Begini Saja Sudah Bahagia

Nikodemus Yudho Sulistyo
Chapter #21

Runtuh

Sungguh, aku tidak tahu bagaimana semuanya bisa terjadi. Apa yang membuat diriku akhirnya merasa hancur berantakan, lebih dari kehancuran biasanya. Pemicunya padahal biasa saja, tetapi hatiku saat ini seperti sudah tak dapat membendung derasnya serangan. Dengan sembrono dan cenderung nekat, aku memutuskan untuk melepaskannya, membuka keran, mengalirkannya bebas.

Hari itu kantor sudah agak sepi ketika aku memberanikan diri mendatangi mejanya. Jantungku berdetak terlalu keras. Aku masih tidak yakin kenapa aku melakukan ini. Tetapi aku sudah terlalu lelah menebak-nebak dan sudah terlanjur pula berdiri di depannya.

“Mas,” sapaku.

Dia mendongak dari laptop. “Ya?”

“Mas, sudah baca WA aku?” kutahan agar tak terdengar bergetar.

“Belum,” jawabnya pendek.

Jawabannya terlalu santai sekali sampai aku goyah sedikit karena tak menyangka ia bakal menjawabnya sedemikian rupa.

“Kok nggak respons?”

Dia diam sebentar. Tidak marah. Tidak defensif. Hanya terlihat lelah.

“Saya belum sempat buka-buka WA. Lagi agak malas pegang HP.”

Jujur, aku tahu itu mungkin benar. Tetapi aku sudah telanjur emosional. Aku sudah menunggu terlalu lama, berprasangka yang entah apa, berekspektasi yang juga entah apa.

“Aku cuma bingung aja.”

“Maksudnya?”

“Kok Mas jadi kayak hilang gitu.”

Dia menatapku beberapa detik, lalu berkata pelan, “Memangnya kamu mau respons seperti apa, Vi?”

Jawaban Mas Bhre langsung membuat langit runtuh tepat di situ dan jatuh tepat di kepalaku. Itu karena aku sadar tidak punya jawabannya. Di saat itu pula aku dipaksa untuk mendengar isi kepalaku sendiri dengan jelas. Aku ingin dianggap spesial. Aku ingin dicari. Aku ingin dirindukan. Aku ingin diprioritaskan. Padahal dia tidak pernah menjanjikan semua itu. namun, mana mungkin aku meneriakkan itu semua.

“Aku nggak tahu, Mas,” jawabku pelan sekali.

Dia mengembuskan napas kecil, “Kalau kamu nggak tahu, apalagi saya.”

Kalimat itu sederhana. Tidak kasar. Bahkan tidak terdengar marah. Tetapi justru karena itulah aku mendadak sadar sepenuhnya.

Ah.

Jadi memang benar, aku tidak sepenting itu. Yang hidup di dunia andai-andai selama ini ternyata cuma aku sendiri.

Wajahku panas sekali rasanya.

Okay,” kataku cepat. “Aku minta maaf, Mas. Berlebihan.”

Aku langsung pergi sebelum dia sempat bicara lagi.

Dan malam itu, untuk pertama kalinya semenjak aku mulai merasakan kedekatan dan keterikatan dengan Mas Bhre aku merasa patah hati terhadap seseorang yang bahkan tidak pernah menjadi pacar atau kekasihku.

Aku duduk sendirian di lantai apartemen sambil melihat lagi foto-foto Tanjung Pinang. Foto baju hijau itu. Foto bak kut teh. Foto pantai. Video ferry. Semua yang dulu membuatku merasa hidup sekarang berubah jadi benda tajam yang menusuk pelan-pelan.

Yang paling menyakitkan bukan karena Mas Bhre jahat, tapi malah karena dia baik. Terlalu baik. Semua perilaku dan tindakannya cukup baik untuk membuatku merasa dilihat, tetapi tidak cukup untuk mencintaiku.

Nyatanya, situasi ini jauh terasa lebih menyakitkan daripada ditolak mentah-mentah karena meskipun aku merasa begitu disakiti olehnya, aku tidak punya alasan untuk membencinya. Akhirnya, aku cuma bisa membenci diriku sendiri.

Aku marah karena sudah berharap terlalu jauh. Aku malu karena merasa spesial hanya karena beberapa percakapan hangat, beberapa foto bersama, beberapa perjalanan kerja, beberapa meme bodoh tengah malam. Namun, di saat yang sama aku juga kesal pada dia. Sangat kesal. Karena bagaimana mungkin seseorang bisa hadir sedemikian besar dalam hidup orang lain lalu tiba-tiba mundur pelan-pelan seperti tidak terjadi apa-apa?

Aku merasa konyol, menyedihkan. Seperti remaja SMA yang salah mengartikan perhatian gurunya sendiri.

Dan yang paling menyakitkan lagi, jauh di dalam hati, aku masih berharap kalau besok dia akan datang ke mejaku sambil bercanda seperti biasa, lalu semuanya kembali normal. Padahal mungkin tidak akan pernah normal lagi.

 

***

 

Lihat selengkapnya