Aku pernah pacaran satu kali dulu.
Kalau diingat-ingat sekarang, rasanya lucu juga. Karena bahkan hubungan itu terasa seperti sesuatu yang hanya terjadi padaku, bukan sesuatu yang benar-benar kujalani sepenuh hati.
Cowok itu Kevin namanya. Anak teman Papa. Kami kenal karena keluarganya main ke rumah waktu libur Natal. Orangnya baik, tinggi, lumayan punya tampang meurutku pribadi, kuliah teknik di Bandung, dan punya aura laki-laki mapan sejak muda yang gampang sekali disukai ibu-ibu komplek. Tipe cowok yang kalau datang ke rumah langsung ditanya tante-tante, “Ini serius ya orangnya?”
Dia yang mendekati duluan. Awalnya cuma follow Instagram, lalu chat, lalu entah bagaimana jadi intens. Dan karena waktu itu aku sudah kuliah semester akhir, sudah cukup dewasa untuk berpikir hidup harus berjalan normal seperti orang-orang lain, maka ketika dia menyatakan perasaan, aku menerima saja.
Tapi ya itu, tidak lama, kami pacaran hanya delapan bulan. Tidak ada drama besar. Tidak ada perselingkuhan. Tidak ada adegan nangis di parkiran sambil hujan-hujanan seperti film Indonesia awal 2000-an. Kami hanya tidak benar-benar masuk ke hidup satu sama lain.
Meskipun suatu kala Kevin pernah bilang aku sulit dibaca. “Kamu tuh kayak selalu nyisain satu pintu yang nggak dibuka,” katanya waktu itu sambil nyetir setelah makan malam.
Aku tertawa kecil karena kupikir itu cuma kalimat sok puitis anak teknik yang lagi ingin terdengar emosional. Tapi sekarang aku sadar dia mungkin benar. Aku memang tidak pernah benar-benar menyerahkan diriku sepenuhnya pada hubungan itu. Aku memberikan perhatian yang diperlukan, aku membalas chat, aku datang kalau dia mengajak pergi, aku juga mendengarkan cerita-ceritanya. Namun, sebagian diriku tetap berdiri agak jauh di belakang, memperhatikan semuanya seperti penonton tanpa masuk ke dalamnya.
Dan diam-diam, di tempat paling memalukan dalam kepalaku, alam bawah sadar, standar tentang “lelaki yang kusukai” masih selalu mengarah pada satu orang.
Siapa lagi kalau bukan Pak Bhre.
Atau mungkin ini tepatnya lebih ke versi ideal tentang rasa aman yang sejak remaja kutempelkan padanya.
Waktu akhirnya kami putus pun aku tidak terlalu hancur. Sedih, jelas iya. Kesepian sedikit, juga iya. Tapi lebih banyak bingung. “Oh… ternyata begini toh rasanya pacaran.” Seolah aku baru selesai mencoba baju yang ternyata tidak pas ukurannya.
Setelah itu aku tidak pernah pacaran lagi. Bukan karena trauma atau membenci laki-laki. Aku cuma makin lama makin yakin bahwa mungkin aku memang tidak cocok menjadi pasangan hidup seseorang. Perasaanku terlalu rumit, bahkan untuk diriku sendiri. Keinginan untuk memiliki pasangan pun tidak ada, apalagi sampai menyala-nyala.
Kadang juga aku merasa keluargaku ikut membentuk itu. Bukan menyalahkan ya, hanya sadar saja.
Aku anak kedua. Bontot. Sedangkan ceceku tumbuh menjadi manusia yang jauh lebih stabil dibanding aku. Ia pintar, mandiri, mudah bersosialisasi, lalu menikah dan pindah ke Australia dengan kehidupan yang terlihat sangat rapi. Sementara aku seperti draft yang belum selesai diedit. Masih terus direvisi, dibaca, kadang malah tak tahu harus diapakan dan dibiarkan tertulis begitu saja.
Papa dan Mama sayang padaku. Sangat sayang malah. Mungkin terlalu sayang.
Memang, bukan berarti aku juga dimanja secara vulgar, tapi tetap saja selalu dilindungi sedikit lebih banyak. Kalau ceceku diminta belajar mandiri, aku sering mendengar, “Udah, Vivi nggak usah.” Kalau aku takut mencoba sesuatu, Mama lebih sering berkata, “Kalau nggak nyaman, ya, jangan dipaksa.”
Dulu aku menganggap itu bentuk kasih sayang biasa. Baru sekarang aku sadar bahwa aku tumbuh menjadi seseorang yang terlalu mudah mundur sebelum benar-benar mencoba.
Aku masih ingat ada satu kejadian waktu SMA. Aku pernah dipilih ikut lomba presentasi antarsekolah. Sudah latihan seminggu penuh, sudah bikin cue card, bahkan sempat merasa percaya diri. Tapi pagi harinya aku panik sendiri. Tanganku dingin, perutku sakit, dan aku bilang ke Mama kalau aku tidak sanggup datang.