Begini Saja Sudah Bahagia

Nikodemus Yudho Sulistyo
Chapter #22

Roller Coaster

Aku mulai menyadari betapa anehnya cara otak dan emosi bekerja. Rasanya seperti roller coaster yang tidak pernah meminta izin sebelum menukik jatuh. Selama hampir dua tahun bekerja di Felicity, perasaanku terhadap Mas Bhre berubah bentuk berkali-kali, berevolusi, sampai aku sendiri tidak tahu lagi mana yang nyata dan mana yang cuma narasi yang kubangun diam-diam di kepala.

Awalnya sederhana. Aku cuma senang bisa satu kantor dengan laki-laki yang dulu diam-diam kusukai sejak SMA. Lalu berubah jadi rasa bangga karena ternyata aku bisa bekerja dekat dengannya, bahkan dipercaya. Setelah itu semuanya makin kacau. Aku mulai merasa bahagia dengan cara yang aneh, terlalu aneh untuk dijelaskan. Bahagia karena bercanda soal stiker truk. Bahagia karena dibalas story WA. Bahagia karena dipanggil “Vi” dengan nada suara khasnya yang tenang tetapi ringan itu. Bahagia karena dia hafal aku suka kopi apa, hafal kalau aku suka ngemil keripik rumput laut saat revisi laporan, hafal kalau aku makin cerewet kalau deadline berubah mendadak.

Lalu muncul harapan, kemudian muncul rasa takut. Lalu aku menjaga diri. kemudian aku kembali bahagia. Lalu semuanya runtuh.

Paling menyebalkan adalah, bahkan setelah aku memutuskan untuk berhenti berharap, tetap saja ada godaan-godaan kecil di dalam kepala.

Mungkin Mas Bhre sadar aku menjauh.

Bagus lah kalau begitu. Biar dia tahu rasanya kehilangan partner seseru aku.

Lalu beberapa detik kemudian aku langsung ingin menampar diri sendiri.

Memangnya aku siapa? Kami tidak punya hubungan khusus. Tidak ada status. Tidak ada janji. Tidak ada pengkhianatan. Tidak ada apa-apa selain kedekatan yang mungkin cuma berarti besar di pihakku saja.

Aku terus mengulang kalimat itu di kepala seperti doa.

Kamu bukan orang penting di hidupnya, Vi. Kalaupun iya, itu tidak relevan. Lebih baik kamu fokus ke tujuan. Jangan attached lagi, jangan berharap lagi, juga jangan bikin narasi lagi. Jadilah dirimu sendiri lagi.

Masalahnya, aku bahkan sudah lupa diriku sendiri seperti apa sebelum semua ini terjadi.

Di kantor, aku mulai memaksakan diri menjaga jarak dengan berdarah-darah. Kubikelku sebenarnya masih punya sudut pandang langsung ke arah ruang kerja Mas Bhre kalau aku sedikit menoleh ke kanan. Dulu aku sering tanpa sadar melihat ke sana. Sekadar memastikan dia datang atau belum. Sekadar melihat siluetnya berjalan sambil membawa kopi. Sekadar melihat rambutnya yang selalu agak berantakan menjelang sore.

Secara ekstrem sekarang aku bahkan memutar posisi duduk sedikit miring supaya tidak perlu melihat ke arah sana.

Kalau tidak ada keperluan kerja, aku tidak pergi ke pantry saat tahu dia ada di sana. Aku menunggu suara langkahnya menjauh dulu baru keluar ambil minum. Aku berhenti membuka story WA-nya. Aku juga berhenti upload story kecuali hal-hal berhubungan dengan pekerjaan. Presentasi. Foto rapat. Screenshot revisi. Itu pun masih dilihat olehnya seperti tidak ada apa-apa.

Pesanku yang terakhir bahkan belum dibaca sampai sekarang.

Lucunya, justru karena aku menghindar, aku jadi makin sadar terhadap keberadaannya. Aku bisa mengenali suara tawanya dari ujung ruangan. Bisa tahu dia datang hanya dari suara langkah loafer-nya yang khas. Bisa tahu dia baru masuk kantor dari aroma kopi hitam dan parfum samar yang terbawa AC pantry.

Aku benci diriku sendiri karena itu.

“Vi, lu kenapa sih akhir-akhir ini murung?” tanya Rara waktu kami makan siang di food court dekat kantor.

“Aku capek aja.”

“Capek muka kamu tuh beda,” kata Celine sambil menunjuk sendok ke arahku. “Ini mah muka orang habis putus.”

Aku langsung tersedak the obeng.

“Anjir, lebay,” protesku.

“Tapi bener,” kata Rara yang baru gabung sambil bawa mie ayam. “Kamu kayak orang lagi nahan nangis dari pagi.”

“Kurang tidur,” jawabku cepat.

Celine tertawa kecil. “Kurang tidur apa kurang disapa?”

Aku langsung melotot. “WOI!”

Lihat selengkapnya