Begini Saja Sudah Bahagia

Nikodemus Yudho Sulistyo
Chapter #9

Bubur

Aku sadar betapa terbiasanya aku dengan keberadaan Mas Bhre ketika dia mendadak tidak ada di kantor selama beberapa hari. Awalnya masih biasa saja. Hari pertama malah terasa agak santai karena suasana editorial lebih tenang tanpa suara dia yang kadang tiba-tiba nyeletuk jokes receh dari meja seberang. Hari kedua mulai terasa aneh. Hari ketiga, aku mulai sadar bahwa tubuhku seperti terus menunggu sesuatu yang tidak datang.

Aku merindukannya. Dan itu menyebalkan sekali.

Bukan rindu dramatis seperti di film-film atau novel romansa picisan. Rindunya tidak sampai membuatku nangis sambil dengar lagu galau tengah malam, melainkan lebih seperti hidup yang mendadak kehilangan ritme kecilnya. Tidak ada yang mampir ke mejaku sambil bilang, “Saya curiga klien kita ini sebenarnya cuma suka mendengar dirinya sendiri bicara.” Tidak ada yang mengirim link artikel random jam makan siang dengan caption, “Manusia modern makin aneh ya,” meskipun suka tak suka kami semua adalah manusia modern.

Tidak ada Mas Bhre.

Padahal sesungguhnya komunikasi kami tetap jalan dengan baik nan lancar. Hanya saja selama ini aku tidak sadar betapa seringnya kami berinteraksi di luar kantor lewat hal-hal kecil dan bodoh.

Story WhatsApp, misalnya.

Aku tipe orang yang cukup sering upload story. Biasanya quote semi-serius yang sebenarnya lebih terdengar seperti orang lelah melihat dunia. Kadang kutipan buku. Kadang potongan film. Kadang cuma tulisan absurd seperti, “Adult life is just repeatedly saying ‘habis ini agak santai dikit’ until you die.”

Dan hampir selalu, Mas Bhre merespons.

Kadang cuma,

>“Optimis sekali.”

Kadang,

>“Ini penulisnya habis bayar pajak, ya?”

Atau,

>“Kalau begini terus saya khawatir kamu diam-diam mau jadi filsuf gagal.”

Sebaliknya, story Mas Bhre isinya benar-benar bapak-bapak: meme receh, jokes garing, potongan lagu lawas, referensi film yang bahkan usianya lebih tua dariku, foto kopi hitam dengan caption sok bijak, sampai kadang tiba-tiba mengunggah cover buku Enny Arrow entah dapat dari mana.

Aku pernah langsung membalas,

>“Ya Tuhan, kuno banget, Pak.”

Dia membalas cepat dengan nada protes,

>“Eh, ini sejarah bangsa.”

>“Itu sih barang bukti kejahatan budaya.”

>“Ah, generasi kamu tidak menghargai literasi rakyat,”

balasnya.

Aku sampai ketawa sendiri di apartemen.

Mas Bhre bukan tipe laki-laki yang sering mengunggah kehidupan pribadinya. Dari dulu aku tahu itu. Bahkan sejak zaman aku stalking media sosialnya sewaktu SMA.

Dia tidak pernah bucin berlebihan. Tidak pernah upload pasangan tiap minggu dengan caption panjang seperti orang sedang presentasi cinta kepada publik. Tapi justru karena itu, setiap kali dia mengunggah sesuatu tentang pasangannya, rasanya selalu serius dan tulus.

Dan itu konsisten.

Dulu dengan mantan pacarnya, begitu. Sekarang dengan istrinya, juga begitu.

Selama hampir dua tahun aku bekerja di Felicity, aku cuma beberapa kali melihat story WhatsApp mereka berdua. Biasanya ulang tahun istrinya, anniversary pernikahan, atau foto kondangan klien penting. Selebihnya, hidup pribadi Mas Bhre seperti berjalan tenang di belakang layar. Dan mungkin justru itu yang membuatku aman berada di dekatnya. Karena dia tidak pernah terlihat seperti laki-laki yang sedang mencari perhatian perempuan lain.

Semua yang terjadi di antara kami terasa wajar. Hangat, iya. Dekat, iya. Tapi masih masuk akal. Aku mengenalnya sudah lama, pekerjaanku memang langsung berada di bawahnya, dan aku mengerti cara berpikirnya lebih cepat dibanding orang lain di kantor. Setidaknya itulah alasan yang terus kuulang di kepala sendiri.

Malam itu, sekitar jam sembilan, Mas Bhre mengunggah story dari Jakarta.

Foto dirinya di depan hotel. Cuma selfie sederhana. Kemeja hitam. Lengan sedikit tergulung. Rambut agak berantakan kena angin malam. Senyum tipis yang lebih terlihat capek daripada sengaja bergaya.

Lihat selengkapnya