Mas Bhre yang kukenal benar-benar kembali sekitar seminggu setelah istrinya pulang dari rumah sakit. Atau setidaknya, kembali mendekati versi dirinya yang biasa dikenal orang-orang kantor.
Yang lucu adalah, semua orang langsung sadar.
Felicity memang kantor yang aneh. Orang-orangnya terlalu terbiasa membaca nada bicara, ekspresi wajah, dan perubahan energi sekecil apa pun. Mungkin efek terlalu lama bekerja di dunia narasi dan manusia. Jadi ketika Mas Bhre beberapa minggu terakhir terlihat lebih pendiam, seluruh lantai editorial ikut terasa sedikit redup. Padahal, kalau dipikir-pikir secara objektif, ia sama sekali tidak berubah dalam hal profesionalitas.
Pada saat istrinya itu sakit, meeting tetap jalan, deadline tetap aman, revisi tetap detail, email tetap dibalas cepat, dan tidak ada satu pun yang bisa benar-benar dikomplain dari pekerjaannya.
Meskipun memang tetap ada saja sesuatu yang hilang. Humornya berkurang. Tawanya lebih pendek. Langkahnya lebih berat. Dan entah kenapa, satu kantor seperti kehilangan pusat gravitasi kecil yang biasanya membuat semua orang merasa tenang.
“Mas Bhre akhirnya ketawa lagi,” kata anak desain suatu siang sambil membuka kotak makan.
Kami sedang makan di pantry. Hujan turun tipis di luar, membuat kaca besar di ujung ruangan terlihat buram. Batam yang cuacanya moody, sesuka hati panas dan dingin, hujan dan panas meranggas, sedang memasuki mode baper. Hujan sedikit-sedikit, tetapi terus-terusan.
“Serius,” sahut yang lain. “Kemarin dia ngejokes soal font lagi.”
“Itu tandanya sehat.”
Aku diam sambil mengaduk kopi, tapi diam-diam tersenyum kecil. Aku tahu persis maksud mereka. Mas Bhre memang bukan tipe orang paling berisik di kantor. Ia bukan orang yang masuk ruangan lalu langsung mengambil alih suasana seperti ekstrover LinkedIn yang terlalu semangat hidup itu. Tapi entah kenapa, keberadaannya selalu terasa. Orang-orang otomatis lebih santai kalau dia ada. Beberapa minggu terakhir itu, bagiku rasanya lebih buruk daripada sekadar “kurang ada”. Mas Bhre seperti hilang. Bukan secara fisik. Tapi bagian hangatnya seperti ditarik jauh ke tempat yang tidak bisa dijangkau siapa-siapa.
Lalu, seperti biasa, manusia kantor mulai bergosip dengan cara setengah prihatin setengah kepo.
“Istrinya udah pulang ya berarti?” tanya salah satu editor.
“Iya. Syukurlah.”
“Aku jadi kepikiran…” seseorang menurunkan suaranya sedikit, “…apa itu juga alasan mereka belum punya anak, ya?”
Aku refleks mengangkat kepala. Celine dan Rara, langsung menoleh hampir bersamaan.
“Loh kok langsung istrinya yang diasumsikan?” protes Rara sambil mengernyit.
“Iya,” Celine cepat. “Dan lagian kita nggak tahu apa-apa soal mereka.”
“Bisa aja mereka memang childfree.”
“Atau memang belum mau.”
“Orang tuh kalau urusan beginian selalu perempuan dulu yang dijadikan tersangka.”
Obrolan itu lanjut beberapa menit, tapi aku sudah tidak benar-benar mendengarkan karena pikiranku justru tersangkut pada sesuatu yang lain. Aku tiba-tiba sadar bahwa aku hampir tidak tahu apa pun tentang kehidupan pernikahan Mas Bhre. Yang kutahu sampai saat ini hanya potongan-potongan kecil. Bahwa istrinya cantik. Campuran Jawa dan Nias. Bahwa mereka terlihat stabil. Bahwa Mas Bhre sesekali menyebut rumah atau makanan istrinya dengan nada yang lembut dan normal, seperti lelaki yang nyaman dengan hidupnya.
Tapi sisanya?
Kosong melompong. Anehnya, justru kekosongan itulah yang selama ini membuatku aman. Karena selama tidak tahu terlalu banyak, aku bisa berpura-pura bahwa perasaanku tidak benar-benar mengganggu siapa-siapa.
***
Sedikit demi sedikit, ritme lama mulai kembali. Tidak sepenuhnya seperti dulu, tapi cukup untuk membuatku bernapas lebih lega.
Kadang Mas Bhre kembali mengirim meme ke grup kantor. Kadang story WhatsApp-nya muncul lagi, tulisan belakang truk, foto kopi hotel yang dikomentari receh, atau screenshot lagu dan film lawas absurd yang bahkan aku tidak tahu dia dapat dari mana.
Suatu malam dia upload foto tulisan, “Cintamu seperti meteran PLN: naik terus.”
Aku langsung membalas,
>“Pak, ini humor era Orde Baru ya?”
Dibaca cepat. Lalu beberapa menit kemudian muncul balasannya.
>“Humor berkualitas memang bertahan lintas zaman.”
Aku ketawa sendiri di apartemen. Kadang ia merespon dan mengomentari story-ku juga, walau jauh lebih jarang dibanding beberapa bulan lalu. Kalau aku upload quote galau setengah bercanda soal manusia modern yang kelelahan hidup, dia akan menjawab,
>“Ini habis revisi atau habis existential crisis?”
Atau kalau aku upload hujan dan kopi,
>“Editor memang spesies lembab.”
Tidak intens. Tidak panjang. Tapi cukup. Cukup untuk membuatku sadar bahwa aku masih diperhatikan sedikit. Dan itu menyedihkan sekali untuk diakui sebab itu berarti aku sudah sampai di titik di mana perhatian kecil saja bisa memperbaiki mood hidupku seharian.
***
Lalu kejadian paling konyol itu terjadi.
Hari Kamis pagi, aku baru masuk ruang editorial sambil membawa kopi ketika satu ruangan langsung ribut.
“EH.”