Beberapa hari setelah itu, aku mulai punya kebiasaan memalukan baru. Aku mulai sering melihat meja Mas Bhre diam-diam. Bukan melihat dia sebenarnya, tetapi memeriksa. Lebih tepatnya memastikan sesuatu.
Si Komo.
Boneka jelek itu masih ada. Masih berdiri di samping monitor kantornya dengan wajah oranye menyebalkan dan senyum bodoh khas maskot tahun sembilan puluhan. Kadang posisinya berubah sedikit. Kadang miring. Kadang terduduk di atas tumpukan buku dan sticky notes revisi.
Tapi tidak pernah hilang.
Dan sialnya, hal sekecil itu bisa membuat hariku membaik. Dengan tidak malunya aku berguman, “Puji Tuhan.”
Aku tahu itu terdengar tragis. Tapi beginilah otak manusia bekerja kalau sudah terlalu attached pada seseorang. Kita mulai mencari bukti-bukti kecil bahwa keberadaan kita masih tersisa di hidupnya. Masih ada sulur-sulur tipis yang tersambung. Bahkan kalau cuma lewat boneka tangan jelek.
Kadang aku sengaja lewat mejanya hanya untuk melihat apakah Si Komo masih di sana. Dan tiap kali melihatnya tetap berdiri dengan damai di dekat keyboard, aku merasakan rasa lega kecil yang sangat memalukan.
Persis kayak orang goblok.
Hari itu kantor agak lebih ramai dari biasanya karena entah bagaimana gosip berhasil bergerak lebih cepat daripada email internal perusahaan. Aku baru selesai meeting kecil dengan tim editorial waktu mendengar nama Mas Bhre disebut pelan-pelan di pantry.
“Istrinya Mas Bhre masuk rumah sakit lagi, ya?”
Aku langsung berhenti menuang kopi.
“Hah?” tanyaku spontan.
Anak marketing menoleh. “Loh, Vivi nggak tahu?”
Aku merasa perutku langsung begah, “Tahu apa?”
“Oh… kirain tahu.”
Aku tersenyum kecil, terlalu cepat. “Nggak. Emang kenapa istrinya Mas Bhre?”
“Katanya drop lagi. Tapi nggak parah sih harusnya.” Ia mengecilkan suara sedikit. “Memang dari dulu keliatan agak sakit-sakitan kan istrinya.”
Aku diam sementara orang lain mulai ikut menimpali.
“Iya, aku pernah ketemu pas acara kantor. Cantik banget istrinya Mas Bhre.”
“Campuran Jawa-Nias ya katanya?”
“Pantes unik mukanya.”
“Putih banget sih kulitnya. Tapi emang pucat juga.”
“Aku kira emang tipe wajah dingin elegan gitu.”
Aku mendengar semuanya seperti dari jauh. Menggema. Rasanya aneh sekali. Syok, tentu, sudah pasti. Tapi juga kasihan dan prihatin.
Tapi di bawah semua itu, ada perasaan lain yang langsung membuatku membenci diriku sendiri. Kenapa aku tahu ini dari orang kantor? Kenapa bukan dari dia langsung? Bukankah selama ini kami dekat? bukankah bahkan anak-anak kantor tahu kedekatan kami? Bukankah kami ngobrol hampir tiap hari selama berbulan-bulan? Bukankah dia pernah membawakan aku stiker truk absurd dari Jakarta? Bukankah Si Komo masih berdiri di mejanya sampai sekarang? Don’t they really mean something?
Lalu kenapa aku tidak tahu apa-apa?
Begitu pikiran itu muncul membabibuta, aku langsung merasa jijik pada diriku sendiri.
Istrinya sakit, Vivi! Sakit! Dan kamu malah sibuk merasa tersingkir?
Aku langsung menunduk menatap kopi di tanganku sendiri.
Ya Tuhan, aku memang kacau.
Sepanjang hari suasana kantor berubah sedikit lebih lembut ke Mas Bhre. Orang-orang yang biasanya bercanda mulai bicara lebih hati-hati. Beberapa menanyakan keadaan istrinya. Beberapa menawarkan bantuan kecil. Dan Mas Bhre, seperti biasa, tetap tersenyum. Ia tetap tenang.
Ia tetap bilang, “Nggak apa-apa kok,” dengan suara stabil yang membuat semua orang akhirnya percaya bahwa semuanya memang baik-baik saja.
Namun akhirnya sekarang aku mulai sadar sesuatu.
Capeknya dia akhir-akhir ini, atau selama ini dari yang kulihat di wajahnya, mungkin bukan karena pekerjaan. Kesadaran itu membuat dadaku makin sesak.
***