Suara di kepalaku akhirnya mereda—atau mungkin aku sudah terlalu lelah untuk mendengarnya.
Dari arah TV yang sejak tadi lupa aku matikan, cahaya bergerak di dinding. Suara pembawa berita terdengar pelan di antara dengung darah di telingaku.
“Telah ditemukan meninggal dunia vokalis band Svaranala, Arya Pranoto, di apartmentnya pagi tadi. Polisi menyatakan tidak ada tanda kekerasan, dan—“
Aku menoleh. Layar TV menampilkan foto Arya: senyumnya tipis, mata teduh, persis seperti dalam setiap wawancara yang dulu kucermati dengan penuh kagum. Di bawah foto itu terpampang tulisan tebal:
ARYA PRANOTO MENINGGAL DUNIA, DIDUGA BUNUH DIRI.
Dadaku terasa sesak. Nafasku memburu, seperti udara tiba-tiba menolak masuk.
“Tidak…tidak mungkin…”
|Lihat itu, Bayu.|
Suara itu kembali. Suara yang tadi mengulang-ulang kata yang memuakkan kini terdengar puas.
|Bahkan Arya meninggalkanmu. Idolamu. Bayangan dirimu. Katamu dulu kalian sama-sama hancur tapi masih bisa bertahan, ya kan? Tapi lihat dia sekarang—hanya seonggok tubuh yang tergantung di plafon.|
“Berhenti…” bisikku.
|Tidak. Lihat baik-baik!|
Layar TV berganti menampilkan potongan gambar polisi membawa kantong hitam keluar dari gedung. Tanganku gemetar, tubuhku berat.
|Kau kira kau kuat seperti dia? Kau kira kau bisa bertahan sendirian di dunia yang bahkan menertawaknmu? Hahahah! Lihat pahlawanmu, Bayu. Dia bahkan tidak cukup kuat untuk menatap dirinya sendiri di cermin!|
Suara itu tertawa keras—tawa yang panjang, jahat, menggema dari dinding ke dinding. Aku menutup telinga, tapi tawa itu menembus ke dalam.
|Hahahahahaha! Semua pergi, semua mati! Dila tidak ada, Arya pun tidak ada. Hanya kau yang tersisa, Bayu. Hanya kau, di antara suara-suara, gema dan bayanganmu sendiri!|
“Hentikan…”
|Tak ada yang tersisa.|
“Hentikan, tolong…”
|Hahahahahaha!|
Aku berteriak sekuat tenaga hingga suaraku pecah. Tapi tawa itu tak berhenti. Dunia di sekitarku bergoyang, dindingnya bagaikan menolak wujudnya sendiri. Lampu TV berkedip, bayanganku di lantai bergerak tanpa menunggu tubuhku.
Aku memukul lantai, tanganku bergetar hebat, air mata keluar tanpa sadar. Aku ingin bicara, ingin meminta suara itu diam—suara tawanya bagaikan ular beludak yang menyusup dari telinga dan mencengkram erat otakku—membuat lidahku berat.
Satu kata, dua kata, semuanya buyar sebelum sempat keluar.
Dan akhirnya…yang keluar dari mulutku sendiri justru terdengar asing.
“Hentikan…”
Suaraku serak, nyaris seperti bisikan anak kecil.
“Hentikan! Jangan…”
Aku berhenti.
Jangan apa?
Jangan tertawa?
Jangan bicara?
Jangan tinggalkan aku?
Semuanya bercampur.
“Jangan…”
Aku memejamkan mata kuat-kuat. Kata itu hilang lagi seperti kabut yang tertiup angin.
“…ini…” suaraku bergetar. “…ini…”
Aku tahu ada yang salah.
Aku tahu itu tapi aku tak bisa menemukan kata yang tepat.
“…ini...”
|Oh?|
Suara itu terdengar tertarik. Dia seperti menungguku untuk menyelesaikan kalimatku tapi kata-kata tidak diam di kepalaku, mereka muncul berputar-putar acak lalu menghilang.
Aku menatap lantai dan mataku melihat retakan di dekat tanganku. Sebuah kata muncul tapi aku tak yakin apakah itu kata yang benar.
“Langitnya…”
Aku mengernyit.
“Langitnya…retak.”
Mungkin itu kata yang benar, mungkin itu yang aku maksud.
Dadaku naik turun cepat, aku berusaha mencari kata berikutnya.
|Terus…| Suara itu mengekeh.
Aku berpikir lagi, kata-kata kembali berputar di dalam kepalaku dan aku berusaha menangkap satu.
“Hujan…”
Bukan hujan. Tapi mungkin iya.
Rasanya seperti hujan.
“Hujan…hujan dingin…”
|Lanjutkan!|
Suara itu terdengar senang sekarang, mungkin yang aku katakan ini benar.
“Hujan dingin…yang beku.”
Aku terdiam.
Kalimat itu keluar begitu saja, entah kenapa rasanya benar.
Lebih benar daripada kata-kata yang sebelumnya ingin aku ucapkan.
|Hahahaha! Bagus!|
Tawa itu menggema lagi.
Aku mencoba menahan kata-kata berikutnya, tapi semuanya sudah berubah bentuk.
“Jam…”
Aku menatap TV yang berkedip.
“…salah…”
|Ya, lalu?|
Aku mengangkat tangan gemetar.
“Muter…ke belakang.”
Kepalaku terasa ringan sekaligus menakutkan, seolah aku baru menemukan bahasa yang selama ini tersembunyi di bawah bahasa manusia.
“Dan…”
Aku melihat bayanganku sendiri di layar TV.
“Matanya bicara.”
Setiap kalimat terasa seperti campuran mimpi dan sadar, tapi bagiku semuanya masuk akal.
|Lanjutkan, Bayu, lanjutkan. Aku suka itu.|
Suara itu tertawa lagi seperti benar-benar terhibur.
|Akhirnya kau bicara dalam bahasa yang seharusnya! Bahasa dari dalam! Bahasa milik kita!|
Apa yang terjadi padaku?
|Kau sudah di jalan yang benar. Orang lain tak perlu mengerti apa yang kau katakan. Hanya aku yang bisa.|
Aku takut.
|Tak usah takut. Kau tak perlu lagi merangkai kata untuk bicara. Ucapkan saja apa yang ada di hatimu. Itulah yang paling jujur. Orang lain tidak akan bisa melakukan itu karena mereka diselimuti kebohongan dan tipu daya.|
Aku mengangguk, memeluk erat lututku seakan itu jangkar terakhir agar aku tidak jatuh ke…entahlah, mungkin ke sesuatu tempat yang lebih dalam lagi.
|Aku paham. Aku tidak akan meninggalkanmu. Ketika yang lain pergi, akulah yang tetap tinggal.|
Aku menarik nafas pelan, tenggorokanku kering.
Udara di sekitar terasa berat, tapi di antara dengung dan gema yang berseliweran di kepalaku, suara itu yang terdengar paling nyata—paling menenangkan.
Aku menunduk, mataku terasa panas.
|Kau sudah sampai di tempat yang benar. Tak perlu mencari siapapun lagi.|
Aku mengangguk pelan, meski pandanganku kabur. Ada sesuatu yang merambat di dalam dadaku, tapi anehnya…aku tak ingin melawannya.
|Tidak apa-apa. Sekarang istirahatlah. Biarkan aku yang berjaga.|
Aku memejamkan mata.
Satu detik, dua detik—semua suara di luar tubuhku lenyap.