Begitu mobil kami keluar dari pelabuhan Tanjung Uban dan mulai masuk jalur darat menuju Tanjung Pinang, suasana jalan berubah pelan-pelan. Pulau ini jauh bila memang harus dibandingkan dengan Batam, lengang dan tidak terlalu agresif. Pohon lebih banyak. Langit terasa lebih terbuka. Sesekali terlihat rumah panggung, warung kecil, masjid, bengkel, lalu hamparan semak dan laut yang muncul samar di sela jalan.
Aku duduk sambil memandangi luar jendela ketika Mas Bhre tiba-tiba berkata, “Kita berhenti bentar, ya. Saya butuh kopi yang lebih manusiawi daripada kopi ferry tadi.”
“Setuju!” seruku tanpa basa-basi lagi.
Mobil masuk ke area minimarket di pinggir jalan. Dan tentu saja, karena hidup senang sekali mempermainkan kami, perdebatan besar pagi itu dimulai dari sesuatu yang sangat penting bagi peradaban manusia:
Indomaret versus Alfamart.
“Aku tetap tim Indomaret,” kataku sambil mengambil kopi botolan dari kulkas.
Mas Bhre langsung menggeleng seolah kecewa melihat generasi muda gagal berpikir kritis. “Alfamart lebih manusiawi.”
“Apanya?”
“Pencahayaannya lebih hangat.”
Aku menatapnya tidak percaya. “Mas memilih minimarket berdasarkan ambience?”
“Ya memangnya kenapa?”
“Itu toko kelontong franchise, Mas, bukan café existentialism.”
Mas Bhre tertawa sambil mengambil roti, “Indomaret terlalu terang. Rasanya kayak diinterogasi aja.”
“Justru bagus. Jelas jadinya.”
“Tapi kan bikin tidak nyaman. Ingat pepatah ‘Pembeli adalah Raja’? sebagai konsumen, kenyamanan itu paling penting, apalagi kalau baru masuk saja sudah disenter.”
Aku langsung mulai semangat debat seperti mahasiswa sidang.
“Gini lho Mas. Indomaret tuh layout-nya lebih gampang dibaca. Aku tahu persis susu UHT di mana, mie instan di mana, snack di mana. Efficient. Kenyamanan itu jadi nomer dua. Ngapain lama-lama di dalam toko kelontong coba?”
“Tapi Alfamart lebih organik.”
Aku mematung. Secepat itu perubahan argumentasinya.
“ORGANIK?” tanyaku tak percaya.
“Iya.”
“MAS, KITA MASIH BAHAS MINIMARKET!”
Dia malah makin santai. “Indomaret terlalu korporat.”
“Lah memang korporat,” seruku tak percaya.
“Tapi Alfamart terasa lebih dekat dengan rakyat.”
Aku sampai ketawa keras di antara rak ciki.
“Ini analisis komunikasi kelas pekerja apa gimana sih?”
“Brand image penting,” jawabnya santai.
Aku menunjuk dia pakai kopi botol. “Nah ini nih. Dosen komunikasi lagi kambuh.”
Mas Bhre malah menunjuk balik, “Kamu juga. Mahasiswi komunikasi sedang kumat.”
Kami lanjut berdebat sampai kasir mungkin mulai mempertanyakan kewarasan dua orang dewasa yang membahas minimarket seperti seminar budaya populer.
Aku bilang Indomaret unggul karena lagu jinglenya lebih tertanam di kepala masyarakat Indonesia. Mas Bhre membalas bahwa itu justru bentuk kolonialisasi audio retail modern.