Langit terlalu biru hari ini, seperti sedang menertawakan segala hal yang terasa hampa di dalam kepalaku. Ombak datang dan pergi tanpa tujuan, sama seperti pikiranku yang tak berhenti bolak – balik ke tempat yang sama. Orang – orang tertawa, anak – anak berlarian membawa ember pasir. Semua tampak normal namun hatiku beku—atau aku yang menganggap semua itu tak berarti lagi.
Kami duduk di atas tikar plastik yang mulai berpasir. Cania sibuk mengambil selfie dengan senyum buatan, Reza mengunyah gorengan sambil membuang pandangan ke laut, sementara aku…hanya duduk diam.
Tangan kiriku menggenggam buku sketsa, tangan kanan menggenggam pensil yang terasa seperti benda asing. Kulit kayunya menempel di jariku, tapi seolah bukan aku yang menggenggamnya. Seolah tangan ini bukan milikku.
Deburan ombak terdengar jauh—terlalu jauh untuk pantai yang seharusnya hanya beberapa meter di depan mata. Angin menyentuh wajahku, tapi rasanya tidak lebih dari hembusan kipas di kamar kosong.
Orang-orang di sekeliling tampak seperti bayangan yang bergerak. Suara tawa mereka terdengar seperti desisan radio yang kehilangan sinyal.
Beberapa dari mereka, aku kira, sedang menatapku.
Mereka berhenti tertawa. Mereka berbisik. Mereka tahu sesuatu.
Aku menunduk cepat, pura-pura menggambar di buku sketsaku dimana halamannya masih kosong sejak tadi.
|Tenang saja. Tidak ada yang benar-benar memperhatikanmu.|
Suara itu datang perlahan, seperti arus kecil yang merayap masuk dari balik pasir.
|Mereka hanya bayangan. Tak ada yang bisa menyentuhmu di sini.|
Aku menarik nafas pelan.
Deburan ombak kembali terdengar—lebih dekat kali ini, lebih nyata.
|Kau lihat, Bay? Dunia luar terlalu bising. Denganku saja, semuanya akan lebih mudah.|
Aku menatap pasir di bawah kakiku. Butir-butir pasir menempel di jari, sesaat aku merasa terbenam. Tenggelam perlahan ke dalam bisikan yang lembut, ke tempat di mana aku tak perlu berpura-pura lagi.
Aku menunduk, mencoba menyalin pemandangan pantai ke buku sketsa. Awalnya tanganku terasa kaku lalu jadi gemetar pelan, seperti melakukan sesuatu yang sudah lama tidak aku ingat.
|Hanya menggambar pantai, itu mudah. Lakukan dengan tenang dan perlahan.|
Suara itu mengantarku kembali fokus. Aku menggores dengan malu-malu lalu semakin lama semakin lepas. Garis laut, horizon, langit biru—semua tumpang tindih di kepalaku dan mengalir perlahan ke kertas melalui pensilku.
Lalu di bagian kanan kertas, tanganku menggambar seseorang berdiri menghadap laut.
Rambutnya ditiup angin, mengenakan cardigan biru dan rok bunga-bunga.
Dila.
Aku berhenti. Pensilku beku di udara.
Lalu, seperti biasa, suara itu datang.
|Bayu, sudah kubilang Dila itu tidak ada. Kenapa kau masih mengundangnya ke kertasmu?|
Aku menghela nafas lirih, “rasanya sulit dipercaya kalau Dila tidak nyata.” Aku menggeleng pelan.
|Sulit dipercaya karena kau masih ingin dia ada.|
Suara itu terdengar lembut kali ini, seperti seseorang yang duduk di belakangku, berbisik di antara helaan angin.
|Dila hanya akan menahanmu di sini, di antara pasir dan debur ombak yang tak berarti.|
Aku menatap garis laut di sketsaku. Di sana Dila berdiri diam tanpa wajah.
“Kalau aku berhenti menggambarnya, apa dia benar-benar akan hilang?” tanyaku pelan.
|Tidak. Dia sudah hilang sejak lama. Kau hanya terus menghidupkannya lewat tanganmu. Bayu…lepaskan. Tidak semua yang hilang harus dicari lagi.|
Suara itu terasa seperti belaian, tapi ada sesuatu yang dingin di baliknya.
Aku menggigit bibir, menunduk. “Tapi kalau aku lepaskan, aku takut—“
|—Takut apa? Kau tak perlu takut apapun. Aku ada di sini. Aku akan selalu ada di kepalamu, menjaga agar kau tidak jatuh lagi.|
“Kau benar,” jawabku spontan, tanpa sadar suara itu keluar dari mulutku dengan jelas.
Reza menoleh cepat dari kotak gorengannya. “Apaan, Bay?”
Aku terlonjak kecil. “Apa?”
“Kamu barusan bilang ‘kau benar’?”
“Oh—nggak, aku cuma…” aku melirik sketsaku, menutupinya pelan. “Aku mau gorengannya, Za.” Hanya itu yang bisa kupikirkan untuk mencari alasan.
“Oh, nih ambil aja. Ada lontong juga. Ini sambelnya,” katanya santai sambil menyodorkan wadah makanan.
|Bagus. Jangan sampai mereka curiga. Makanlah dan jangan lupa apa yang aku katakan sebelumnya mengenai makanan.|
Dengan berat aku mengambil sepotong bakwan, mencelupkannya ke sambal. Minyaknya dingin. Aromanya getir.
Aku mengangkatnya ke mulut, menggigit, mengunyah perlahan.
|Setelah kau makan, kau harus muntahkan itu. Racunnya tidak boleh tinggal di tubuhmu.|
Aku berhenti sejenak, tapi Reza menatapku.
“Enak, kan? Makan yang banyak, Bay. Kamu pucet banget.”
Aku memaksa tersenyum dan mengangguk, “Enak, kok.”
Aku menelan potongan terakhir, rasanya seperti menelan batu yang dilapisi minyak.
|Sekarang. Cepat.|
Aku bangkit dan pura-pura mencari toilet di belakang warung. Langkahku berat, tapi kepalaku terasa melayang—seperti tubuhku diangkat angin.
Begitu sampai di belakang warung, aku menunduk di samping dinding kayu yang lembab. Mulutku masih terasa asin dan berminyak.
|Keluarkan semua. Bersihkan tubuhmu dari racun mereka.|
Aku menyentuh perutku—dingin, kosong, tapi terasa penuh oleh sesuatu yang ingin keluar.
Aku memasukan dua jari ke tenggorokan, perlahan, sampai terasa dorongan hangat di dada naik ke atas.
Suara angin dan ombak berganti dengan suara dari dalam tubuhku sendiri.
Aku memuntahkan semuanya.
Rasa asam bercampur pedas sambal naik ke hidung, membuatku batuk dan mataku berair. Setelah reda, aku menyeka mulut dengan punggung tangan.
|Bagus. Sekarang kau aman. Jangan biarkan mereka tahu.|
Aku memandang ke arah pantai di kejauhan—Reza dan Cania masih duduk di tikar, tertawa, seolah dunia mereka baik-baik saja.
Aku menunduk lagi.
Sisa muntahan kututup dengan pasir menggunakan kakiku, agar tak ada jejak yang tertinggal.
|Bagaimana perasaanmu?|
“Lega tapi…aneh,” jawabku dengan suara pelan.
|Gak apa-apa. Itu normal. Sekarang sebaiknya kau kembali sebelum mereka sadar kau pergi terlalu lama.|
Aku kembali menghampiri Reza dan Cania dengan langkah agak diseret. Pasir menyelip masuk ke sendalku, kebawah kakiku. Bulir-bulirnya yang kasar seolah turut mengiringi jalanku yang berat.
“Tadi dari mana, Bay?”
Aku menoleh perlahan.
Reza sedang mengunyah lontong sambil memandangku. Kalimatnya sederhana, tapi entah kenapa terasa seperti tuduhan.
|Lihat itu, Reza selalu banyak tanya. Dia tidak percaya padamu. Rasanya aku ingin meremukkan mulutnya.|
Nada suara itu membuat dadaku panas.
Aku tidak tahu kenapa, tapi tiba-tiba rahangku menegang, seolah ada amarah yang bukan milikku sendiri ikut keluar dari kerongkongan.
Aku mengepalkan tangan kanan, menahan dorongan yang aneh—gelombang kecil yang ingin memukul sesuatu.
Aku menarik nafas pelan, lalu menjawab datar, “dari toilet.”
Reza mengangguk pelan, tapi matanya masih memperhatikanku. Terlalu lama. Tatapan itu membuat punggungku menengang.
Aku berpaling ke arah laut, pura-pura menikmati ombak, padahal di dalam kepala, suara itu masih berbisik pelan, seperti belatung yang bergerak di balik daun basah.
|Jangan biarkan dia menatapmu seperti itu. Dia sedang menghitung kebohonganmu. Tapi kau tidak berbohong. Kau hanya melindungi diri. Aku bangga padamu.|
Sekarang giliran Cania yang menatapku tapi aku buru-buru menunduk dan kembali duduk di sebelahnya.
Dan tanpa aku sadari, ternyata Cania sedang melihat hasil sketsaku tadi. Gambar pantai dengan Dila tanpa wajah terpampang jelas di hadapannya.