Begini Saja Sudah Bahagia

Nikodemus Yudho Sulistyo
Chapter #7

Doa

Kadang aku suka berpikir, kalau Vivi umur enam belas tahun bisa melihat hidupku sekarang, dia pasti langsung pingsan di tempat.

Karena dulu semuanya terasa mustahil.

Pak Bhre itu guru, aku murid. Lalu dia jadi dosen, aku jadi mahasiswa. Dan sekarang? Sekarang aku duduk satu meja dengannya sampai malam, membahas buku, manusia, media, kopi, dan kehidupan seperti kami memang sudah lama ada di orbit yang sama.

Dipikir-pikir kembali, absurd sekali ternyata.

Aku masih ingat diriku waktu SMA dulu. Duduk di kelas sambil pura-pura mencatat, padahal sebenarnya memperhatikan cara Pak Bhre menjelaskan geografi seperti sedang mendongeng.

Aku pernah mengkhayal macam-macam.

Ya Tuhan, tentu saja pernah.

Aku pernah membayangkan kami pacaran, membayangkan dia somehow sadar aku cantik, membayangkan kami bertemu lagi setelah aku dewasa dan dia berkata sesuatu yang romantis seperti di novel metropop Gramedia tahun 2000-an. Namun, bahkan dalam khayalan paling brutal pun, aku tidak pernah membayangkan kedekatan seperti sekarang ini bakal benar-benar terjadi. Ternyata yang membuatku jatuh paling dalam bukan fantasi besar, melainkan hal-hal kecil.

Seperti cara Mas Bhre mendengarkanku, mengingat detail omonganku, cara dia tertawa kalau aku mulai ngomong terlalu cepat, atau cara dia memperlakukanku seperti seseorang yang setara, bukan lagi murid atau mahasiswa. Dan sialnya bagiku, itu jauh lebih fatal.

 

***

 

Proyek besar kami akhirnya selesai dua minggu kemudian. Dan sukses.

Klien puas, direksi senang, dan yang paling penting tim editorial selamat dari collective mental breakdown. Bahkan CEO perusahaan itu mengirim hampers mahal ke kantor yang langsung diserbu anak-anak editorial seperti kawanan burung lapar.

“Kalau semua klien begini,” kata Rara sambil membuka cokelat impor, “aku rela dimarahin pas revisian.”

Kami merayakan kecil-kecilan malam itu. Tidak sampai fancy atau corporate dinner yang lebay. Cuma makan seafood rame-rame, ketawa, membahas ulang cerita horor revisi, lalu pindah ngopi karena sebagian besar orang Felicity memang tidak bisa mengakhiri proyek tanpa kafein tambahan.

Aku duduk satu meja dengan Mas Bhre dan beberapa editor lain sambil setengah mati menahan senyum sendiri karena suasana malam itu terasa terlalu hangat. Bukan hangat romantis, melainkan lebih seperti aku akhirnya benar-benar masuk ke dalam hidupnya sedikit. Dan ternyata rasanya jauh lebih membahagiakan daripada yang kubayangkan waktu SMA.

Jam sudah hampir sebelas ketika satu per satu orang mulai pulang.

Rara minta nebeng Mas Bhre karena motornya masuk bengkel, sedangkan Dion ikutan juga sampai Batam Centre. Satu editor lain yang ikut rombongan mobil Mas Bhre turun di daerah Imperium. Aku juga dipaksa Rara untuk ikut sekalian.

Mobil Mas Bhre jadi penuh suara manusia capek habis deadline panjang.

“Kalau ada proyek begini lagi aku resign,” kata Dion dramatis dari kursi belakang.

“Kamu tiap proyek ngomong gitu,” balas Rara.

“Itu karena aku konsisten orangnya,” balas Dion.

Mas Bhre ketawa sambil nyetir.

“Kalau kalian resign semua,” katanya, “saya yang masuk rumah sakit.”

“Mas nggak boleh sakit,” sahut Rara cepat. “Nanti kita semua bingung.”

Finally somebody appreciates me.”

Aku tersenyum lebar sambil melihat lampu-lampu Nagoya bergerak di luar jendela.

Batam malam hari selalu terasa sedikit aneh buatku. Kota ini ramai, modern, cepat, tapi juga punya rasa kesepian tertentu. Lampu ruko, café, hotel, apartemen, dan pelabuhan seperti hidup sendiri-sendiri tanpa benar-benar menyatu.

Di tengah perjalanan itulah ponsel Mas Bhre berbunyi. Ia membuka voice note sebentar lalu menggeleng sambil tertawa kecil.

“Istri saya nitip makanan,” kata Mas Bhre.

“Pesan makanan apaan tuh Mas?” tanya Rara.

“Itu lho, cheesecake yang lagi viral.”

“Oh itu!” seru Dion. “Antrinya gila, Mas.”

“Nah itu dia.”

“Istri Mas ngidam kali,” celetuk Rara santai.

Dan entah kenapa kata itu langsung membuatku diam.

Ngidam.

Dadaku seperti tersentak kecil.

Mas Bhre cuma tertawa ringan tanpa mengiyakan atau menyangkal. “Makanya saya disuruh antre kayak orang cari sembako.”

Semua orang langsung ketawa. Aku ikut tertawa juga, walau setelah itu aku jadi lebih banyak diam sambil melihat lampu-lampu Batam Centre lewat di balik kaca mobil.

Apa istrinya hamil?

Pikiranku langsung ribut sendiri. Tapi tentu saja aku tidak mungkin bertanya. Dan Mas Bhre sendiri tidak membahasnya lagi. Jadi sudah tepat aku memilih diam.

 

***

Lihat selengkapnya