Begini Saja Sudah Bahagia

Nikodemus Yudho Sulistyo
Chapter #23

Requiem

Gereja Katolik itu penuh sejak sore, bahkan sebelum misa requiem dimulai. Aku baru sadar betapa luas lingkaran hidup Mas Bhre dan istrinya ketika melihat begitu banyak orang datang dengan wajah duka yang sungguh-sungguh. Anak-anak kantor Felicity datang hampir lengkap. Orang kantor pusat juga ada. Beberapa wajah tampak familiar dari foto-foto lama yang pernah kulihat diam-diam di media sosialnya. Mantan murid SMA-nya yang juga merupakan beberapa teman lamaku. Mantan mahasiswa bimbingannya waktu jadi dosen dulu, yang juga beberapa kukenal. Tetangga. Saudara. Orang gereja. Bahkan beberapa orang tua yang mungkin dulu mengenal istrinya sejak kecil.

Dan di tengah semua itu, aku merasa tubuhku kosong.

Aku berdiri bersama Celine dan Rara di sisi kiri gereja sambil menggenggam buku misa yang bahkan tidak sanggup kubaca. Tanganku dingin sekali. Jantungku berdetak lambat, berat, seperti dipukul pelan-pelan dari dalam.

Dulu aku melihat dengan jelas keharmonisan dan kehangatan pasangan itu di gereja ini, sekarang, aku harus menjadi saksi bahwa keduanya telah dipisahkan oleh Tuhan.

Di depan altar, peti jenazah berwarna cokelat tua diletakkan dengan bunga putih mengelilinginya. Lilin-lilin besar menyala tenang. Salib tergantung di atas altar dengan cahaya kekuningan yang membuat suasana gereja terasa hangat sekaligus menyakitkan.

Aku akhirnya melihat istrinya untuk pertama kali sedekat ini. Dan itu menghancurkanku.

Ia masih terlihat cantik, sangat cantik bahkan. Kalau kuingat-ingat, kulitnya memang pucat sejak dulu. Begitu juga kata orang-orang kantor yang lebih sering berinteraksi dengan sang mendiang. Sekarang kepucatannya hanya terlihat lebih dingin, lebih diam. Rambut hitamnya dirapikan dengan sederhana. Wajahnya tenang sekali, seperti sedang tidur setelah kelelahan panjang yang tidak tertahankan.

Aku mendengar bisik-bisik kecil di belakang.

“Kankernya ternyata udah lama.”

“Autoimmune-nya juga bikin drop terus katanya.”

“Masuk ICU bolak-balik beberapa tahun terakhir.”

“Kasihan Bhre...”

Leukemia, kata seseorang pelan. Sudah bertahun-tahun naik turun. Sempat membaik, lalu drop lagi. Tubuhnya makin sulit menerima pengobatan. Infeksi kecil saja bisa berbahaya. Beberapa bulan terakhir rupanya jauh lebih buruk daripada yang diketahui orang kantor.

Aku ingin muntah lagi mengingat semua prasangkaku sendiri.

Semua marahku, semua sakit hatiku, serta semua tuduhanku yang kuarahkan kepadanya diam-diam.

Aku menoleh ke arah bangku paling depan. Mas Bhre duduk di sana. Aku melihat laki-laki itu benar-benar hancur. Tidak hanya capek, tidak hanya terlihat lelah, tetapai runtuh. Ia masih rapi, tentu saja. Rambutnya tetap disisir walau sedikit berantakan di bagian depan. Kemeja hitam polosnya licin. Bahunya tetap tegak. Bahkan wajahnya masih setampan biasanya dengan cara yang menyakitkan itu.

Tetapi sepasang matanya...

Lihat selengkapnya