Begini Saja Sudah Bahagia

Nikodemus Yudho Sulistyo
Chapter #16

Kenangan

Akhirnya aku berhasil menenangkan diri setelah beberapa menit berikutnya dipenuhi topik-topik aman seperti jalan rusak, harga kopi, dan kenapa pendingin mobil Toyota selalu terasa terlalu dingin untuk orang Asia Tenggara.

Malu sekali rasanya menangis begitu di depan Mas Bhre. Untung dia tidak membuatnya terasa memalukan. Tidak ada kata-kata seperti, “Eh, jangan nangis,” atau “Kamu kenapa?” Juga tidak ada usaha berlebihan untuk menenangkan. Dia hanya mendengarkan. Itu justru lebih menenangkan.

Mungkin karena itu aku akhirnya mulai bicara lagi. Kali ini lebih ringan.

“Aku sebenarnya bukan asli Batam sih,” kataku sambil melihat jalan di depan. “Lahir di Jakarta. Sampai SMP juga di sana.”

Mas Bhre melirik sekilas. “Oh ya? Saya baru tahu.”

“Nah, kan. Mas nggak perhatian.”

“Saya justru memberi ruang privasi,” ucapnya.

Aku langsung nyengir. “Kalimatnya HRD sekali.”

Dia ketawa kecil.

Aku melanjutkan, “Baru SMA pindah Batam. Karena Papa pindah kerja. Dan keluarga Mama memang banyak di Tanjung Pinang, jadi sebenarnya aku cukup familiar sama daerah sini.”

“Pantas kamu tadi langsung hafal jalan.”

“Karena dulu sering nyebrang. Apalagi kalau Imlek atau ada acara keluarga.” Aku tertawa kecil. “Masa kecilku tuh campur aduk sebenarnya. Jakarta iya. Batam iya. Tanjung Pinang iya.”

Mas Bhre mengangguk kecil.

“Mungkin itu juga yang bikin kamu gampang adaptasi,” katanya.

Aku mengangkat bahu. “Masak sih, Mas? Atau malah sebenarnya aku nggak punya identitas jelas.”

“Vivi,” ucap Mas Bhre setengah protes.

“Nggak ding, bercanda,” kataku cepat.

Tapi ya sebenarnya sedikit serius juga.

Mobil terus melaju. Pohon-pohon lewat seperti gulungan warna hijau tua di sisi jalan.

Aku lalu mulai cerita lebih banyak. Tentang keluargaku. Tentang ceceku yang sekarang tinggal di Australia dengan suami dan dua anaknya. Tentang bagaimana dulu sebenarnya ada rencana aku kuliah di luar negeri juga.

“Hampir jadi ke Australia,” kataku. “Udah sempat lihat kampus segala macam.”

“Terus, kok malah batal?”

“Papa Mama nggak rela.” Aku tertawa kecil saat mengucapkannya. “Bukan posesif sih. Mereka cuma…” aku mencari kata yang tepat, “…sayang banget mungkin ya.”

Mas Bhre mendengarkan sambil sesekali mengangguk.

“Dan ya aku juga nggak segitunya pengen keluar negeri sebenarnya,” lanjutku. “Buatku kuliah bukan cita-cita spiritual.” Aku tertawa kecil. “Yang penting kan kualitas orangnya juga.”

“Nah, kalau itu saya setuju.”

“Lagipula Cece udah di luar negeri. Kayaknya Papa Mama nggak kuat kalau dua-duanya pergi.”

Aku menatap keluar jendela sesaat. “Aku nggak nyalahin mereka kok.”

Dan itu memang benar.

Kadang aku bertanya-tanya bagaimana jadinya kalau dulu aku jadi pindah ke Australia. Mungkin hidupku berbeda. Mungkin aku jadi lebih mandiri. Mungkin lebih percaya diri. Mungkin lebih kesepian juga. Tapi hidup ternyata membawaku ke Batam. Ke Felicity. Ke mobil ini. Ke laki-laki yang sekarang duduk di sebelahku.

Aneh sekali.

“Kalau Medan gimana?” tanya Mas Bhre tiba-tiba.

Aku langsung ketawa. “Aku suka makanannya.”

“ah, ini sih jawaban diplomatis,” ujarnya.

“Tapi jujur ya…” Aku menurunkan suara seperti mau membocorkan rahasia negara. “Aku agak takut sama sosialnya.”

Mas Bhre langsung ketawa. “Saya ngerti,” katanya.

Lihat selengkapnya