Aku kadang lupa bahwa Mas Bhre punya kehidupan di luar kantor. Lalu Tuhan mengingatkanku dengan cara-cara kecil yang aneh. Misalnya pada misa Minggu di Gereja Katolik Santo Petrus.
Aku sebenarnya jarang duduk terlalu depan. Biasanya di tengah agak belakang, dekat kipas angin, dekat pintu samping kalau tiba-tiba ingin cepat pulang. Hari itu aku datang sedikit lebih awal dan misa belum dimulai. Jadilah aku duduk di depan, di pekarangan altar.
Dan lalu aku melihatnya.
Mas Bhre duduk beberapa baris di depan. Bersama istrinya.
Minggu-minggu berikutnya, aku ke gereja tidak pernah lagi terlalu awal, dan kembali duduk di bagian belakang.
Perasaanku aneh, tapi bukan seperti adegan patah hati dramatis di film. Tidak ada musik sedih. Tidak ada rasa marah. Bahkan tidak benar-benar cemburu.
Lebih seperti, “Oh iya. Aku lupa. Lupa bahwa lelaki yang hampir tiap hari duduk bersamaku membahas buku, media, dan manusia itu pulang kepada seseorang.”
Seperti yang kulihat di media sosial, istrinya cantik. Dan dewasa. Aku bahkan tidak tahu bagaimana menjelaskannya selain kata dewasa. Rambutnya pendek sebahu. Cara duduknya tenang. Sesekali ia menunduk mendengarkan Mas Bhre bicara kecil di sampingnya. Mereka terlihat cocok.
Dan itu justru membuatku tidak bisa membenci apa pun.
Aku menunduk selama misa berlangsung, berusaha fokus pada liturgi sambil sesekali diam-diam melihat ke arah mereka. Mas Bhre beberapa kali tertawa kecil mendengar sesuatu dari istrinya. Senyumnya sama seperti di kantor. Hangat, lebar, dan hampir selalu terlihat sedikit capek.
Gara-gara ini aku mendadak merasa sangat jauh dari hidupnya. Dan anehnya, aku tidak sedih. Aku hanya merasa ditempatkan kembali ke realitas. Bahwa perasaanku ini sebenarnya tidak punya tujuan apa-apa. Bahwa mungkin memang begini saja bentuknya, diam-diam menyukai seseorang sambil hidup di orbit yang aman. Aku bahkan tidak pernah benar-benar ingin tahu banyak tentang istrinya. Rasanya seperti wilayah yang tidak sopan untuk kusentuh terlalu jauh.
Mas Bhre sendiri hampir tidak pernah membicarakan rumah tangganya di kantor. Sesekali menyebut istrinya kalau konteksnya relevan. Misalnya soal makanan, liburan singkat, atau karena harus pulang cepat. Tidak pernah lebih.
Dan aku diam-diam bersyukur untuk itu. Karena aku tidak tahu apakah aku cukup kuat mendengar detail-detail kecil kehidupan mereka.
Aku menunduk melihat diriku sendiri sesaat.
Dress hitam sederhana. Cardigan tipis abu-abu. Rambut panjangku jatuh sampai punggung, hitam sekali di bawah lampu gereja. Secara alami rambutku lurus, tapi beberapa tahun terakhir aku suka membuatnya sedikit bergelombang supaya tidak terkesan terlalu “anak baik-baik”. Atau mungkin supaya terlihat sedikit lebih menarik. Aku tidak tahu sejak kapan alasan-alasannya mulai berubah.
Aku cukup cantik. Aku tahu itu.
Sebagai perempuan, aku rasa kita memang harus bisa mengakui itu pada diri sendiri. Bukan narsis, cuma menghargai diri sendiri saja. Aku merawat wajahku, memilih baju yang cocok, menjaga penampilan. Dulu alasannya murni karena aku suka merasa rapi dan enak dilihat.
Sekarang? Yah, mungkin sedikit-sedikit aku ingin terlihat bagus di depan seseorang. Dan itu menyebalkan sekali untuk diakui.
Tubuhku tinggi. Hampir setinggi Mas Bhre sebenarnya. Karena itu aku tidak pernah terlihat mungil atau imut seperti perempuan-perempuan yang sering dipuja orang. Aku juga tidak seramping mantan pacar dan istri Mas Bhre yang, jujur saja, punya tipe tubuh elegan perempuan dewasa.
Aku lebih proporsional. Atau begitu kata orang-orang. Karena tinggi, bentuk tubuhku jadi terlihat seimbang. Tidak kurus, tapi juga tidak pernah benar-benar gemuk. Jenis tubuh yang kalau difoto berdiri akan terlihat bagus, tapi kalau duduk sembarangan tetap bisa panik sendiri melihat lipatan perut atau paha.
Dan jidatku lebar.
Aku tidak suka bagian itu sejak kecil.
“Bagus kali itu,” kata Mama dulu. “Mukamu jadi mahal.”
Aku tidak tahu apa hubungan jidat dengan kemahalan wajah. Lagipula, bagaimana caranya menaksir mahal murahnya wajah?
Beberapa orang bilang jidat lebar membuat wajahku terlihat elegan. Ada juga yang bilang itu justru bagian paling cantik dariku. Tetap saja aku kadang menatap kaca sambil berpikir, apa susahnya sih Tuhan ngurangin dikit aja?
Masalahnya aku juga tidak suka poni yang normalnya digunakan untuk menutupi jidat yang selebar landasan pacu pesawat ini. Gerah, repot. Jadi ya sudah. Terima takdir saja.
***
Beberapa minggu kemudian, aku duduk di Nagoya Food Court bersama tiga manusia paling aneh yang pernah dipertemukan Tuhan dalam satu lingkaran pertemanan.
Veronica datang terlambat empat puluh menit tanpa rasa bersalah. Jessica membawa novel horor Jepang yang sampulnya menyeramkan dan absurd parah. Nadya sedang menjelaskan teori konspirasi baru tentang kenapa sebagian besar café modern memakai warna earth tone.
“Karena orang kaya takut warna,” katanya serius sambil makan kwetiau.