Mas Bhre pernah bilang manusia tidak terlalu tahan menghadapi kenyataan yang berantakan, jadi akhirnya semua orang membangun narasi tentang hidupnya sendiri. Ironisnya, kata-katanya itu membuat aku sadar kalau aku mulai takut hidup terlalu lama di dalam narasiku sendiri. Aku memang sudah hidup di dalam beragam narasi lengkap dengan plot, setting, sekaligus ending-nya, yang rata-rata memang berakhir bahagia dan memuaskan dahagaku sendiri.
Kadang aku tersadar mengenai hal ini saat sedang melakukan hal paling biasa. Misalnya duduk sendirian di apartemen sambil makan mi instan jam sebelas malam. Atau waktu nyetir pulang melewati lampu-lampu Batam Centre yang basah habis hujan. Atau ketika mendadak melihat nama “Mas Bhre” muncul di layar chat dan jantungku langsung bereaksi terlalu cepat seperti anjing Pavlov yang sudah dilatih bertahun-tahun.
Akibatnya, otakku mulai membuat dunia-dunia kecil.
Andai.
Selalu dimulai dari kata itu.
Andai aku ketemu Mas Bhre bukan waktu beliau jadi guruku. Andai aku lahir lebih cepat sepuluh tahun. Andai dia belum menikah waktu kami kerja bareng. Andai aku masuk Felicity lebih awal. Andai aku bukan mantan muridnya. Andai aku lebih berani. Andai hidup manusia tidak seribet ini.
Masalahnya, semua skenario itu tetap kacau kalau dipikir lebih jauh. Secara faktual, nyata, dan logis, tidak ada outcome pengandaian itu yang mungkin.
Bayangkan saja kalau aku bertemu Mas Bhre sewaktu dia masih bujang. Di saat itu aku masih anak sekolah. Menjijikkan. Tidak mungkin juga. Kalau aku lahir lebih cepat sepuluh tahun, berarti aku bukan diriku yang sekarang. Kalau dia belum menikah saat kami bertemu lagi di Felicity… ya memang lalu kenapa? Apa aku benar-benar akan berani mendekatinya? Belum tentu juga, kan? Aku saja bahkan kadang masih salah tingkah kalau dia berdiri terlalu dekat di pantry sambil bikin kopi, apalagi dengan sengaja mendekati untuk mendapatkan hatinya.
Padahal narasi-narasi itu tidak pernah benar-benar masuk di akal. Tapi otak manusia memang aneh. Ia tidak selalu mencari kemungkinan paling realistis. Kadang ia cuma mencari ruang untuk bertahan.
Dan yang paling menakutkan adalah ketika pikiranku mulai menyentuh kemungkinan paling terlarang itu.
Bagaimana kalau Mas Bhre cerai?
Aku tidak bohong, aku pernah memikirkannya sekali. Tapi cuma sepersekian detik. Setelah itu, aku langsung merasa seperti manusia paling brengsek sedunia. Bukannya mengapa, bahkan dalam skenario itu pun semuanya tetap salah.
Alasan pertama, Mas Bhre Katolik.
Aku tahu betul itu. Kami sama-sama tahu konsep pernikahan di dalam Gereja seperti apa. Tidak sesederhana “sudah tidak cocok lalu pisah”. Pernikahan itu sakramen. Berat. Panjang. Mengikat. Tidak ada kata cerai di dalam kamus pernikahan Katolik. Untuk sampai ke titik itu, kedua calon mempelai sendiri sudah harus mengalami proses panjang dan ketat.
Matius 19:6, “Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Sebab itu, apa yang telah dipersatukan Allah, janganlah diceraikan manusia,”