Tanpa terasa, aku genap dua tahun bekerja di Felicity.
Kantor itu tidak lagi terasa seperti tempat kerja tapi sudah berubah menjadi semacam habitat emosional yang aneh. Aku hafal suara langkah orang-orang di koridor, siapa yang suka menghilang saat deadline, siapa yang kalau stres jadi terlalu ramah, bahkan hafal bunyi mesin kopi pantry yang mulai rusak kalau dipakai lebih dari tiga kali berturut-turut.
Kontrakku diperpanjang dua tahun lagi tanpa drama berarti.
HR memanggilku pagi-pagi, menjelaskan evaluasi kerja, lalu menyodorkan dokumen dengan ekspresi puas yang terlalu corporate untuk jam sembilan pagi.
“Performance kamu bagus,” kata mereka.
Aku mengangguk sopan sambil pura-pura tenang, padahal di dalam hati sedikit terharu juga. Karena kalau dipikir-pikir, aku tidak pernah benar-benar membayangkan akan bertahan sejauh ini di satu tempat.
Dan yang paling aneh?
Aku ternyata hanya butuh sekitar enam bulan untuk masuk ke orbit kerja Mas Bhre sepenuhnya.
Awalnya aku cuma editor junior yang terlalu cepat bicara kalau sedang semangat. Lalu pelan-pelan aku mulai memahami ritme kerjanya. Cara dia berpikir, menyusun ide, dan cara dia membaca manusia.
Lama-lama kami seperti… pasangan debat profesional.
Kalau meeting mulai kacau, orang biasanya akan melihat kami bergantian.
Mas Bhre menjelaskan konsep besarnya. Aku menerjemahkan ke bahasa manusia normal. Kadang sebaliknya. Entah sejak kapan, kedekatan kerja kami mulai dianggap wajar oleh seluruh kantor.
“Kalau ada Bhre biasanya ada Vivi.”
“Atau sebaliknya.”
Kalimat itu sering terdengar sambil lalu.
Tidak ada yang menganggap aneh. Tidak ada gosip murahan. Karena semua orang melihatnya memang sebagai chemistry kerja yang bagus. Bahkan mungkin terlalu bagus.
Kami nyambung. Cepat. Kadang menyeramkan.
Ada momen-momen ketika Mas Bhre baru bicara setengah kalimat dan aku sudah tahu maksudnya. Atau ketika aku mulai menjelaskan sesuatu lalu dia langsung, “Nah ini. Ini yang saya maksud.”
God knows betapa bahagianya aku setiap kali itu terjadi.
Kami juga punya terlalu banyak lelucon internal yang tidak dipahami orang lain.
Misalnya kalau ada klien terlalu banyak revisi, Mas Bhre cuma akan menatapku dan berkata, “Ini bukan revisi. Ini spiritual journey.”
Lalu aku langsung ketawa.
Atau kalau meeting terlalu lama, aku akan chat dia diam-diam,