Di Felicity, ada satu jenis suasana yang selalu bisa dikenali semua orang tanpa perlu diumumkan secara resmi. Suasana proyek besar.
Cirinya sederhana dan gampang dikenal dengan baik. Orang-orang mulai pulang lebih malam, pantry lebih cepat kehabisan kopi, printer bekerja seperti sedang membayar dosa keluarga turun-temurun, dan grup WhatsApp kantor mendadak aktif bahkan jam sebelas malam hanya untuk membahas hal-hal seperti:
> “Ini footnote halaman 47 pakai titik koma atau koma biasa?”
Dan entah kenapa, semua orang menganggap itu penting.
Minggu itu kantor sedang persis berada dalam fase tersebut.
Proyeknya datang dari sebuah perusahaan pengembang kawasan pesisir yang ingin membuat proyek naratif besar untuk ulang tahun perusahaan mereka yang ke-25. Bukan sekadar company profile biasa. Mereka ingin buku, mini dokumenter, digital archive, timeline visual, sampai pameran kecil yang bisa dipasang saat gala dinner perusahaan.
Bahasa sederhananya mereka ingin terlihat visioner, historis, manusiawi, modern, dan dekat dengan rakyat sekaligus.
Yang mana ini juga berarti satu hal, repot.
“Ini bukan proyek editorial lagi,” keluh Rena dari tim visual sambil menatap timeline di layar meeting room. “Ini udah Avengers-level threat.”
“Aku jadi Hulk ya,” sahut anak layout.
“Kamu lebih cocok NPC[1] warnet,” balas Rena.
Ruangan langsung ribut.
Aku duduk sambil membuka laptop dan menahan tawa.
Di ujung meja, Mas Bhre berdiri sambil memegang remote presentasi. Kemeja putihnya tergulung sampai siku. Rambutnya sedikit lebih berantakan dari normal. Itu tanda dia mulai kurang tidur. Dan sayangnya, itu malah membuatnya terlihat lebih menarik.
Menyebalkan, bukan?
“Fokus sebentar ya, Avengers editorial,” katanya tenang.
Semua langsung diam.
Aku kadang heran kenapa Mas Bhre bisa membuat satu ruangan otomatis tenang tanpa harus galak. Nada suaranya tidak pernah keras, tapi selalu terdengar stabil. Seperti orang yang memang tahu apa yang sedang dia lakukan.
Slide presentasi berganti. Foto-foto pelabuhan lama muncul di layar. Ada foto kapal kayu, buruh angkut, arsip pembangunan Batam tahun sembilan puluhan, serta jalanan lama Nagoya yang masih penuh ruko pendek dan papan toko warna-warni.
“Apa yang mereka jual sebenarnya bukan gedung,” kata Mas Bhre. “Mereka menjual gagasan tentang pertumbuhan.”
Nah!
Kalau dia mulai bicara seperti itu, meeting biasanya berubah jadi kuliah gratis.
“Kita nggak bikin company profile,” lanjutnya. “Kita bikin narasi tentang bagaimana satu perusahaan tumbuh bersama kota.”
Anak visual mengangkat tangan.
“Mas, ini nanti jatuhnya history project atau branding?”
“Dua-duanya.”
“Apa nggak terlalu berat?” dia bertanya kembali.
Mas Bhre tersenyum kecil. “Makanya kita pakai pendekatan spatial narrative.”
Beberapa orang langsung terlihat pura-pura paham.
Aku nyaris ketawa.
Mas Bhre melanjutkan, “Spatial narrative itu sederhananya melihat bagaimana ruang membentuk cerita manusia.”
Ia menunjuk foto pelabuhan, “Kota pelabuhan seperti Batam dibangun dari perpindahan manusia. Orang datang, pergi, bertahan, gagal, mulai lagi. Jadi identitas kota ini cair.” Ia berhenti sebentar. “Dan perusahaan yang tumbuh di kota seperti ini pasti ikut menyerap karakter itu.”
Aku otomatis fokus penuh. Mas Bhre memang begitu. Bahkan teori terasa seperti obrolan.
“Makanya proyek ini nggak bisa cuma bicara soal angka investasi,” lanjutnya. “Kita harus menangkap perasaan kotanya.”