Kalau ditanya, jujur aku selalu bingung menjelaskan kepribadianku sendiri.
Kalau terlalu lama sendirian, aku capek. Tapi kalau terlalu lama bersama orang, aku juga capek. Aku suka nongkrong, suka ngobrol, suka ketawa-ketawa nggak jelas, tapi setelah itu biasanya aku butuh pulang dan diam beberapa jam seperti baterai yang harus di-charge ulang.
Aku pernah baca dan katanya itu ambivert.
Entahlah. Yang jelas aku cuma merasa hidup lebih nyaman kalau semuanya berada di kadar yang pas. Tidak terlalu dekat. Tidak terlalu jauh. Aku masih perlu gula untuk kopiku, tapi juga tidak terlalu banyak. Hanya untuk meyakinkan bahwa masih ada manis yang dicampurkan di pahitnya kopi.
Di tempat kerja, aku punya dua teman dekat. Dua-duanya perempuan. Kami makan siang bareng hampir setiap hari, saling kirim meme di jam kerja, ngomongin manuskrip klien, gosip receh kantor, atau mengeluh tentang revisi yang datang jam tujuh malam dengan embel-embel “quick fix aja ya”.
Celine terlalu obsessed sama skincare. Memang cantik sih dia. Yang satu lagi, Rara, selalu jatuh cinta sama orang baru tiap tiga bulan sekali. Memang bucin sih dia.
Tapi aku cocok dengan mereka. Mereka lucu. Aman. Kami bisa duduk di pantry selama empat puluh menit hanya untuk membahas kenapa font tertentu terasa “menyebalkan secara emosional”.
Mereka tidak tahu tentang apa yang kurasakan pada seorang Mas Bhre. Bukan karena aku sengaja menyembunyikannya dengan dramatis. Justru karena aku terlalu pandai terlihat biasa.
Kalau Mas Bhre lewat, aku tetap ngomong seperti biasa. Kalau namanya muncul di obrolan, aku tetap ikut bercanda. Tidak ada yang berubah di wajahku. Aku sudah terlalu lama hidup bersama perasaan ini sampai akhirnya ia menyatu dengan sistem tubuhku sendiri.
It’s like a background music. Always there, but subtle.
Lagipula, kalau dipikir-pikir, mau cerita apa coba?
“Hai guys, aku cinta sama mantan guru geografi SMA dan dosenku sewaktu kuliah yang sekarang jadi atasanku dan sudah menikah”? “And guess what? Mas Bhre orangnya. Iya, Mas Bhre yang itu.”
No, thanks.
Di luar kantor, aku punya tiga sahabat yang sudah bersamaku lebih dari sepuluh tahun. Kami berempat aneh.
Benar-benar aneh.
Hubungan kami tidak seperti persahabatan perempuan yang sering kulihat di media sosial, yang penuh posting ulang story, long caption ulang tahun, atau kalimat “my safe place”. Kami nyaris tidak pernah melakukan itu.
Kami tidak posesif, tidak sensitif, dan tidak menuntut.
Kadang salah satu dari kami menghilang dua minggu, Veronica, lalu tiba-tiba muncul mengirim link makanan tengah malam tanpa konteks.
Kadang kami nongkrong enam jam membahas film, politik, urban legend yang jadi favoritnya Jessica si penggemar novel dan film horor, dan teori konspirasi receh bahan-bahannya Nadya, lalu pulang tanpa pelukan emosional atau kalimat “hati-hati ya sayangku, cintaku”.
Dan anehnya, it works.
Aku dulu berpikir inilah bentuk persahabatan paling sehat. Tidak saling mencekik. Tidak saling memiliki. Tidak ada drama “kok kamu berubah”. Persahabatan ini hanya, apa ya istilahnya… ada? It is steady, low maintenance, but pretty functional.
Sesekali aku cerita soal Mas Bhre kepada mereka.
“Kayaknya aku emang nggak akan bisa move on deh,” kataku suatu malam sambil makan bakmi di tempat makan langganan kami.
Jessica mengangguk santai. “Ya udah, nggak usah move on,” katanya acuh tak acuh.
Veronica malah bertanya, “Eh tapi serius, menurut kalian pangsit rebus lebih superior daripada goreng nggak sih?”
Dan, topik pun berganti.
Dan aku tertawa. Selalu tertawa.