Papa sebenarnya jarang cerita soal masa mudanya. Papa bukan tipe ayah yang duduk lalu tiba-tiba membuka album kenangan sambil berkata, “Dulu Papa begini…” Tidak. Papa lebih sering menunjukkan sayang lewat hal-hal praktis seperti kirim buah ke apartemen atau bertanya apakah AC kamarku masih dingin.
Jadi malam itu terasa agak langka.
Kami sedang makan malam di rumah. Hujan turun tipis di luar, suara televisi menyala kecil di ruang tengah, dan Mama sedang mengupas jeruk sambil setengah mendengarkan Papa yang entah bagaimana mulai bercerita tentang awal mereka pacaran.
“Dulu dapatin Mamamu nggak gampang,” kata Papa santai sambil mengambil kuah sup.
Aku langsung mendongak.
“Hah? Loh bukannya Papa sama Mama sama-sama Cina?” kataku lugas.
Papa mendecakkan lidah kecil, “Ya justru itu. Sama-sama Cina belum tentu sama.”
Mama langsung tertawa kecil dari sofa, “Nah, mulai deh dia.”
Papa orang Hokkien Medan. Keluarganya besar, keras, suaranya keras, cara bercandanya juga keras. Sedangkan Mama orang Teochew asal Tanjung Pinang Kepulauan Riau. Lebih halus, lebih tenang, lebih penuh kode-kode sosial yang tidak tertulis.
“Dulu keluarga Mama kamu nganggep orang Medan itu kasar,” kata Papa sambil nyengir.
“Memang kasar,” sahut Mama cepat.
Aku langsung ketawa.
Papa menunjuk Mama pakai sendok.
“Nah, gitu tuh. Dari muda udah galak. Padahal katanya orang Medan yang kasar-kasar.”
“Terus?” tanyaku, mulai tertarik.
Papa menyender sedikit ke kursi. “Keluarga Mama kamu itu tipe yang kalau ngomong halus banget sampai Papa nggak tahu lagi mereka marah atau nggak. Sedangkan keluarga Papa kalau marah ya marah aja. Volume naik semua.”
Mama ikut nimbrung dari jauh. “Dan Papamu itu dulu terlalu percaya diri.”
“Laki-laki memang harus percaya diri,” tukas Papa.
“Beda percaya diri sama nggak tahu malu,” protes Mama.
Aku tersentak dan tertawa.
Papa juga malah ketawa puas.