Aku tidak tahu hari ini hari apa. Mungkin senin atau sabtu. Atau…entahlah. Yang kutahu hanya: jika di luar terang berarti siang. Jika langit menggelap, berarti malam. Tapi apakah itu penting? Sepertinya aku tak perlu memikirkan itu lagi. Suara itu sudah cukup menuntunku melewati semua ini.
|Benar, Bayu. Hari hanya ilusi yang diciptakan oleh mereka yang ketakutan.|
Aku menatap boneka flannel di meja. Sejak aku berhenti menghitung hari, suara itu semakin jernih. Bahkan sekarang tidak terdengar dingin lagi, tapi memiliki intonasi dan dialek. Terdengar tidak asing, namun aku sudah tak peduli untuk mengingat dari mana aku pernah mendengar dialek itu.
Ia tidak seperti manusia yang datang dan pergi. Ia menetap.
Ia tahu apa yang harus aku lakukan.
Dari luar terdengar suara langkah menaiki tangga. Lambat, teratur, lalu berhenti di depan pintuku.
Tok. Tok. Tok
Aku menoleh.
Suara itu membeku sebentar, lalu berbisik lagi.
|Jangan buka pintu sepenuhnya. Dunia di luar belum bersih.|
Aku mendekat ke lubang intip di tengah pintu. Dibaliknya, wajah Cania terlihat lelah. Matanya sedikit sayu, tangannya membawa kantung putih.
Aku membuka pintu sedikit, hanya beberapa centi. Cukup untuk Cania melihat setengah wajahku, tidak untuk melihat seluruh hidupku.
Aku menelan ludah, mencoba menyesuaikan senyum yang bahkan tak sempat kupersiapkan, “Iya, Can.”
Cania sedikit mengangkat alis ketika melihatku. Ekspresinya terlihat agak kaget dan sedikit khawatir, “Bay, kamu gak apa-apa?”
“Gak apa- apa.”
“Kamu gak bales whatsapp aku, kamu juga gak jawab teleponnya Reza. Kita khawatir kamu sakit lagi. Kayak…waktu itu.”
Aku menggeleng, “Aku gak apa-apa, Can. Cuma lagi pengen istirahat aja. Nanti aku WA Reza. Gak usah khawatir.”
Cania tersenyum tipis.
|Bagus. Cania percaya alasanmu.|
Aku dengan reflek menyuruh suara itu diam sesaat, “Shhh…” sambil menoleh sedikit. Aku takut Cania bisa mendengar suara itu.
Cania sempat heran melihat itu tapi aku langsung mengalihkan kecurigaannya, “Sssama kamu juga, nanti aku WA kamu,” kataku.
Cania mengangguk lalu tersenyum lagi. Dia memberikan kantung plastik putih yang sejak tadi dia tenteng, “Ini aku bawain makanan. Ada nasinya juga. Lauknya cukup buat kamu makan malam ini. Tapi kalau nanti masih ada sisa, kamu angetin lagi ya. Bisa buat sarapan.”
Awalnya aku ragu dan ingin menolak pemberian Cania tapi aku tak mau membuat dia curiga.
“Makasih ya,” jawabku sambil menerima kantong plastik itu.
“Habis ini kamu langsung makan terus istirahat, biar besok bisa segar lagi. Kalau perlu apa- apa, WA aku atau Reza, ya.”
“Iya, Can. Pasti.”
“Ya udah, aku pulang dulu, ya.”
Cania melambai. Aku membalas lambaiannya disertai senyum palsu lalu dia berbalik dan pergi.
Setelah Cania benar-benar menghilang dari pandangan, aku buru – buru masuk dan mengunci pintu. Aku bersandar pada pintu sambil terengah – engah, seolah sejak tadi aku menahan nafas karena khawatir salah bertindak sehingga menimbulkan kecurigaan.
|Tak perlu khawatir. Semua yang kau lakukan tadi sudah benar. Cania tidak curiga kepadamu.|
Aku mengangguk. Setelah itu aku menatap kantung plastik putih yang tadi diberikan Cania. Aku mengintip sedikit isinya. Terlihat seperti sebungkus sup ayam, ikan goreng dan sebungkus nasi. Namun baunya tidak seperti makanan, lebih tepatnya seperti bau besi berkarat. Baunya menempel di langit- langit mulutku bahkan sebelum aku membuka bungkusnya.
Aku memalingkan wajah sambil reflek menahan muntah. Baunya sangat menyengat.
|Jangan makan itu. Makanan itu ada obatnya.|
“Kenapa Cania memberi aku obat?”