Kalau orang mendengar kata “penerbitan’, mereka biasanya membayangkan ruangan sunyi penuh buku dan manusia-manusia introvert berkacamata yang hidup dari kopi sachet dan revisi typo.
Jujur saja, sebagian memang benar.
Tapi Felicity Narrative & Research jauh lebih aneh daripada itu.
Secara resmi, perusahaan kami bergerak di bidang publishing, editorial development, dan narrative research. Kedengarannya rumit. Dan memang agak rumit menjelaskannya ke keluarga besar saat kumpul Imlek.
“Jadi kerja kamu tuh sebenarnya ngapain?”
Pertanyaan itu selalu muncul. Kebanyakan dari keluarga. Tahu sendirilah rasa penasaran mereka mengenai kehidupan anggota keluarga lain melebihi kekepoan netizen pada selebritas.
Biasanya aku menjawab, “Bantu orang bikin buku.”
Padahal praktiknya lebih luas dari itu.
Felicity menangani buku nonfiksi, memoar, longform journalism, sampai proyek riset naratif untuk institusi dan tokoh publik. Kadang kami membantu seorang akademisi menyusun buku pemikiran yang terlalu berantakan untuk dibaca manusia normal. Kadang kami membantu pengusaha menulis memoir. Kadang kami mengubah hasil penelitian kaku menjadi buku yang terasa hidup.
Kami menjual narasi. Versi keren dan profesionalnya seperti itu.
Kantor pusat kami berada di Nagoya, jantung bisnis Kota Batam.
Dan kalau orang luar membayangkan Batam cuma kota industri penuh galangan kapal dan pekerja migran, itu tidak sepenuhnya salah tapi juga sudah lama tidak lengkap.
Batam tumbuh terlalu cepat.
Mall baru muncul terus. Café artisan menjamur tiap beberapa bulan. Cowok-cowok umur tiga puluhan mulai pakai tote bag dan bicara soal “work-life balance” sambil tetap lembur sampai malam. Orang meeting di coffee shop dengan MacBook terbuka seperti adegan startup Jakarta, tapi setelahnya masih makan seafood pinggir jalan atau ngopi di ruko sampai tengah malam.
Kota ini metropolitan, tapi tanggung. Modern, tapi masih berantakan dengan cara yang manusiawi.
Orang-orang Batam hidup cepat karena kota ini dibangun untuk bergerak. Letaknya dekat Singapura dan Malaysia, industrinya besar, uang berputar cepat, dan pendatang datang dari mana-mana. Melayu, Tionghoa, Batak, Jawa, Minang, Flores, semuanya bercampur sampai logat orang sini sendiri kadang susah dijelaskan.
Well, tapi aku suka itu.
Batam terasa ambisius tanpa benar-benar sok kosmopolitan.
Felicity sendiri menempati tiga lantai sebuah gedung komersial modern dekat pusat Nagoya. Dari luar, gedungnya tidak terlalu mencolok. Kaca hitam. Lobby dingin. Lift yang kadang terlalu lama datang. Tapi cukup bonafide untuk membuat orang tuaku berhenti khawatir aku akan hidup miskin setelah lulus kuliah jurusan komunikasi.
Lantai pertama untuk operasional dan marketing.
Lantai kedua editorial dan research.
Lantai paling atas ruang direksi, studio podcast kecil, dan satu meeting room besar dengan jendela kaca menghadap laut dan lampu-lampu kapal kalau malam.
Jumlah pegawai tetap kami sekitar tiga puluhan. Tidak sebesar perusahaan media nasional di Jakarta, tapi cukup besar untuk menangani proyek-proyek skala nasional. Klien kami datang dari banyak kota. Bahkan sesekali dari Singapura dan Kuala Lumpur.
Pagi hari di Felicity biasanya dimulai dengan suara mesin kopi, keyboard, dan orang-orang yang pura-pura tidak stres. Meja editorial selalu penuh buku, sticky notes, kabel charger, dan print-out revisi.
Ada hari-hari ketika kantor terasa sangat intelektual. Ada diskusi soal budaya digital, politik identitas, atau kenapa memoir tokoh publik Indonesia sering terdengar terlalu aman. Ada juga hari ketika seluruh ruangan ribut hanya karena font cover buku terlihat “kurang punya spiritualitas”.
Aku tidak bercanda.
Dan di tengah semua kekacauan yang oddly comforting itu, ada Mas Bhre yang selalu terlihat tenang.
Cara bicaranya stabil. Senyumnya lebar. Dan semakin lama aku semakin sadar bahwa humornya receh.
“Kalau deadline makin dekat,” katanya suatu pagi sambil melihat draft revisi, “berarti kita makin dekat juga dengan Tuhan.”
Aku tak tahan untuk tertawa ssembari menutup muka.
“Mas tuh jokes bapak-bapak banget.”
“Saya memang bapak-bapak.”
“Masih denial muda,” tukasnya.
Dia tertawa kecil.
Ah, God knows betapa berbahayanya hal-hal kecil seperti itu buatku.
***
Sore itu kami lembur berdua di ruang editorial. Hujan turun dari tadi siang dan sebagian besar orang sudah pulang. Aku duduk sambil merapikan draft biografi pengusaha lokal yang egonya terlalu besar untuk ditampung tiga ratus halaman.
Mas Bhre berdiri di dekat rak buku sambil membaca print-out revisi.
“Tahu nggak,” katanya tiba-tiba, “klien kita ini kalau diwawancara suka menjawab pertanyaan yang tidak ditanyakan.”