Proyek besar itu akhirnya masuk tahap paling melelahkan sekaligus paling intim. Penyusunan struktur akhir sudah dimulai.
Kalau di dunia konstruksi mungkin ini istilahnya seperti finishing interior. Bangunan utamanya sudah berdiri, tapi justru bagian detail-detail kecilnya yang paling menguras tenaga dan emosi. Dan di sinilah aku benar-benar tenggelam.
Secara teknis, proyek kami adalah buku naratif sekaligus strategic corporate storytelling untuk sebuah grup usaha maritim besar di Batam yang sedang ekspansi ke Singapura dan Johor. Kedengarannya sangat corporate dan membosankan, padahal prosesnya absurd sekali.
Kami harus membaca puluhan transkrip wawancara, menyusun ulang sejarah perusahaan yang berantakan, atau memilah mana cerita yang terlalu glorifikasi dan mana yang terlalu jujur sampai bisa bikin masalah hukum. Karena pada dasarnya tugas Felicity memang seperti itu, membantu orang menceritakan dirinya sendiri tanpa terdengar palsu.
Dan ternyata itu sulit.
Aku kebagian mengurus timeline historis, riset arsip media lama, dan menyusun benang merah narasi keluarga pendiri perusahaan. Sedangkan Mas Bhre memimpin struktur besar bukunya yang terdiri atas alur emosi, positioning tokoh, tone komunikasi, sampai strategi bagaimana pembaca bisa merasa dekat dengan figur yang sebenarnya sangat jauh dari kehidupan mereka.
“Audience itu nggak jatuh cinta sama data,” katanya suatu sore sambil menunjuk draft revisi di layar laptopku. “Mereka jatuh cinta sama manusia.”
Kami sedang duduk di pantry kantor. Jam sudah lewat delapan malam. Separuh lampu ruangan dimatikan. Hanya area editorial yang masih hidup seperti kapal kecil yang menolak tidur.
Aku membuka kaleng kopi dingin sambil mengangkat alis.
“Mas ngomong kayak creative director agency.”
Ia mengesah, “Saya memang gagal jadi banyak hal.”
“Contohnya?”
“Musisi.”
Aku langsung tertawa.
“Mas bisa main musik?”
“Bisa sedikit.”
“Sedikit itu definisinya apa? Main Wonderwall-nya Oasis?”
Dia tertawa kecil sambil menyender ke pantry counter.
“Dulu waktu kuliah saya suka main gitar.”
“Kalau sekarang?”
“Sekarang lebih sering main deadline.”
Aku menutup muka sambil ketawa. Receh amat.
Tapi ya Tuhan, kenapa menyenangkan sekali ngobrol sama dia?
Di luar kantor, lampu-lampu Nagoya terlihat seperti garis kuning kabur di balik kaca. Kota ini memang tidak pernah benar-benar tidur. Bahkan jam segini pun masih ada motor lewat, suara klakson samar, dan cahaya minimarket dua puluh empat jam di seberang gedung.
Mas Bhre membuka laptop lagi.
“Nah, bagian ini,” katanya sambil menunjuk draftku, “bagus sebenarnya. Kamu mulai bisa bikin data terasa emosional.”
Aku langsung menoleh cepat. “Hah?”
“Iya.” Dia tetap melihat layar. “Kamu dulu terlalu akademis nulisnya.”
Aku pura-pura tersinggung. “Lah itu penghinaan atau pujian?”
“Evaluasi.”
“Corporate banget jawabannya.”
Dia tertawa pelan.
Aku diam beberapa detik sambil memperhatikannya dari samping. Hari itu dia belum sempat cukur. Kumis dan janggut tipis mulai muncul di rahangnya. Tidak tebal, hanya bayangan gelap yang membuat wajahnya terlihat sedikit lebih lelah dan jauh lebih dewasa. Dan aku benci fakta bahwa aku memperhatikan detail seperti itu.
Aku memperhatikan cara dia melipat lengan kemeja, cara dia mengetik, ketika dia diam sambil berpikir, bahkan suaranya pun mulai terekam terlalu jelas di kepalaku.
Kadang aku takut kalau suatu hari aku tidak bisa lagi membedakan mana Mas Bhre yang nyata dan mana versi yang sudah dibangun otakku sendiri.
“Kenapa?” tanyanya tiba-tiba.
Aku tersentak. “Hah?”
“Kamu ngelamun.”
“Lagi mikir revisi.”
“Bohong,” sergahnya.
Aku langsung nyengir salah tingkah.
“Mas kok tahu?”
“Kamu kalau mikir revisi baisanya mukanya galak.”
Aku tertawa kecil.
“Kalau ngelamun?”
“Sedih.”
Aku langsung diam.
Sialan!
Kadang Mas Bhre mengatakan sesuatu dengan nada biasa saja, tapi efeknya seperti orang menjatuhkan batu kecil ke air tenang.
Pelan, tapi riaknya ke mana-mana.
***
Dua hari kemudian kami meeting di coffee shop seberang kantor, lagi.