Before the Silence

Renja Permana
Chapter #19

Chapter 19

Aku tersentak, menarik nafas panjang—seperti baru muncul dari permukaan air setelah tenggelam terlalu lama. Tubuhku lemas, pikiranku berkabut. Seluruh badanku sakit: pergelangan, bahu, bahkan jemariku serasa diremas oleh sesuatu yang tidak terlihat—nyeri dan perih.

Aku memeriksa jari jemari kedua tanganku. Seluruh buku – buku jariku memar dan sebagian ada yang membiru.

Aku melihat sekeliling.

Berantakan.

Pecahan kaca berkilau di lantai, kursi terguling, meja terbalik, aisle patah. Kardus yang tadi rapih kini robek dan isinya berserakan.

Itu semua…ulahku?

| Ya, itu ulahmu. Apa kau tidak ingat?|

Aku mengusap wajahku dengan kedua tangan, nafasku gemetar. Aku tidak menyangka aku bisa sebrutal itu dan aku tidak ingat apa yang menyebabkan aku melakukannya.

| Kau marah karena ibu tirimu meminta uang 120 juta.|

Kilatan memori kembali menyambar ingatanku. Potongan – potongan adegan menyeruak masuk seolah aku menonton adeganku sendiri di dalam kepala.

Ya, aku ingat. Tapi rasanya jadi aneh setelah itu. Seperti ada yang retak dan bocor di dalam pikiranku. Aku merasa seperti tidak berada dalam kendali pikiranku sendiri, tak ada kuasa untuk menambal itu dan membiarkan sepenuhnya kebocoran itu mengalir menutupi nalarku.

Aku merasa seperti berada di dua tempat yang berbeda dalam waktu bersamaan. Aku merasa berada di unit apartmentku tapi sekaligus aku merasa asing dengan tempat ini. Aku merasa terbawa oleh waktu tapi sekaligus merasa ditarik mundur oleh ingatan, seperti berada di masa lalu sekaligus berada di saat ini.

| Itu biasa terjadi setelah menyalurkan amarah.|

Aku bangkit dan melangkah perlahan ke sudut ruangan dimana ponselku tergeletak. Aku mengambil ponselku dan memeriksa kerusakannya.

Layarnya retak.

Aku tekan tombol power. Tidak bereaksi.

| Coba kau sambungkan dengan kabel charger.|

 Aku melihat sekeliling. Kayaknya akan sulit mencari kabel charger di ruangan yang sudah porak – poranda seperti ini.

| Sepertinya kabel charger ada di kamar.|

Seolah mendapat komando, tubuhku berbalik dan berjalan menuju kamar. Aku menyalakan lampu dan sedikit bernafas lega karena kamarku tidak terkena amukanku. Aku menyambungkan ponselku ke kabel charger dan tersenyum kecil karena muncul prosentasi batre di layar. Setidaknya masih ada barangku yang belum hancur sepenuhnya.

| Lagipula kau mau apa dengan ponsel itu?|

Aku terdiam sesaat.

Sejak tadi suara itu terus muncul di hatiku. Atau…kepalaku.

Kupikir hanya gema dari pikiranku yang belum tenang. Lalu aku baru menyadari bahwa suara itu terdengar alami, seperti muncul dari ruang sunyi di antara detak jantung dan desah nafas.

Nadanya jelas. Terlalu…hidup.

Aku menatap layar ponsel yang perlahan menyala, cahaya putihnya memantul di retakan kaca seperti urat yang bercahaya di kulit yang rusak. Beberapa notifikasi masuk. Aku ingin menyentuhnya tapi jari-jariku ragu. Takut akan sesuatu yang mungkin muncul dari balik cahaya itu.

| Paling itu dari ibu tirimu. Lanjutan sumpah serapah yang sebelumnya.|

Aku menelan ludah. Kali ini aku mendengar nada pernyataan yang halus namun menekan. Aku menatap ke arah jendela kamar. Gelap. Tak ada siapa –siapa.

Mungkin ini hanya suara pikiranku yang mulai kembali menata logika setelah kemarahan tadi.

Tapi terdengar begitu nyata?

Kenapa terdengar seperti ada seseorang yang berdiri di belakangku, berbisik tepat di telingaku?

Aku menggeleng.

Ini hanya efek lelah, nanti pasti kembali normal.

| Normal?|

Iya. Nanti aku pasti pulih kembali. Aku hanya perlu istirahat dan besok akan baik – baik saja.

| Bayu, normal sudah meninggalkanmu. |

Lagi – lagi aku memeriksa sekeliling kamarku. Tak ada siapa- siapa disini, selain diriku. Tapi suara itu semakin lama semakin jelas.

| Tak ada orang lain, Bayu. Di sini hanya ada kamu…dan aku.|

Nafasku tercekat dan punggungku terasa dingin. Aku merosot duduk di lantai sambil menutup kedua telingaku.

| Kau tahu siapa aku? |

Aku menggeleng. Suara itu suara pria yang dingin namun percaya diri—seperti seseorang yang sudah mengenalku, hanya saja aku tak bisa mengingat dari mana.

Aku mencoba menenangkan diri, menekan kedua telingaku lebih keras, tapi suara itu tidak berasal dari luar. Ia muncul dari dalam, dari sela- sela pikiranku sendiri.

| Aku bagian dirimu yang tak pernah kau kenali. |

Aku terdiam. Ujung jariku mulai gemetaran.

| Aku yang selama ini kau kunci. Tapi dinding itu retak dan aku mengalir keluar, merembes menutup kewarasanmu.|

Aku ingin menjawabnya, tapi bibirku tidak bergerak. Kata – kata itu hanya bergema di dalam kepalaku. Dan anehnya, ia menjawab seolah mendengarnya.

Kepalaku mendengung pelan, seolah udara di kamar tiba-tiba menjadi berat.

Mungkin jika aku keluar sebentar, aku bisa merasa lebih baik.

Aku melangkah hati – hati menuju pintu—menghindari pecahan kaca dan barang – barang yang berserakan di lantai.

Udara malam diluar langsung menerpa wajahku—dingin tapi terasa hidup. Tak seperti udara di dalam sana, yang penuh sisa amarah dan debu dari benda-benda yang hancur.

Kota belum tidur.

Di trotoar depan gedung, deretan tenda pedagang kaki lima berjajar seperti lampu kecil yang menolak padam. Asap dari wajan – wajan bergulung pelan di udara, bercampur aroma minyak, kecap, dan nasi goreng. Aku melangkah perlahan di antaranya.

Lalu aku mencium sesuatu.

Ayam mentega.

Aromanya familiar…dan entah kenapa membuat dadaku bergetar. Ada sesuatu di balik aroma itu—kenangan, mungkin—tapi kabur. Seperti berdiri di ambang ingatan yang tak mau terbuka.

Aku memejamkan mata, mencoba mengingat.

Ada seseorang. Ada tawa samar.

Tapi kemudian—kosong.

| Kau ingat rasa itu?|

Aku menghela nafas pelan. Ya, aku pernah makan itu. Tapi dimana?

| Lucu sekali. Kau bahkan lupa hal sederhana seperti itu. Padahal dulu kau selalu pesan menu yang sama, setiap kali bersamanya. |

Bersama siapa?

Tidak ada jawaban beberapa detik—lalu aku mendengar nada tawa kecil, dingin, dan mengejek.

| Lihat? Kau bahkan tidak tahu pertanyaanmu sendiri.|

Aku membuka mata. Lampu – lampu tenda berkelap – kelip di depan mataku, tapi rasanya jauh. Dunia sekitarku terus bergerak, tapi di kepalaku…waktu seperti melambat. Aku mengusap wajahku, mencoba menepis getaran aneh yang mulai tumbuh di tengkuk.

Aku hanya butuh udara.

Tapi bahkan sebelum nafasku benar – benar stabil, suara itu kembali—lebih dingin tapi seperti membelit:

| Udara tidak akan menolongmu. Yang kau hirup hanyalah sisa dirimu sendiri.|

Lihat selengkapnya