|Hah. Lihat dia! Lihat apa yang sudah kau lakukan. Aku bilang juga apa—ini mudah.|
|Diam! Kau yang membuatnya begini. Kau memaksanya saat dia sudah lelah.|
|Oh, jangan munafik.|
|Kau juga menekannya. Kau suruh dia dengerin kau terus. Kau bilang kau pelindung—nyatanya?|
|Dia bahkan gak bisa dengar kita sekarang.|
|Tapi yang kau lakukan pun sudah kelewatan. Aku tak mau dia pingsan. Aku tidak ingin…ini.|
|Terlambat. Dia sudah terlalu rapuh. Sekarang dia diam…dan itu bagus. Kita bisa bergerak bebas di kepalanya.|
|Tidak. Kau tidak mengerti—dia harus tetap sadar. Jika tidak, aku mungkin ikut hilang.|