Ulang tahunku datang enam minggu setelah ulang tahun Mas Bhre. Tiga puluh tahun. Angka yang terasa aneh sekali bagiku. Tidak tua, tetapi juga tidak bisa lagi pura-pura merasa masih sangat muda.
Aku bangun pagi itu dengan kepala agak berat, membaca ucapan dari grup keluarga, grup kampus, grup kantor, semuanya bercampur jadi satu seperti notifikasi biasa yang lewat begitu saja.
Ucapan pertama di grup kantor malah datang dari anak kreatif yang bahkan tidak terlalu dekat denganku.
Beberapa menit kemudian, nama itu muncul, nama yang kutunggu-tunggu.
>“Selamat ulang tahun, Vi. Semoga sehat terus, makin kuat, makin waras menghadapi dunia dan revisi klien. Jangan lupa makan siang.”
Aku menatap layar terlalu lama.
Mas Bhre adalah orang kedua yang mengucapkan.
Seketika itu aku langsung membenci diriku sendiri karena menghitung urutan seperti itu. Sungguh benci. Karena itu berarti aku berharap. Padahal semestinya tidak. Sejak bangun tidur tadi, rupanya diam-diam aku menunggu sesuatu yang lebih personal. Mungkin chat langsung. Mungkin meme bapak-bapak absurd. Mungkin stiker truk receh seperti biasanya. Atau apa pun yang terdengar... spesial.
Tidak ada.
Masalahnya, ucapan Mas Bhre tidak salah. Bahkan hangat. Itu sangat dia. Malah itu yang membuat dadaku makin aneh. Karena semuanya terasa terlalu normal. Seolah scrapbook yang kubuat tiga bulan penuh itu tidak pernah ada. Seolah ferry ke Tanjung Pinang itu tidak pernah ada. Seolah foto baju hijau kami itu tidak pernah ada. Seolah semuanya tak bermakna.
Seolah aku cuma salah satu staf lain di kantor.
Padahal aku tahu hubungan kami memang berbeda. Bukankah ia berterima kasih karena aku berikan scrapbook sebagai bentuk hadiah yang istimewa?
...kan?
“WOI ULTAH MALAH MELAMUN!”
Aku kaget waktu Rara meletakkan kotak kue kecil di mejaku. Celine muncul dari belakang sambil membawa lilin kecil yang sudah menyala.
“Cepat tiup sebelum direvisi klien,” kata Celine. “Biar hidupmu masih punya harapan.”
Aku ketawa kecil sambil menahan malu. “Ya ampun, kalian ngapain sih.”
“Karena kalau nunggu cowok, kamu nggak akan bahagia,” jawab Rara santai.
“Terutama cowok tua dengan jokes bapak-bapak,” tambah Celine.
Jantungku langsung berdegup luar biasa kencang sampai aku sendiri tersentak kaget.
“Apaan sih.”
“Oh, defensif.”
“Diam kalian!”
Mereka ketawa. Untungnya tidak ada yang benar-benar curiga. Di kantor, aku dan Mas Bhre memang dikenal dekat, tapi dekat yang masih masuk akal. Partner kerja. Dua orang aneh yang bisa ngomongin teori komunikasi, geopolitik media, sampai tulisan belakang truk dalam satu obrolan. Tidak ada yang menganggap hubungan kami aneh.
Padahal hal itulah yang membuatku semakin tenggelam sampai seperti yang sekarang ini.
***
Siang harinya Mas Bhre datang ke mejaku sambil membawa kopi takeaway.
“Selamat ulang tahun sekali lagi.”
Aku berdiri refleks. “Makasih, Mas.”
Dia mengulurkan tangan, dan aku menyambutnya. Hangat. Telapak tangannya selalu hangat. Sesederhana itu saja sudah cukup bikin seluruh kekacauan di kepalaku sedikit mereda. Mungkin masih belum terasa ‘spesial’, tapi badai di otak dan hatiku perlahan mereda.
“Kamu makin tua sekarang,” katanya santai.
“Mas lebih tua.”