Blurb
Vivian Tanjaya jatuh cinta sejak duduk di bangku sekolah pada guru geografinya, Pontius Bhre Nareswara. Lelaki itu hangat, cerdas, formal tapi lucu, dan selalu memanggil dirinya sendiri dengan "saya". Vivi mengira perasaan itu cuma naksir remaja, sesuatu yang akan hilang bersama kelulusan dan waktu.
Ternyata tidak.
Hidup justru terus mempertemukan mereka. Bhre kembali hadir sebagai dosennya saat Vivi kuliah di jurusan komunikasi, lalu bertahun-tahun kemudian sebagai senior sekaligus rekan kerja di Felicity Narrative & Research, perusahaan konsultan riset media tempat mereka bekerja. Nama yang dulu hanya ia tulis diam-diam di sudut buku kini menjadi nama yang muncul di email kantor, ruang rapat, revisi laporan, dan obrolan kecil sepulang lembur.
Hanya saja, hidup tidak berhenti berjalan untuk Bhre. Ia bukan lagi guru muda yang ringan dan mudah dikagumi dari jauh. Ia telah menikah, membangun hidupnya sendiri, memikul tanggung jawab, kelelahan, dan luka yang tidak semua orang bisa lihat.
Dan di situlah kegalauan Vivi tumbuh. Bahwa cintanya tidak hilang, tetapi ia tahu dirinya tidak berada di posisi untuk meminta apa pun.
Maka ia memilih diam. Ia menyelipkan debarannya di balik pekerjaan, kopi kantor, presentasi klien, peta-peta riset, dan candaan receh di sela lembur; menyembunyikan perasaannya di antara spreadsheet, revisi proposal, serta tawa yang terdengar biasa saja. Ia belajar mencintai dari jauh, dengan cara yang tidak mengganggu siapa pun, terutama kehidupan lelaki yang ia cintai.
Kadang, hatinya bertanya, apakah cinta yang tidak mungkin tetap boleh ada? Dan apakah kebahagiaan harus selalu berarti memiliki?
Bagi Vivi, jawabannya sederhana dan rumit sekaligus, yaitu melihat Bhre dari dekat, bekerja bersama, mendengar suara laki-laki itu memanggil namanya setiap hari, lalu menyebut nama Bhre diam-diam di dalam doa. Begini saja sudah bahagia.