Mas Bhre pulang dari Jakarta hari Senin pagi dengan koper kecil hitam, mata sedikit sembab, dan tote bag hotel yang entah kenapa selalu terlihat terlalu mewah untuk dibawa laki-laki seusianya. Seisi kantor langsung ribut seperti anak SD kalau ada guru pulang study tour.
“Oleh-oleh mana, Mas?” teriak bagian desain dari ujung ruangan.
Mas Bhre baru masuk pintu langsung mengangkat tangan menyerah. “Saya baru nyampe satu jam lalu lho ini. Belum ngopi.”
“Berarti oleh-olehnya aman,” balas anak bagian desain itu.
“Logika macam apa itu?” seru Mas Bhre.
Aku menahan tawa sambil pura-pura fokus pada layar laptop, padahal sedari tadi mataku mengikuti pergerakannya tanpa izin. Setelah hampir seminggu tidak melihatnya langsung, tubuhku bereaksi duluan bahkan sebelum otakku sempat menyusun pertahanan. Cara dia meletakkan tas. Cara dia menggulung lengan kemeja. Cara dia menyapa orang satu-satu sambil ketawa kecil.
Ya ampun. Aku kangen sekali.
Dan ternyata rasa kangen itu punya bentuk fisik yang nyata. Rasanya seperti dada yang mendadak terlalu penuh, kemudian bagai tanah longsor dari perbukitan, bergulir pelan tetapi sungguhan jatuhnya.
Beberapa menit kemudian, suasana kantor berubah jadi pasar kecil. Mas Bhre membagikan oleh-oleh umum. Ada cokelat, kopi sachet fancy yang dibeli dari store di hotel, cookies kecil dalam kaleng lucu, dan entah kenapa sambal kemasan yang katanya viral dari Jakarta.
“Ini siapa yang beli sambal hotel?” tanya anak finance bingung.
“Saya,” jawab Mas Bhre santai.
“Kenapa?”
“Saya penasaran manusia metropolitan makan sambal apa.”
“Kok kayak antropolog?”
“Saya memang suka mengamati peradaban,” jawab Mas Bhre sigap.
Ruangan langsung ketawa.
Aku ikut tertawa sambil tetap mengetik, meskipun sebenarnya tidak mengetik apa-apa.
Lalu di tengah keributan itu, Mas Bhre mendadak berjalan ke mejaku.
Jantungku langsung turun ke dengkul. Tanah longsor itu semakin deras jatuhnya.
“Ini buat kamu,” katanya pelan sambil menaruh satu kantong kertas kecil.
“Hah?”
“Bukanya nanti aja.”
Aku menatap kantong itu seperti benda ilegal.
“Apaan nih Mas?”
Mas Bhre menyeringai. “Sesuatu yang sangat merepresentasikan saya.”
“Seram banget kalimatnya.”
Dia nyengir makin lebar. “Biar kamu dihantui kebapak-bapakan saya yang hakiki.”
Lalu dia pergi begitu saja sebelum aku sempat membalas.
Aku menatap kantong itu hampir satu menit penuh.
“Vivi,” tegur temanku dari pantry. “Kenapa mukamu kayak habis menerima surat warisan?”
“Diam.”
Tanganku pelan-pelan membuka kantong kecil itu. Dan aku hampir mati.
Stiker. Satu kotak penuh stiker jadul dengan kata-kata yang awam ditulis di belakang sebuah truk. Yang benar-benar jadul.
“Lambat Asal Selamat”
“Cintamu Tak Semurni Solar Subsidi”
“Pergi Karena Tugas, Pulang Karena Beras”
“Kutunggu Jandamu”
“Doa Ibu Sepanjang Jalan”
Melihat satu persatu stiker tersebut aku sampai harus menutup mulut supaya tidak ketawa terlalu keras. Karena yang lebih parah, di belakang setiap stiker ada tulisan tangan Mas Bhre. Tulisan kecil, rapi, sedikit miring.
“Bagus ditempel di kulkas.”
“Ini cocok buat pintu toilet kantor.”
“Kalau yang ini jangan ditempel di gereja.”
“Yang ini terlalu filosofis untuk manusia modern.”
Aku menatap semuanya satu-satu seperti orang sinting. Tiga puluh stiker tepatnya, dan tiga puluh tulisan kecil langsung dari Mas Bhre. Tiga puluh perhatian receh yang entah kenapa terasa lebih intim daripada hadiah mahal apa pun yang pernah kuterima. Aku bahkan tidak sadar sedang tersenyum sampai pipiku sakit sendiri.