Kalau dipikir-pikir lagi sekarang, mungkin salah satu alasan aku bisa bertahan menyukai Mas Bhre selama ini adalah karena aku terlalu lama melihatnya sebagai manusia yang masuk akal. Ia bukan tipe laki-laki yang membuat ruangan heboh apalagi tipe yang flirting ke semua perempuan. Ia bahkan bukan juga tipe “dosen favorit kampus” yang sengaja memelihara perhatian mahasiswi demi ego dan kepuasan pribadi.
Pak Bhre dulu justru kebalikannya. Ia tenang, profesional, bahkan kadang terlalu serius dan bersungguh-sungguh bila sudah berhubungan dengan mata pelajaranyang diampunya. Menurutku pribadi dia sangat tidak sadar bahwa dirinya menarik.
Makanya waktu kabar pernikahannya dulu tersebar di kampus, reaksinya lucu. Mahasiswa heboh seperti ada selebritas nasional menikah diam-diam. Grup LINE kelas penuh tangisan bercanda.
“Pak Bhre nikah?”
“Ya Tuhan aku belum sempat confess.”
“Aku belum lulus lho ini!”
Dan aku? Aku cuma mendengar dan menyaksikan semuanya sambil makan pop mie di kos. Bukan karena tidak sedih. Tapi karena ya, masuk akal saja. Orang seperti Pak Bhre masa tidak menikah? Lagian calon istrinya cantik. Dewasa. Elegan. Jenis perempuan yang kalau masuk ruangan tidak perlu keras untuk terlihat menarik, sama seperti Pak Bhre sendiri. Dan yang paling penting, terlihat seimbang dengannya. Kalau waktu itu Pak Bhre menikah dengan perempuan yang, maaf, rese, kasar, atau aneh tidak jelas, mungkin baru para mahasiswi melakukan demonstrasi moral.
“Cantikan aku.”
“At least aku ngerti teori cultural studies, Pak.”
Tapi istrinya memang pantas dicintai. Semua orang setuju sepertinya. Itu yang menyebalkan.
Sekarang, bertahun-tahun kemudian, aku malah duduk satu mobil dengannya menuju pelabuhan ferry pagi-pagi buta seperti adegan alternate universe yang ditulis Tuhan saat sedang iseng.
***
Kami berangkat sebelum matahari benar-benar naik. Kota masih setengah mengantuk waktu Mas Bhre menjemputku di depan apartemen. Jalanan Batam belum terlalu ramai, lampu ruko masih banyak yang belum padam, dan udara subuh membawa aroma laut tipis-tipis yang selalu khas kota ini.
Mobil Mas Bhre sesuai dengan apa yang kubayangankan, bersih, tidak mewah, memang ada charger kusut di dekat dashboard, tapi tidak ada tisu berserakan yang sudah hidup di situ sejak zaman kolonial.
“Aku nggak kesiangan kan, Mas?” tanyaku sambil memasang seatbelt.
“Saya justru takut terlalu pagi,” jawabnya santai. “Saya nggak enak bikin orang bangun subuh demi pekerjaan.”
Aku menahan senyum kecil.
Ya Tuhan. Siapa sih yang minta laki-laki empat puluhan begini tetap sopan bahkan jam lima pagi?
Di dashboard terdengar lagu lama. Bukan jazz intelektual seperti yang kubayangkan dulu waktu kuliah. Ternyata Chrisye.
Tentu saja. Bapak-bapak sekali.
Kami sampai di pelabuhan ferry saat langit mulai terang abu-abu. Kendaraan mengantre masuk ke kapal roro. Truk besar, mobil pribadi, pick-up pembawa barang, semuanya berdempetan dalam ritme kacau yang oddly familiar bagi kota-kota kepulauan seperti Batam dan Tanjung Pinang.
Aku dan Mas Bhre naik ke dek atas setelah mobil parkir.
Angin laut lumayan kencang. Beberapa orang duduk tidur. Ada yang makan mi instan. Ada bapak-bapak yang langsung merokok sambil melihat laut seperti tokoh film indie maritim.
Mas Bhre membeli kopi vending machine yang rasanya nyaris kriminal.
“Ini kopi atau hukuman sosial, sih?” komentarku setelah menyeruput.