.
“File-file pekerjaan segera serahkan ke Cania. Laptop dan ID Card tolong dikembalikan hari ini juga,” tambahnya seolah itu hanya prosedur biasa.
Aku mengangguk kaku. Tanganku terasa asing, tubuhku seolah boneka kayu yang bergerak tanpa perintah.
Saat itulah—
Krak
Suara itu muncul jelas di kepalaku, seperti kaca retak. Aku menoleh, seolah ada sesuatu yang pecah di ruangan ini. Tapi bu Sari hanya melanjutkan kata-katanya tentang ucapan terima kasih dan perpisahan yang tidak terlalu aku dengar, seperti tidak menyadari ada suara itu.
Tak ada yang aneh di ruangan ini.
Suara itu bukan dari luar. Itu dari dalam.
Dari dalam kepalaku.
Rasanya seperti garis halus yang selama ini memisahkan aku dari kenyataan, kini mulai merekah.
Semesta kembali menunjukan wajahnya yang dingin: aku bukan untuk diselamatkan. Aku untuk dihabisi.
Aku keluar dari ruang HRD, mataku berembun tapi tidak ada air mata yang jatuh. Cania dan Reza masih berdiri di dekat mejaku, menunggu, tapi aku hanya bisa menatap kosong kearah mereka.
Mereka sepertinya mengerti.
Reza menatap langit-langit dengan ekspresi menyesal dan Cania terisak.
Mungkin aku tidak akan baik-baik saja. Entah apa lagi yang akan terjadi kepadaku—hingga aku benar-benar hilang.
Sepulang kerja, Reza dan Cania mengantarku pulang. Mereka berdua mampir ke unit apartmentku sambil membantuku membawa kardus-kardus berisi beberapa barangku dari meja kantor.
Mereka sempat melihat tumpukan kardus berisi baju-bajuku di pojok ruangan namun mereka tidak mengatakan apa-apa, seolah kata-kata tidak akan cukup untuk menyentuh apa yang kurasakan.
Entah kenapa Cania membeli beberapa porsi makanan. Mungkin niatnya agar kita bisa makan bersama malam ini—menghiburku dari keterpurukan hidup dan ditertawakan takdir. Namun aroma makanan ini membuatku mual. Tubuhku tidak mengizinkanku menikmati hidup dengan normal. Atau mungkin tubuhku sendiripun sudah muak denganku.
Reza membuka hordeng di salah satu jendela dan cahaya sore menyerbu masuk ke dalam ruangan. Aku reflek memalingkan wajah dan memejamkan mata.
“Za, please. Jangan buka hordengnya,” kataku dengan suara parau.
Reza dan Cania saling bertatapan dengan heran lalu akhirnya Reza menutup kembali hordeng itu tanpa banyak bertanya.
Cania menghampiriku, “Bay, aku beresin ruangan ini, ya. Kardus-kardusnya berantakan. Biar enak gitu jalannya.”
Reza ikut menimpali, “Aku beresin deket dapur, ya. Kayak ada bekas cat tumpah disitu. Kalau kelamaan takut berkerak lantainya.”
“Gak usah. Biar aku aja yang beresin,” jawabku yang mencoba menolak mereka tapi sepertinya percuma, Reza tidak bisa ditolak—itu sudah karakternya.
“Gak apa-apa, Bay. Santai aja, kayak kita orang baru aja.” Jawabnya mencoba ngebanyol seperti biasa.
“Kamu istirahat aja. Nanti kalo udah beres, kita makan bareng.” Cania berkata dengan lembut seolah aku bisa pecah kapanpun.
Aku menghela nafas dan mengangguk, pasrah pada bujukan mereka berdua. Setidaknya kedua sahabatku tidak muak dengan kelakuanku, atau mungkin belum. Seiring dengan berjalannya waktu mungkin mereka akan berubah, tapi aku masih ingin berharap mereka tidak akan meninggalkanku.
Aku duduk di sofa, menangkup wajahku dengan kedua tanganku. Rasanya tubuhku lelah namun pikiranku tidak. Kepalaku masih dipenuhi segala hal yang aku takutkan akan terjadi, ditambah dengan memori masa laluku yang melenggang santai menunjukan taringnya sambil perlahan melahap energiku.
Aku merasa semakin tidak menjadi diriku sendiri. Banyak hal-hal yang aneh yang terjadi padaku yang tidak aku mengerti. Aku takut ini akan berlanjut dan semakin parah. Bisa saja nanti aku amnesia lagi, mungkin tidak tiga hari tapi seminggu dan aku akan tersadar entah dimana. Lalu suara-suara itu, belakangan ini aku sering mendengar suara aneh. Suara tawa yang asing, suara kaca pecah, tapi itu terdengar sangat dekat—seperti dari kepalaku sendiri.
Apa yang sebenarnya terjadi padaku?
Sebuah tepukan pelan di bahu menyadarkanku. Aku terlonjak kaget dan melihat Reza disebelahku.
“Makan, yuk.” katanya sambil mengambil piring dari meja di hadapanku.
Hah? Makan?
Aku melihat beberapa piring berisi masakan Padang dihadapanku. Reza menyendok lauk ke piringnya dan Cania meletakkan tiga gelas berisi air dingin.
Mereka sudah selesai beres-beres?
Sejak kapan?
Rasanya tadi hanya berlalu lima menit?
Gak mungkin mereka bisa secepat itu?