VIVI
Siapapun pasti dengan sigap akan mengatakan bahwa perasaanku kepada laki-laki itu adalah cinta monyet. Bahkan dulunya aku berpikir yang sama. How do I know that underestimated feeling evolves into something bigger, much bigger, persis seperti evolusi kera menjadi manusia?
Hei! Aku tidak bodoh, ya! Aku tahu, teori evolusi Darwin tidak pernah menjelaskan bahwa manusia berasal dari kera, monyet, yang bergelantungan di atas pohon atau di pagar kerangkeng kebun binatang. Orang-orang berpikir seakan di suatu sore berangin di atas geladak kapal Beagle, Charles Darwin berdiri, kemudian mendadak menunjuk seekor kera, lalu bersabda, “Itulah nenek moyang kita.”
Padahal, On the Origin of Species adalah tentang perubahan mahluk hidup dari waktu ke waktu melalui seleksi alam, bukan tentang manusia yang mendadak turun dari pohon dan memutuskan untuk menjadi mahluk berjas dan minum latte di sebuah coffeeshop.
Yang tidak banyak di ketahui orang, bertahun-tahun kemudian, di The Descent of Man, barulah Darwin menyinggung manusia. Itu pun, ia tidak mengatakan manusia berasal dari kera modern seperti yang kita lihat sekarang. Manusia dan kera memiliki nenek moyang sama dari garis purba yang bercabang. Jadi bukan manusia berasal dari monyet, tetapi manusia dan monyet berjalan dari satu titik yang sama, lalu memilih jalannya masing-masing ditentukan oleh hutan, cuaca, kelaparan, ketakutan, waktu, bahkan cinta.
Kalau aku sebodoh itu, bisa protes keras Pak Bhre kepadaku.
Ehm, soal Pak Bhre, harusnya kujelaskan kemudian.
Tapi, intinya evolusi Darwin ini hanya kugunakan untuk menganalogikan cinta monyetku itu yang ternyata berkembang menjadi perasaan cinta yang jauh lebih kuat tanpa aku sadari. Ya, sama dengan evolusi yang merupakan hasil dari proses panjang yang sabar dan tidak tergesa.
Oh ya, sebelum kalian salah paham, aku belum tentu setuju dengan teori Darwin seratus persen, lho, ya. I still have my own critical thinking, and faith, of course. If you know what I mean.
Pak Bhre juga bilang begitu kepadaku.
Ah, ya, Pak Bhre.
Sudah kukatakan berapa kali namanya, ya?
Nama lengkapnya Pontius Bhre Nareswara.
Dulu, aku benar-benar mengira itu hanyalah sebuah fase. Crush dramatis yang diciptakan seragam putih abu-abu dan hormon yang liar dan tak tahu diri. Bahkan sewaktu nyatanya dia menjadi dosenku di masa kuliah, aku menertawakan diriku sendiri keras-keras, “Please, kamu itu cuma terkesan dengan seorang sosok pendidik yang pinter.”
“Pendidik”? Well, yes. Pak Bhre adalah guru geografiku sewaktu masih di bangku SMA yang kemudian juga menjadi dosen jurusan komunikasiku di kampus.
Kebetulan yang benar-benar kebetulan, atau teori evolusi itu sungguh ada, evolusi cinta tepatnya.
Bagaimana tidak, setelah sepuluh tahun berlalu semenjak aku menjadi muridnya, aku masih duduk di ruangan yang sama dengannya.
Bedanya, aku tidak lagi memanggilnya, “Pak”. Di kantor, kami rekanan, dan semua orang memanggilnya “Mas”, Mas Bhre.