Before the Silence

Renja Permana
Chapter #22

Chapter 22

Aku berada di kamar lamaku—kamar masa kecilku, tapi ukurannya aneh. Dindingnya terasa terlalu dekat. Tirai jendela bergoyang walau tak ada angin. Di meja belajar ada segelas susu yang mengeluarkan uap dingin, dan di lantai, berserakan kertas yang penuh coretan krayon.

Suara langkah datang dari koridor—berat, lambat namun tenang. Aku ingin berlari tapi tubuhku serasa lumpuh. Dari balik tirai, muncul bayangan seseorang yang tidak jelas wajahnya. Suara nafasnya terdengar, membuat seluruh ruangan terasa berdenyut.

“Anak baik selalu diam,” suara itu berbisik dari arah jendela.

Tirai berkibar.

Aku memejamkan mata, berharap bisa hilang dari sana.

Ketika kubuka mataku lagi, aku melihat diriku sendiri—kecil, duduk di pangkuan seseorang, matanya kosong seperti boneka rusak.

Suara di kepalaku berkata: “itu bukan aku.”

Cahaya lampu di kamar berubah menjadi kuning suram, dan di dinding muncul noda gelap berbentuk tangan. Setiap kali aku menatapnya, noda itu bertambah banyak.

Namun sosok kecil diriku itu tidak hilang. Mulutnya terbuka, penuh cat putih, menetes ke lantai dan mengalir ke arah kakiku.

Aku menjerit tanpa suara.

 

Aku terbangun dengan nafas terengah-engah, seolah habis berlari marathon. Bajuku basah oleh keringat dingin, dan udara di kamar terasa tebal dan pengap.

Perutku seperti diaduk. Aku menutup mulut, tapi rasa mual itu naik ke dada, menekan tenggorokanku hingga nyaris muntah. Aku menggigil, menunduk, lalu menarik lutut ke dada—membentuk diriku menjadi bola kecil di atas kasur.

Tangisku keluar tanpa suara. Getar kecil sesenggukan yang tersembunyi di balik selimut.

Lalu, sesuatu yang lembut menyentuh pikiranku.

Bukan tangan, bukan nafas, tapi suara—

lirih, tenang, seperti bisikan yang datang dari balik air.

|Bertahanlah, Bayu. Kita sudah jauh. Kalau kau terjebak di sana, kita harus mulai dari awal.|

Aku menutup telingaku, tapi suara itu tetap ada, tidak memaksa, hanya menunggu. Mataku menatap dinding kosong—di sana, cahaya lampu membentuk bayangan seperti dua sosok: satu duduk, satu memeluk.

Lalu semuanya perlahan redup.

Hanya tersisa suara nafasku sendiri, dan gema samar dari bisikan yang aku sendiri tidak tahu apakah berasal dari dalam atau luar.

**

 

Aku tidak tahu sudah berapa lama berlalu. Mungkin satu hari atau satu minggu. Seperti melayang ku menjalani hari tanpa jangkar untuk bernafas sejenak, menoleh melihat waktu. Namun serasa itu tak penting lagi, waktu hanya bagaikan jejak bayangan yang perlahan memudar seiring dengan langkahku.

Aku pun tidak bisa menangkap kemana pikiranku pergi. Kepalaku seolah perlahan kosong dan di isi oleh gema suara yang terus menuntunku dalam indahnya kesendirian. Aku bahkan nyaris tak mendengar suara-suara dari luar tubuhku.

Nyaris.

Hingga ketukan berkali-kali yang terdengar di pintu, membangunkanku dari…entah apa. Mimpi? Diam? Atau sekedar kebiasaan bernafas tanpa sadar?

Suara ketukan itu terus datang—tiga kali, jeda, lalu dua kali—seperti pola yang sengaja dibuat untuk menguji apakah aku masih hidup. Aku menoleh ke arah pintu, tapi tubuhku lambat bereaksi.

“Bayu, kamu di dalam, kan?”

Itu suara Reza. Suara yang dulu keras sekarang terdengar jauh, seolah kehilangan makna.

Aku berdiri. Tidak tahu sudah berapa lama mereka di luar. Tidak tahu apa yang harus aku katakan kalau pintu itu kubuka. Dikepalaku hanya gema berulang, “jangan ikut” yang berputar pelan di antara sela nafas.

Kusentuh gagang pintu yang dingin, suara di kepalaku makin jelas terdengar.

|Kalau mereka mengajakmu jalan lagi, jangan ikut.|

Aku membuka pintu. Reza dan Cania berdiri di sana dengan pakaian lengkap dan tas ransel seperti hendak berpergian.

|Jangan ikut.|

Ekspresi wajah mereka berubah sejenak ketika melihatku. Entah apa yang mereka lihat, mungkin rambutku yang lepek, wajahku yang kuyu, atau bawah mataku yang hitam.

“Bay, ikut, yuk,” ajak Reza tanpa aba-aba.

“Kita mau sewa villa di puncak atau glamping. Cuaca lagi bagus di sana. Kamu ikut ya,” Cania menimpali seolah tak ada pilihan untuk menolak.

Aku menggeleng lemah, “sorry, lagi gak bisa ikut.”

“Kamu lagi sakit ya?” tanya Reza, ada sekelebat ekspresi khawatir di wajahnya.

Aku mengangguk dan memaksa senyum tipis ke arah mereka.

Mereka berdua saling berpandangan lalu Reza berkata, “ya udah, kita gak jadi pergi karena niatnya mau ngajak kamu juga.”

“Kita di apartment kamu aja ya biar kamu ada yang nemenin. Kalo lagi sakit kan gak enak sendirian. Nanti aku masakin,” kata Cania sambil menepuk tas ransel di punggungnya.

|Jangan terima mereka. Mereka cuma memanfaatkanmu saja.|

Aku menghela nafas lalu mengangguk.

Aku bukakan pintu lebih lebar agar mereka bisa masuk. Aku biarkan mereka karena aku lebih bingung lagi bagaimana cara menolak ajakan itu. Alasan sakit pun sepertinya sudah tidak mempan.

|Kau bodoh.|

“Diam,” seruku pelan namun sepertinya itu terdengar Reza. Dia menoleh kearahku dengan heran.

“Kenapa, Bay?”

“Kepalaku lagi pusing, jadi…jangan terlalu keras ngomongnya, please.”

Mereka berdua mengangguk lalu meletakkan tas mereka dengan perlahan di lantai namun ada sedikit ekspresi bingung di wajah mereka.

Aku menjatuhkan tubuhku di sofa dan tidak terlalu mendengarkan apa yang dibicarakan mereka. Aku hanya melihat Reza menyalakan TV lalu duduk di sebelahku. Cania ke dapur sambil membawa sekantung bahan masakan.

Kepalaku terkulai di sandaran sofa, mataku terbuka menatap lantai namun terlihat seperti berkabut. Pikiranku perlahan kosong dan kembali di isi oleh suara yang terus menerus mengatakanku bodoh.

“…kit…pa…”

Seperti ada suara sayup-sayup. Namun karena terdengar jauh dan tak jelas aku mengabaikan itu.

“…ay…kit…pa…”

Suara sayu-sayup itu masih ada, tapi tertimpa dengan suara di kepalaku yang terus memaki diriku.

Sebuah guncangan lembut di bahu membangunkanku dari…tidur? Lamunan? Aku menoleh ke arah guncangan dan melihat Reza sepertinya sedang bicara kepadaku, namun suaranya terdengar jauh.

Aku melihatnya dan memperhatikan gerak bibirnya. Perlahan fokusku kembali dan suara Reza terdengar jelas. Seperti ada tombol volume yang diputar di dalam kepalaku.

Reza menatapku beberapa detik, lalu mencondongkan tubuhnya sedikit.

“Kamu sakit apa, Bay?” suaranya pelan, seperti takut membuatku makin pusing.

Aku menarik nafas panjang, mencoba mengatur irama kata. “Pusing…sama perut rasanya sakit dan agak mual.”

“Wah, itu sih laper,” katanya dengan nada setengah bercanda tapi masih ada khawatir di ujungnya. “Tenang aja. Cania lagi masak sup ayam. Tadi rencananya mau dimasak di puncak, tapi karena kamu sakit, yaudah kita masak di sini aja.”

Dari dapur terdengar suara panci, bunyi pisau beradu dengan talenan, dan aroma bawang yang mulai menguar. Aneh, aroma itu justru membuat kepalaku semakin berputar.

|Jangan makan.|

Suara itu muncul lagi.

|Mereka bisa meracunimu.|

Aku menunduk. Memejamkan mata. Suara itu semakin keras.

Lihat selengkapnya