Begini Saja Sudah Bahagia

Nikodemus Yudho Sulistyo
Chapter #18

Scrapbook

Aku rasa aku memang sudah terlalu jauh jatuhnya. Jatuh bebas sebebas-bebasnya, pasrah dengan gravitasi. Penyebabnya bukanlah karena satu momen besar yang dramatis seperti pelukan, pengakuan cinta, atau kejadian yang tidak masuk akal, absurd,  seperti di film-film romantis yang suka diputar Veronica sambil mengkritik plot hole-nya. Malah karena semuanya berjalan terlalu normal, terlalu manusiawi, terlalu kecil untuk dicurigai, tapi terus menumpuk seperti kertas-kertas nota di dalam dompet sampai suatu hari baru sadar isinya sudah penuh.

Mungkin titik paling berbahaya itu dimulai tiga bulan sebelum ulang tahun Mas Bhre.

Pengingatnya ketika aku tidak sengaja melihat tanggal lahirnya lagi waktu HR mengirim reminder internal soal administrasi asuransi pegawai. Padahal aku sudah hafal sejak SMA. Dulu satu kelas pernah bikin kejutan kecil setelah ujian akhir semester. Ada kue tart murah dengan tulisan icing yang jelek karena dibeli mendadak. Pak Bhre waktu itu masih muda sekali. Usianya akhir duapuluhan. Masih dipanggil “Pak” dengan gugup oleh murid-murid perempuan yang terlalu semangat masuk kelas geografi.

Aku masih ingat senyumnya waktu itu.

Karena memori itu, mendadak aku ingin memberinya sesuatu. Bukan hadiah mahal, karena aku tahu Mas Bhre bukan tipe orang yang nyaman menerima barang mahal. Dia akan sungkan dan merasa “nggak enak”. Lagipula hubungan kami juga tidak punya ruang untuk benda-benda yang terlalu personal atau ambigu. Aku tidak bisa memberinya parfum, jam tangan, atau apa pun yang terasa seperti pacar memberi hadiah ke pasangan.

Aku hanya ingin dia tahu bahwa keberadaannya penting, bahwa ada seseorang yang memperhatikan hidupnya dengan sangat serius selama ini.

Maka, dari situlah ide scrapbook itu muncul.

Memang awalnya cuma iseng, lalu berkembang jadi proyek pribadi yang benar-benar menyita pikiranku selama hampir tiga bulan penuh.

Aku membeli sebuah scrapbook besar warna cokelat tua dengan tekstur seperti buku arsip lama. Tidak terlalu manis. Tidak terlalu lucu. Lebih seperti jurnal perjalanan seseorang yang sudah dipakai bertahun-tahun. Sangat Mas Bhre.

Setiap malam setelah pulang kerja, aku duduk di lantai apartemen sambil mengelilingi diriku dengan gunting, lem, sticky note, print foto, kertas kraft, pulpen warna, dan potongan-potongan hidup yang bahkan tidak kusadari selama ini kusimpan.

Ada fotokopi materi geografi SMA. Ada lembar esai kuliahku tentang komunikasi urban yang dulu diberi komentar tulisan tangan oleh Pak Bhre, “Argumen kamu menarik, tapi terlalu terburu-buru menyimpulkan.”

Tulisan tangannya masih sama sampai sekarang. Sedikit miring, tidak terlalu bagus tapi rapi sehingga terlihat sabar.

Aku bahkan menyimpan tiket ferry Batam–Tanjung Pinang waktu proyek pertama kami berdua. Juga bon pembayaran bak kut teh yang kena kuah sampai tintanya pudar sedikit. Ada screenshot meme bapak-bapak absurd yang pernah dia kirim. Ada foto si Komo yang masih duduk di meja kerjanya sampai sekarang dengan caption kecil, “Terima kasih sudah tidak membuang penghinaan ini.”

Aku menempel semuanya dengan hati-hati seperti orang sinting. Yang paling berbahaya justru bukan foto-fotonya, tapi tulisan-tulisanku sendiri. aku terdengar terlalu jujur di sana.

Aku menulis tentang bagaimana aku melihatnya sejak SMA. Aku menulis mengenai bagaimana ia mengajar geografi seperti orang yang benar-benar mencintai dunia. Aku meniti kata-kata menjelaskan bagaimana ia mendengarkan orang lain dengan serius bahkan untuk hal-hal kecil. Lalu mengenai humor bapak-bapaknya ternyata menyelamatkan banyak hari burukku di kantor.

Tentu saja aku tidak pernah menulis “aku sayang kamu”, apalagi sampai “aku cinta kamu.”

Aku jelas-jelas sengaja menghindari kata “ganteng” atau sejenisnya karena terasa terlalu vulgar dan memalukan. Meskipun setengah mati aku ingin menuji dia habis-habisan. Namun, sebagai gantinya aku menulis, “Mas Bhre itu bukan jenis pemimpin menarik yang langsung bikin ruangan heboh, tapi punya energi orang yang bikin dunia terasa sedikit lebih aman.”

Aku langsung menutup muka sendiri habis nulis itu.

Cringe banget, Vivi. Tapi aku tetap menempelkannya.

Ada satu halaman khusus berisi foto-foto kecil perjalanan kami di kantor. Sebagian candid. Sebagian hasil kiriman teman-teman editorial. Foto baju hijau kembar itu juga ada. Foto di Tanjung Pinang. Foto Mas Bhre lagi ketawa sambil pegang kopi. Foto blur waktu dia lagi menjelaskan sesuatu sambil nunjuk layar proyektor.

Di salah satu halaman terakhir, aku menempel foto tulisan belakang truk yang sengaja kupotret diam-diam di lampu merah dengan caption “Aku diminta hati-hati di jalan, tapi kamu jalan-jalan di hatiku.”

Di bawahnya aku tulis kecil, “Maaf. Saya tahu ini sangat bapak-bapak.”

Padahal, justru halaman itu jadi favoritku.

Scrapbook itu berhasil tidak terlihat seperti hadiah romantis, melainkan lebih seperti museum kecil tentang seseorang dari sudut pandang orang lain yang terlalu memperhatikannya. Aku memang berharap Mas Bhre kelak menganggap aku seperti itu, yang melihatnya sebagai orang penting nan istimewa.

 

***

 

Hari ulang tahun Mas Bhre di kantor berlangsung seperti biasa, kecil, absurd, dan tidak terorganisir. Anak-anak editorial membeli pizza Domino’s karena diskon aplikasi. Ada lilin angka yang ternyata salah beli sehingga umur Mas Bhre mendadak lebih tua dua tahun. Pantry ribut. Seseorang salah pesan minuman. Bahkan lagu ulang tahun dinyanyikan setengah hati sambil ketawa karena Veronica dari divisi desain sengaja menyanyikannya seperti mars gereja.

Mas Bhre tertawa sampai bahunya naik turun.

“Ini kenapa saya jadi empat puluh tiga tahun?” tanyanya sambil menunjuk lilin.

“Supaya siap mental,” jawab seseorang cepat.

“Kurang ajar,” sergah Mas Bhre.

Lihat selengkapnya